Posts Tagged ‘menikmati’

Setelah Selesai #NulisRandom2017

July 1, 2017

“Kita cenderung lupa bahwa kebahagiaan tidak datang dari mendapatkan sesuatu yang tidak kita miliki, melainkan dengan mengakui dan menghargai apa yang kita miliki.” Frederick Koenig

Kata-kata mas Frederick diatas memacu saya untuk menuliskan paling tidak satu saja hal yang baik yang membuat saya bersyukur juga bahagia selama mengikuti #NulisRandom2017 ini. Banyak hal yang mengajarkan pada saya bahwa kebaikan selalu mengikuti dan bersama dengan kita, tergantung cara pandang dan hati kita melihatnya.

Beberapa hari bergulat mengejar waktu sebelum jam 12 malam harus sudah posting tulisan itu adalah sebuah keindahan yang memacu saya untuk terus berada di jalur yang tersedia dengan baik. Terimakasih buat mas Brilliant Yotenega dan juga @nulisbuku, kali ini saya kembali berhasil menyelesaikan proyek ini setelah dua tahun yang lalu ikutan juga.

Salam Sejahtera semuanya!

#NulisBuku2017 #HariKe30 #SetelahSelesai #menulis

Ngopi Adalah Sebagian Dari Iman

September 16, 2016

​Sekejap membuka mata pagi ini dan rasa kantuk masih menyergap di antara bantal dan selimut yang masih setia menemani. Sayup dari kamar sebelah terdengar anakku sudah mendengarkan suara lagu dari radio kesayangannya. Ah, puji Tuhan aku masih hidup. Kuturunkan kaki dan melangkah menuju dapur hendak mengisi perut dengan air putih, disambut dengan suara Mami mertuaku, “Moos, air galon habis diganti!” , ah…masih ada orang tua yang menyayangi, Puji Tuha kembali. Istriku bangun dan menyusulku, mendaratkan pelukan dan ciuman kecil dipipi, ah…betapa aku beruntung di kelilingi orang-orang yang mencintai. Selesai kuganti air galon, ku seduh kopi sachet sisa terakhir minggu ini, Puji Tuhan masih begitu banyak nikmat yang kumiliki.

Sembari menunggu mereka mandi, kunikmati pelan kopiku dan menengok social media yang terpasang di telepon genggam dan kucek ada notifikasi yang menyukai postinganku semalam. “Good things are coming, keep growing” ya benar, semua hal yang baik akan tetap datang, tetaplah bertumbuh. Bertumbuh, tetap hidup dan terus berubah dalam kebaikan, tetap berharap meskipun keadaan tidak seindah bayangan, terus berusaha dan mencari karena pasti akan menemukan. Tetap menjalani kehidupan karena ada kuasa besar yang sudah men-setting sedemikian rupa kisah dan perjalanan yang harus saya lalui.

Apalah saya dibandingkan kebaikan-Nya yang senantiasa ada? Ucapan syukur saya mestinya mengalir bukan karena keadaan, keberuntungan dan kenikmatan saja. Setiap hal yang baik sudah di siapkan untuk saya nikmati, setiap hal yang buruk di ijinkan untuk saya lewati yang berguna mendewasakan dan menguji, memposisikan untuk menggantungkan kelemahan dan kekurangan saya. Pemazmur menuliskan, “Semoga kebaikan dan kejujuran mengawal aku, sebab aku berharap kepada-Mu.” (Mazmur 25:21 BIS). Jujur saya tidak mampu, saya bukanlah sekuat yang terlihat, jika tanpa kebaikan-Nya yang mengawal saya setiap hari saya tidak akan mampu untuk terus berharap. Berharap bahwa dengan saya percaya, saya tetap terus dan selalu mendapatkan bagian saya. 
Kebaikan-kebaikan kecil pagi ini adalah kebaikan-kebaikan besar yang tersembunyi untuk dibukakan dan di nyatakan menjadi bukti. Bukti bahwa Dia memang tidak pernah menegakan dan meninggalkan saya.

Ah, maturnuwun Gusti kopi saya habis di seruputan terakhir menyisakan ampas hitam yang akan terbuang. Tapi kebaikan-Nya tak pernah menjadi sisa dan terbuang. 

Selamat akhir pekan, jangan lupa ngopi. Karena ngopi adalah sebagian dari iman, hehehehehe!

Bunga Pepaya

October 4, 2015

Jadi ingat kata pak Sixtus pengemudi dari Cikarang kemarin sewaktu dalam perjalanan pulang. Sejak dia mendapatkan rumah untuk dicicil dia mulai menanam banyak tanaman didepan rumahnya. Dari kelapa kuning , mangga, jambu dan juga ada pot-pot kecil berisi cabe dan lain-lainnya. Katanya, “kalau kita menanam pohon bung…kita akan awet hidupnya. Kenapa? Karena kita terus berharap untuk melihat tanaman kita berbunga dan berbuah, apalagi bisa menikmatinya….bukan begitu bung?” (Coba baca pakai aksen orang timor-flores gitu biar dapat feelnya) hahahahaha….

Jadi malam ini saya sempatkan untuk memanen bunga pepaya didepan rumah. Iya, itu pohon pepaya yang hanya keluar bunganya menjulur panjang bukan keluar bunga yang kemudian berubah jadi buah. Dulu pas awal pindahan rumah pohon pepaya kecil yang saya temukan hampir mati saya pindahkan dan sengaja tanam didepan rumah, melalui proses survival yang memakan waktu beberapa bulan akhirnya bisa bertahan bertumbuh dan sudah beberapa kali dipanen bunga-bunganya untuk dimasak. Bahkan sebulan yang lalu kerabat dari Depok datang menjenguk dan pulangnya membawa bunga pepaya juga.

Tinggal menunggu besok Oma akan memasaknya. Oseng-oseng bunga pepaya dengan ikan teri …. Beeuuuuhh…pedas dan nikmat disantap dengan nasi panas. Hmmmm….mantap bukan? Jadi memang tidak sia-sia menanam pohon dan buah-buahan di sekeliling rumah kita. Dapat hasilnya dan berumur panjang. Nanam yuk….

image

130413/MAKAN

July 30, 2013

Menikmati makanan? Seperti apakah kiranya? Apakah dengan harga yang mahal atau murah, apakah dengan suasana syahdu nan romantis dan berkelas atau sekedar nongkrong diwarung tenda pinggir jalan? atau mungkin juga karena rasanya yang “maknyuss” atau “huekcuss” …
Saya berani bilang itu relatif.

Mengapa? Karena saya malam ini melihat seorang penjual makanan asongan begitu lahap (entah karena lapar atau enak) menikmati sepotong roti bakar dan segelas minuman seharga seribuan, dengan duduk bersandar pada tembok kotor pinggir terminal tampak itu adalah hal yang sangat membuat iri saya.

Mengapa saya iri? Kadang saya kurang atau bahkan tidak bersyukur, masih mengeluh dengan makanan yang bisa saya nikmati setiap hari. Begitu banyak alasan yang selalu bisa saja dilontarkan, entah kurang lauk, nggak cocok sayurnya, enggak enak rasanya, dan seterusnya anda juga bisa menambahkan….

Teringat telpon istri saya sore ini yang bertanya, “papi mau apa? Aku sedang di warungnya si engkoh Surya?” Hmmm….rasanya sangat kontras dengan apa yang saya lihat malam ini. Seperti Doa Bapa Kami yang mestinya selalu bisa menyadarkan kita, “berikanlah pada hari ini makanan kami yang seckupnya” bukan berlimpah dan terbuang nggak termakan sia-sia atau kekurangan dan membuat perut kami tersiksa menahan lapar.

Syukur kami padaMu Tuhan dan ampunilah kesalahan kami jika kami masih mengeluh dengan nasi keras, lauk kurang, sayur dingin dan kerupuk yang melempem. Amin.