Posts Tagged ‘ketenangan’

39 Kebahagiaan

June 27, 2017

“Kalau bersyukur adalah pusat hidupmu, kamu akan hidup dengan bahagia”

Jadi kalau saya masih di ijinkan menikmati kehidupan, artinya hari ini saya sudah bertambah lagi umurnya, padahal yang  sebenarnya adalah justru berkurang jatah umurnya dibumi ini. Ijinkan saya menuliskan berbagai hal yang saya rasakan dan nikmati sampai di usia ini.
1. Saya bahagia masih punya orang tua yang lengkap, bapak dan ibu karena tanpa mereka tentu saja saya tidak ada.

2. Saya bahagia memiliki istri yang nggak cuma cantik , dia adalah suporter utama dalam hidup saya.

3. Saya bahagia punya anak perempuan satu-satunya yang asyik. Suatu hari waktu dia bergelayutan manja saya bertanya, “kalau kamu sudah besar masih mau cium papi nggak?” Jawabnya, “ya iyalah pap!” Ah, melegakan hati.

4. Saya bahagia punya mertua yang jadi ibu saya, bersama sejak kami menikah, dari saya ditolak sampai sekarang tiap kali masak selalu di tanya, “mau masak apa hari ini?” 

5. Saya bahagia masih diberikan pekerjaan. Pekerjaan di tempat baru setelah tempat kerja yang lama harus di tutup.

6. Saya bersyukur mendapatkan training ilmu yang baru untuk sekolah yang baru nanti. 

7. Saya bersyukur bisa bertumbuh di JPCC dan juga di DATE.

8. Saya bersyukur berkesempatan menuliskan apa yang saya alami hari ini.

9. Saya bersyukur bisa menikmati pepaya hasil dari menanam sendiri.

10. Saya bersyukur meskipun sering pegal dan linu di tulang bekas tabrakan waktu itu, tangan saya masih kuat mengangkat galon air.

11. Saya bersyukur masih bisa tidur nyenyak.

12. Saya bersyukur memiliki cicilan rumah, meskipun hingga bulan ini hanya kebaikan Tuhan saja yang menyelamatkan kami untuk mencicilnya. Kami tidak kehujanan dan kedinginan.

13. Saya bersyukur masih dapat THR meskipun seharusnya jatahnya nanti di bulan Desember, karena kebaikan pak bos yang punya sekolah lama masih dibagikan juga buat saya. 

14. Saya bersyukur masih bisa makan, saya tidak berkekurangan dengan berkat makanan hingga hari ini.

15. Saya bersyukur memiliki motor yamaha mio gt yang menemani kemana saja kami pergi, jatuh dan tabrakan berkali-kali dan tetap baik-baik saja.

16. Saya bersyukur bulan ini dapat empat baju baru, saya nggak kekurangan pakaian.

17. Saya bersyukur bisa menikmati kopi saset murah sampai kopi mahal yang di mall.

18. Saya bersyukur ternyata punya empat pasang sepatu, bahkan ada sepasang sepatu yang hampir tujuh tahun lalu masih layak di pakai.

19. Saya bersyukur dapat tas punggung bekas pakai adik dulu buat kerja, masih bagus dan bisa muat banyak.

20. Saya bersyukur dua adik-adik saya semangat mendukung dan mengasihi saya apa adanya. 

21. Saya bersyukur bahwa salah satu kemewahan hidup itu menikmati mie instant dengan telor dan sayuran plus sedikit pedas di makan pas lagi hujan. Enak banget!

22. Saya bersyukur meskipun hape saya belum 4G dan kapasitas RAM/ROMnya kecil masih bisa online dengan paket hemat yang membantu saya posting di akun medsos.

23. Saya bersyukur dibelikan golok baru oleh istri saya seharga 125ribu, golok dari penjualnya orang Cirebon tukang asah dan gerinda keliling ini sangat membantu saya merapikan pohon-pohon disekeliling rumah.

24. Saya bersyukur mendapatkan kebaikan dari DATE Leader saya sebotol minyak zaitun dan minyak kelapa murni untuk membuat saya tetap sehat.

25. Saya bersyukur banyak mendapatkan bantuan secara finansial dan lainnya dari teman DATE, Adulam, sanak saudara dan bahkan orang-orang yang tidak kami kenal.

26. Saya bersyukur dengan buku-buku yang saya miliki, meskipun belum banyak nambahnya tapi bisa jadi bahan bacaan yang menyenangkan.

27. Saya bersyukur bisa menulis di blog yang mewadahi kecintaan saya membagikan perasaan dan pengalaman lewat tulisan.

28. Saya bersyukur anak dan istri saya menyukai buku-buku dan menulis, paling tidak membuatnya senang dengan bacaan yang menjadikannya lebih banyak ilmu dan pengetahuan.

29. Saya bersyukur anak saya masuk di bagian siswa berprestasi dikelasnya.

30. Saya bersyukur istri saya tetap menguatkan diri dan terus bersemangat menanti pekerjaan baru.

31. Saya bahagia bisa menikmati kerokan dan pijitan dari istri saya.

32. Saya bahagia meskipun saya tidak menyukai tomat, terong dan oyong, sayuran yang lain tetap oke buat saya. Pete dan jengkol juga nggak suka sih, hehehehe!

33. Saya bahagia bisa berbagi baju bekas pantas pakai saya buat tukang sampah dikompleks perumahan.

34. Saya bahagia bisa mengikuti #NulisRandom2017 di bulan Juni ini.

35. Saya bahagia bisa membelikan kado kenaikan kelas buat Abby yaitu sebuah Alkitab baru untuk anak-anak.

36. Saya bahagia karena akan mentraktir makan siang istri, anak dan mertua saya sebagai perayaan sederhana di ulang tahun saya.

37. Saya bahagia meskipun ulang tahun kali ini tidak ada kue dan tiup lilin, namun pelukan dan ciuman dari istri, anak dan mertua adalah berkat yang pertama di pertambahan umur saya.

38. Saya bahagia karena saya pasti masuk surga di dalam percaya dan iman saya pada Yesus Kristus Tuhan, haleluya!

39. Saya bahagia dan bersyukur karena saya memilih untuk bahagia dan bersyukur, itu saja!

Advertisements

Ganti Saklar

June 23, 2017

Dan ternyata sampai tiga hari dua malam lampu dikamar terus menerus menyala tidak bisa dimatikan. Kenapa? Karena saklar on-off nya tiba-tiba tidak bisa dimatikan. Sewaktu sebelumnya sih bisa kembali lagi normal. Tapi kali ini ternyata tidak. Sampai akhirnya saya membeli sebuah saklar yang baru. Masalah baru pun muncul, karena sewaktu membuka saklar yang lama sangat mudah dan terlihat jelas cara memasangkan kabelnya, sedangkan saklar yang baru saya sampai bongkar dan bingung bagaimana caranya memasangkan kabel disaklarnya. Jadilah berkali-kali trial and error dan kemudian karena jengkel saya diamkan saja beberapa lama. Saya minum air dingin dan menenangkan diri kemudian dengan perlahan mencoba kembali, sampai akhirnya berhasil juga melakukannya. Saklar terpasang dengan baik. Lampu kembali bisa dinyalakan dan dimatikan, dan istri say bisa tidur dengan nyaman dan nyenyak.

Nampaknya sepele dan sederhana hanyalah sebuah perkara penggantian saklar saja, ternyata buat saya adalah sebuah pelajaran berharga. M. Scott Peck menuliskan sebuah quote yang menarik seperti ini, “yang benar adalah bahwa saat-saat terbaik yang paling mungkin terjadi ketika kita merasa sangat tidak nyaman, bahagia, atau tidak puas. Karena hanya di saat-saat seperti itu, didorong oleh ketidaknyamanan kita, bahwa kita cenderung untuk melangkah keluar dari rutinitas kita dan mulai mencari cara yang berbeda atau jawaban yang lebih benar.” Dan memang benar sekali buat saya, ketidaknyamanan yamg terjadi mengajarkan saya melakukan penyelesaian masalah dengan cara lebih tenang sehingga selesai dengan baik.

Dan memang Tuhan selalu punya cara bahkan hal-hal yang unik untuk mengajarkan kita sesuatu. Seperti juga kata Victor Frankl, ” Ketika kita tidak lagi mampu mengubah situasi, kita ditantang untuk mengubah diri kita sendiri.” Menjadi lebih tenang dan menguasai diri, membuat perubahan pada pribadi kita sehingga mampu melakukan perbaikan yang lebih baik. Kalau belum pernah mengganti saklar lampu, sekali-kali anda bisa mencoba dan menikmati prosesnya ya!

Jadi Kita SapiNya?

May 23, 2017

Matius 11:28-30 (BIMK)  

Datanglah kepada-Ku kamu semua yang lelah, dan merasakan beratnya beban; Aku akan menyegarkan kamu. Ikutlah perintah-Ku dan belajarlah daripada-Ku. Sebab Aku ini lemah lembut dan rendah hati, maka kamu akan merasa segar. Karena perintah-perintah-Ku menyenangkan, dan beban yang Kutanggungkan atasmu ringan.”

Bicara membajak pasti yang disinggung adalah tanah yang akan dibajak. Tanah yang keras yang harus dibolak balik dan dihancurkan supaya rata, biasanya di ibaratkan sebagai hati kita. Dimana Tuhan hendak mengubahkan kehidupan maka tanah alias hati inilah yang harus diubahkan.

Tapi kali ini, perenungan kami mendapatkan sebuah pandangan yang berbeda, bagaimana dalam prosesnya itu kita bukanlah tanahnya melainkan kita yang jadi sapinya? Tuhan Yesus mengatakan dalam Matius 11:29-30 (TB)  “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” Kemudian kami memproses ini menjadi sebuah pengertian baru yang memang menyegarkan.

Pertama bahwa kami ini ibaratnya seperti sapi, sepasang sapi atau lembu yang harus dipasangi kuk/bajak. Kami harus berjalan bersama, tidak boleh mengeluh karena beban berat “dipundak” ini tidak akan tahu sampai kapan akan dibuka, atau menunggu sampai selesai masa membajak dan gembur tanahnya. Belajar memakai kuk adalah belajar tentang kepasrahan, penundukan diri, menuruti dan mengikuti Sang Petani yang mengendalikan bajaknya. Hasilnya adalah ketenangan. Hah…ketenangan? Kami pikir ini adalah luar biasa, disaat penuh tekanan dan hanya belajar memasrahkan diri kami justru menemukan ketenangan. Ini adalah sebuah metode “pembebasan” yang dahsyat.

Yang kedua, Tuhan bilang kuk yang di pasang itu enak. Kami mendapat bahwa kami punya hal untuk menikmati. Dan itu kadang gagal dilakukan dengan sebenarnya. Menikmati kehidupan adalah bukan sekedar melupakan masalah, berpura-pura cuek dan santai atau nggak peduli. Menikmati yang sesungguhnya bahwa setiap hal yang di ijinkan terjadi itu adalah sebuah kebaikan. Boleh jadi keuangan, karir pekerjaaan, keluarga, kesehatan dan berbagai hal masalah ada terjadi tapi itu tidak bisa melepaskan kami dari hal yang bisa kami nikmati. Masih cukup makan, masih bisa melakkukan berbagai hal, dukungan dan dorongan berbagai pihak, bantuan dan berkat yang tidak terhitung dan terduga datangnya. Betapa semuanya adalah kenikmatan yang sejatinya Tuhan sediakan bagi kami para “sapiNya”.

Yang ketiga adalah kami makin kuat ketika menjadi sapi. Kenapa demikian? Membayangkan proses membajak ini mulai dari tanah kering sampai di airi kemudian dihaluskan dengan menggunakan jenis bajak yang berbeda pastilah butih waktu yang tidak sebentar. Dan lagi, kami para sapiNya akan digunakan, akan lelah capek bin kuesel! Melewati lumpur-lumpur yang memberatkan langkah, tapi Dia bilang bebanKu ringan. Ada jaminan yang menyertai bahwa Dia membuat segala sesuatunya lebih mudah di akhirnya. 

Beruntunglah dan mengertilah kami mengapa kami harus menundukkan diri seperti sapi kali ini. Musim membajak kali ini, bukan kami yang dibajak, tapi kami jadi bagian dari proses membajaknya, dan kami adalah sapiNya yang menarik bajaknya. Terimakasih Tuhan untuk menjadikan kami sapiMu.

Tepat Pada Waktunya

March 6, 2017

​Sebenarnya Oma sudah memesan sejak siang, tapi kata penjual gas dan air galonnya mau di antar nanti sore saja. Sampai saya pulang ternyata tidak di antar juga. Setelah istirahat malam ini akhirnya saya mencari (membeli) sendiri saja daripada menunggu besok lagi, dan feeling saya mengatakan harus segera dapat gasnya. Dan benar saja, di tengah Oma lagi memasak bekal buat besok gasnya habis, dan bersyukur sekali pas…tepat pada waktunya gasnya bisa diganti. Yah, meskipun perjuangan memcari gasnya lumayan, dua pangkalan gas tutup, lima warung tidak ada stoknya, dan akhirnya menemukan di sebuah warung kopi rumahan di kampung sebelah yang justru tidak memasang gasnya jadi dagangan di depan warung. 

Tepat pada waktunya itu benar-benar luar biasa. Seperti tepat pas gas habis pas bisa dapat gantinya meskipun harus penuh perjuangan mencarinya. Tepat pada waktunya itu Tepat Pada Waktu-NYA! Selalu ada jawaban dari setiap pertanyaan kehidupan, selalu ada keringanan dan kelegaan dari beban dan masalah. Selalu ada kebahagiaan dibalik penderitaan. Jika saya tetap percaya Tepat Pada Waktu-NYA! 
Mazmur 50:23 (VMD)  

“Barangsiapa memberikan kurban syukur ia menghormati Aku. Dan barangsiapa berjanji hidup benar akan melihat kuasa-Ku untuk menyelamatkan.”

#PelajaranHariIni #MemilihBersyukur #Percaya #SpeakBlessing #TepatPadaWaktuNya

Charger Mati

December 5, 2016

“Berserulah kepada-Ku di waktu kesesakan, Aku akan membebaskan kamu, dan kamu akan memuji Aku.” ​Mazmur 50:15 (BIMK)  

Baru saja pagi tadi membaca ayat ini dan malamnya langsung merasakan ujian “kesesakan” padahal sebenarnya nggak perlu kesal dan emosi, tapi ternyata saya masih manusia. Dua hari lalu laptop masih nyala dengan aman dan biasa saja, eh…sore tadi saya coba nyalakan nggak bisa, charger di colok nggak bisa juga. Akhirnya dengan berujung omelan sendiri say tinggal tidur, berharap setelah bangun semoga sudah bisa nyala. Ternyata setelah bangun…tetap nggak bisa!

Haaaaaaaaahhh!!!
Saya harusnya bisa lebih tenang meskipun sedikit emosi akhirmya di temani istri jalan kaki ke toko terdekat, ehmm…lumayan juga sih jalannya. Gagal alias nggak ada! Lanjut ke mall terdekat, nggak ada juga, akhirnya saya ingat pernah melewati di sebuah ruko yang khusus menjual dan menservis laptop dan komputer, Puji Tuhan…setelah masuk dan dicek ternyata benar chargernya bermasalah alias mati. Hanya dengan dua ratus lima puluh ribu saja…hiks 3x, laptop terselamatkan dan bisa buat kerja lagi. Ditutup dengan makan nasi soto Lamongan sebelum pulang untuk meredakan ketegangan otak, hati dan dompet plus perut. 
Seharusnya saya belajar tenang dan berseru pada Tuhan lebih dulu dibandingkan mengeluh dan marah-marah. Mungkin akan lebih mudah meneukan solusinya, namun Tuhan pasti ijinkan supaya saya semakin menyadari bahwa Dia memegang kontrol sepenuhnya atas segala sesuatu. Saya menemukan pelajaran meskipun harus melewati emosi, capek, lapar dan bolak-balik. Tetap saja Tuhan itu baik!

    Nantikan Jawabannya!

    November 25, 2016

    Sudah sedari kemarin saya mencoba untuk menelpon toko yang menjual air gallon, dua toko tidak bisa atau entah kenapa tidak ada jawaban. Satu lagi toko saya coba telpon jawabannya karena sudah makan dan tidak yang mengantar. Ya sudah, akhirnya tidak memakai air galon tapi yang dikemas dalam gelas plastik saja sementara sampai besok bisa ditelpon dan di antar kerumah galonnya.

    Paginya saya mencoba kembali menelpon semua toko rapi tetap tidak ada jawaban. Ya sudah, semoga seperti beberapa waktu sebelumnya karena tiap beberapa hari pekerja dari toko galon air berkeliling kompleks dengan motor roda tiganya menjajakan air gallon dan air isi ulang. Namun sampai jam sembilan lebih ternyata tidak ada yang lewat. Eh…tiba-tiba ada mobil pikap warna merah yang tidak biasa lewat di depan rumah kok lewat bawa galon air, segera saya teriak dan mobilpun berhenti mendadak. Saya tanya ada air galon yang di jual? Sopirnya menjawan iya, dan kemudian mengambilkan satu galon air sekaligus minta tolong untuk diangkat dan di pasang di dispenser, sambil masang saya tanya ternyata mereka lumayan jauh dari tempat yang tidak biasa sampai di kompleks rumah kita kirimnya. 

    Haaah….Tuhan memang senang memberi pelajaran dengan cara yang luar biasa, selain bersabar danenahan emosi, saya diajar untuk menunggu dan melihat bagaimana caranya Tuhan menyelsaikan masalah. Mazmur 37:7 (BIMK)mengatakan seperti ini, “Nantikanlah TUHAN dengan hati yang tenang, tunggulah dengan sabar sampai Ia bertindak. Jangan gelisah karena orang yang berhasil hidupnya, atau yang melakukan tipu muslihat.” Dan saya masih belum lolos dengan baik untuk menantikan pertolongan dan jawaban Tuhan, bagaimana caraNya Dia bertindak, menggerakkan hati penjual air galon bermobil yang tidak biasa lewat didepan rumah kemudian tiba-tiba lewat dan menjawab kebutuhan air minum kami. Dan selalu, Tuhan itu baik…jawabanNya tepat waktu. 

    Selamat Pagi Oktober

    October 1, 2016

    Selamat pagi Oktober, menikmati pagi ini dengan bangun pagi kemudian bersiap-siap untuk olahraga pagi. Lumayan bisa jalan kaki alias jogging bareng istri Keliling kompleks perumahan juga sekalian belanja di budhe sayur untuk masak hari ini. Perfect bukan? Nggak juga sih…hahahahaha! Tapi indah dan menyenangkan. 
    Pulang dari belanja dan jogging kemudian melanjutkan menikmati berkat selanjutnya yaitu nambal ban motor? Yaah…dari semalam ketahuan kalau ban belakang bocor lagi. Tapi…ternyata sampai di bengkel motor dan dicek kondisi bannya ternyata sudah tidak bisa diselamatkan, dua buah lubang dan gesekan dengan bannya membuat beberapa bagian ban dalamnya tipis dan membahayakan. Jadilah akhirnya di ganti, hanya dengan 40ribu saja sudah diganti dengan ban dalam baru. Yang bikin agak  nggak enak adalah si abang tukang tambalnya bilang, “lumayan ini bisa tahan 2 bulanan lah kira-kira”, yaelah…hahahahaha! Hanya 2 bulan aja ya. Berarti kode untuk ganti ban lunar depan dan belakang harus di siapkan. Semoga gajian bulan depan bisa di bagi buat beli ban baru.
    Yang penting adalah kebaikan Tuhan dan berkatNya selalu menyertai, dalam keadaan bocor ataupun tidak Tuhan itu tetap baik adanya! 

    Hujan itu Baik

    August 7, 2016

    ​Tuhan itu baik, selalu baik dan memang baik adanya. Buktinya malam ini akhirnya kebagian hujan juga, Haleluya! Karena beberapa hari lamanya nggak bisa nyiram tanaman, mesti irit-irit air. Bukannya nggak ada air disumur, masih ada tapi nggak banyak seperti biasanya udah gitu habis dibenerin dan dibersihin pipanya malah airnya ngucur kecil sekali. 
    Bersyukur, malam minggu kemarin akhirnya diperbaiki ulang dan bisa menarik air dari dalam sumur dengan baik kembali. Dan malam ini, meskipin sebentar paling tidak hujannya lumayan menyiram tanaman di depan dan belakang rumah, syukur-syukur bisa nambah isi cadangan air sumur.
    “Tanah itu Kaupelihara dan Kauberi hujan, Kaujadikan subur sehingga hasilnya berlimpah. Sungai-sungai Kauisi penuh dengan air, Kausediakan gandum bagi mereka, ya, begitulah Engkau menyediakannya.”

    Mazmur 65:9 (BIMK). Saya percaya jika Tuhan mampu melakukan kebaikan dan juga mengabulkan doa sekaligus menunjukkan kebaikan-Nya yang telah teruji waktu hingga saat ini. Kalau Daud mengalami kebaikan dan kemurahanNya saya yakin bahwa dengan melihat hal-hal sederhana bahkan hujan sebentar malam ini bisa membawa kebaikan dan juga kekuatan dan ucapan syukur saya atas setiap berkat dan nikmat yang saya rasakan dalam hidup.

    031112/Menyepi Dari Keramaian

    December 3, 2012

    “Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ.” (Matius 14:23).

    Malam sudah mulai datang, saya masih menunggu bus yg saya tumpangi jalan ke jakarta. Saat menengok ke arah kiri dari kaca jendela, saya melihat seorang kakek dengan khusyuk membaca kitab suci diantara dagangan-dagangannya.

    Tempat ini begitu ramai tapi dia menyempatkan diri membawa hati dan pikirannya menyepi sari keramaian dan hiruk pikuk dunia. Bukan hal yg mudah menyempatkan dan menempatkan diri sedemikian rupa.

    Dalam keadaan yang lelah malam ini saya merasakan kesegaran lebih lagi “didalam” saya, bahwa :
    1. Selalu ada kesempatan untuk tinggal tenang dan menikmati kebersamaan bersama Tuhan, kita yg menciptakannya dengan hati, bukan dengan kondisi dan suasana.
    2. Menikmati kesendirian seperti yang Yesus lakukan bukan berarti kesepian, Ia meneduhkan diri dan merecharge kembali bersama BapaNya.

    Simpel saja kelihatannya, namun tidak mudah untuk menerapkannya. Jika Yesus memberikan contoh demikian, maka saya percaya saya bisa melihat, merasakan dan memanfaatkan waktu dimanapun dalam ketenangan dan keteduhan bersamaNya.

    GEMBALA

    November 23, 2012

    “Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang”

    Mazmur 23:2

    Saya mengingat masa anak-anak menjelang remaja, usia sekolah menengah pertama kira-kira, bapak saya membelikan kambing untuk dipelihara. Dan tugas saya setelah pelang sekolah adalah membawa kambing ini menuju lapangan karena banyak teman-teman yang lain juga membawa kambing atau sapinya untuk merumput disana. Atau setelah musim panen kita biasanya juga membawa kambing ke sawah, karena banyak rumput yang bagus, hijau dan muda-muda, mungkin akan terasa lebih segar dan gurih kali ya buat si kambing. Jika ada sungai di dekat kita menggembalakan biasanya kita juga bawa mereka juga ke sungai untuk minum dan sekaligus juga dimandikan.

    Sangat mengesankan, mengenang masa-masa itu, dan membuat saya banyak belajar dari hal sederhana menggembalakan kambing. Pemazmur mengibaratkan Tuhan sebagai Gembala yang baik, yang mengerti keadaan dan batasan domba-dombanya. Saat mereka kelelahan dan kehausan Sang Gembala memberikan waktu untuk istirahat dan menyegarkan diri dengan air yang tenang. Saya merasa bahwa pengalaman yang pernah saya lakukan dulu memang tidaklah berbeda dengan Sang Gembala Agung itu. Dia tidak hanya terus mengejar kerja keras dan usaha terus menerus, Dia juga menyediakan waktu untuk istirahat dan menikmati ketenangan.