Posts Tagged ‘kepuasan’

Setelah Selesai #NulisRandom2017

July 1, 2017

“Kita cenderung lupa bahwa kebahagiaan tidak datang dari mendapatkan sesuatu yang tidak kita miliki, melainkan dengan mengakui dan menghargai apa yang kita miliki.” Frederick Koenig

Kata-kata mas Frederick diatas memacu saya untuk menuliskan paling tidak satu saja hal yang baik yang membuat saya bersyukur juga bahagia selama mengikuti #NulisRandom2017 ini. Banyak hal yang mengajarkan pada saya bahwa kebaikan selalu mengikuti dan bersama dengan kita, tergantung cara pandang dan hati kita melihatnya.

Beberapa hari bergulat mengejar waktu sebelum jam 12 malam harus sudah posting tulisan itu adalah sebuah keindahan yang memacu saya untuk terus berada di jalur yang tersedia dengan baik. Terimakasih buat mas Brilliant Yotenega dan juga @nulisbuku, kali ini saya kembali berhasil menyelesaikan proyek ini setelah dua tahun yang lalu ikutan juga.

Salam Sejahtera semuanya!

#NulisBuku2017 #HariKe30 #SetelahSelesai #menulis

Cinta Dari Dapur

June 28, 2017

“Food is symbolic of love when words are inadequate.” – Alan D. Wolfelt 

Makanan adalah simbol cinta ketika kata-kata tidak cukup, begitu katanya mas Alan diatas. Kalau saya sih percaya banget hal di atas terjadi dalam kehidupan ini, dan memang itulah yang saya alami hari ini. Tadi siang sehabis beres-beres kamar karena banyaknya debu yang sudah nempel disana-sini rasa lapar sudah menyerang dengan sangat. Begitu saya bilang lapar, Mami Mertua saya dengan segera menyiapkan makan siang spesial yang di masaknya dari pagi. Oh iya, spesial buat saya khusus katanya jadi hadiah ulang tahun. Dan nama makanan itu adalah sambel tumpang. 

Mungkin belum banyak yang tahu apa itu sambel tumpang. Sambel tumpang ini adalah masakan dari campuran tempe dan bumbu-bumbu yang dimasak sedemikian rupa hingga menyerupai sup kental. Setelah searching di Mbah Google akhirnya saya menemukan resepnya di cookpad.com, berikut resepnya kalau mau dicoba :

Bahan-bahan : 

1/2 papan tempe semangit (tempe umur 3 hari)1/2 papan tempe baru3 siung bawang putih3 butir bawang merah10 buah cabe rawit (merah dan hijau)2 butir kemiri2 cm kencur2 cm lengkuas, geprek1/2 batang serai, geprek2 lembar daun salam1 lembar daun jeruk500 ml air150 ml santan kental4 buah tahu putih, potong kotak2, gorengsecukupnya garam, gula pasir, merica bubuk, kaldu bubuk
Langkah Memasaknya: 
1. Rebus 500 ml air + tempe + bawang merah + bawang putih + cabe + kemiri + kencur sampai empuk, angkat..tiriskan.. air sisa merebus jangan dibuang
2. Haluskan terlebih dahulu cabe + duo bawang + kemiri + kencur.. disusul dg tempe.. aQ dihaluskan kasar ajj.. biar berasa tekstur tempe’nya
3. Masukkan tempe yg dihaluskan ke air rebusan tadi.. tambahkan bahan geprek + santan + bumbu2 lainnya
4. Nyalakan kembali api kompor.. masak sampai santan mendidih.. masukkan tahu goreng.. masak sampai air agak menyusut..
5. Sajikan dg nasi hangatt 🙂 bisa disiramkan disayur rebus.. atau kacangpanjang dan tambahan lauk lainnya.

Sambel tumpang ini adalah salah satu masakan favorit saya. Biar asalnya ndeso tapi ngangenin dan spesial. Kalau dulu sebelum nikah, ibu saya yang memasaknya, sejak nikah dan saya mengajak mami mertua saya pulang kampung dan dia yang orang Sunda bisa belajar memasak masakan khas Jawa ini jadi seperti masakan ibu saya yang spesial juga buat saya mantunya. Rahasia lainnya adalah mami mertua saya adalah juga jago masak buat catering dijamannya. 

Jadi Cinta Dari Dapur itu sangat nyata dan indah. Dan tentu saja Sambel Tumpang itu spesial. 

Ganti Saklar

June 23, 2017

Dan ternyata sampai tiga hari dua malam lampu dikamar terus menerus menyala tidak bisa dimatikan. Kenapa? Karena saklar on-off nya tiba-tiba tidak bisa dimatikan. Sewaktu sebelumnya sih bisa kembali lagi normal. Tapi kali ini ternyata tidak. Sampai akhirnya saya membeli sebuah saklar yang baru. Masalah baru pun muncul, karena sewaktu membuka saklar yang lama sangat mudah dan terlihat jelas cara memasangkan kabelnya, sedangkan saklar yang baru saya sampai bongkar dan bingung bagaimana caranya memasangkan kabel disaklarnya. Jadilah berkali-kali trial and error dan kemudian karena jengkel saya diamkan saja beberapa lama. Saya minum air dingin dan menenangkan diri kemudian dengan perlahan mencoba kembali, sampai akhirnya berhasil juga melakukannya. Saklar terpasang dengan baik. Lampu kembali bisa dinyalakan dan dimatikan, dan istri say bisa tidur dengan nyaman dan nyenyak.

Nampaknya sepele dan sederhana hanyalah sebuah perkara penggantian saklar saja, ternyata buat saya adalah sebuah pelajaran berharga. M. Scott Peck menuliskan sebuah quote yang menarik seperti ini, “yang benar adalah bahwa saat-saat terbaik yang paling mungkin terjadi ketika kita merasa sangat tidak nyaman, bahagia, atau tidak puas. Karena hanya di saat-saat seperti itu, didorong oleh ketidaknyamanan kita, bahwa kita cenderung untuk melangkah keluar dari rutinitas kita dan mulai mencari cara yang berbeda atau jawaban yang lebih benar.” Dan memang benar sekali buat saya, ketidaknyamanan yamg terjadi mengajarkan saya melakukan penyelesaian masalah dengan cara lebih tenang sehingga selesai dengan baik.

Dan memang Tuhan selalu punya cara bahkan hal-hal yang unik untuk mengajarkan kita sesuatu. Seperti juga kata Victor Frankl, ” Ketika kita tidak lagi mampu mengubah situasi, kita ditantang untuk mengubah diri kita sendiri.” Menjadi lebih tenang dan menguasai diri, membuat perubahan pada pribadi kita sehingga mampu melakukan perbaikan yang lebih baik. Kalau belum pernah mengganti saklar lampu, sekali-kali anda bisa mencoba dan menikmati prosesnya ya!

Hadiah Dan Harapan

June 21, 2017

Satu buah baju batik baru, satu baju lengan pendek baru, satu paket minyak wangi dan sepaket kue dari orang tua murid kemarin diberikan pada saat pengambilan report card. Satu batik khas Madura juga saya dapatkan dari rekan kerja saya. Bahkan baju dan handuk juga saya dapatkan dari rekan kerja yang lain. Beberapa perwakilan asosiasi orang tua murid memberikan bantal kecil tanda perpisahan, juga sepaket kue lagi khusus karena saya mengajarkan budi pekerti. Pemberian-pemberian itu  memang jadi alasan ucapan terimakasih karena selama ini saya mengajarkan anak-anaknya, meskipun ada yang tidak memberikan barang-barang lainnya namun ucapan terimakasih dan pengakuan kerja kami selama ini menjadi kepuasan tersendiri. Pemberian ini juga jadi tanda persahabatan selama kebersamaan kami di tempat kerja ini meskipun harus berakhir. Tidak masalah, karena mungkin takdir berbicara lain. Kami harus menikmati kebahagiaan menjadi pengajar di tempat yang harus berpisah satu sama lain.

Frederik E. Crane mengatakan, “Agar dapat membahagiakan seseorang, isilah tangannya dengan kerja, hatinya dengan kasih sayang, pikirannya dengan tujuan, ingatannya dengan ilmu yang bermanfaat, masa depannya dengan harapan.” Seperti yang dikatakan Frederik, saya berharap apa yang kami kerjakan menjadi kebahagiaan murid-murid kami nanti dimana saja mereka akan berada, berganti sekolah yang barum semoga tangannya mampu mengerjakan dengan terbaik semua tugas, semoga hatinya terpatri dengan kasih sayang yang kami boleh juga berikan. Semoga mereka memperoleh tujuan yang berarti dimasa mudanya. Semoga ilmu yang kami ajarkan bermanfaat dalam hidupnya. Dan semoga harapannya tetap menyala dan terus hidup seperti harapan kami.

Baju, batik dan kue itu menyimbolkan harapan dan kebahagiaan. Karena semuanya diwujudkan dari hati yang bersyukur dengan penuh kekuatan untuk masa depan seperti tulisan O.O. Marden, “Tidak ada obat semanjur harapan, tidak ada pendorong sehebat harapan dan tidak ada tonikum sekuat mengharapkan sesuatu terjadi pada hari esok.”

Mie Ayam Ekspektasi

June 18, 2017

“Kebahagiaan tergantung pada apa yang dapat Anda berikan, bukan pada apa yang Anda peroleh” (Mohandas Ghandi)

Istirahat siang ini hanya setengah jam saja untuk makan. Jadilah saya mencari makanan yang tidak terlalu berat tapi mengenyangkan. Akhirnya pilihan saya jatuh pada mie ayam di samping ketoprak yang ternyata penjualnya satu orang saja. Kalau dilihat sekilas modelnya seperti mie ayam model Solo atau Wonogiri karena penjualnya ketahuan berbahasa Jawa. Jadilah akhirnya saya pesan semangkok tanpa tambahan bakso. Setelah menunggu lima menitan akhirnya matanglah iyi mie dan mulai disajikan didepan saya. Ekspektasi saya sih kayaknya bakalan enak, dan wow…ternyata biasa saja, hahahaha! Agak sebelnya itu adalah harganya yang lima belas ribu rupiah, padahal kalau di depan kompleks harganya hanya sembilan ribu saja tanpa bakso juga, rasanya lebih nendang dan yahud! Bukan bermaksud membandingkan dan nggak terima tapi memang kadang kita nggak bisa selalu mendapatkan yang kita harapkan. 

Kata kamus ekspektasi itu artinya harapan besar yang di bebankan pada sesuatu yang di anggap akan mampu membawa dampak yang baik atau lebih baik atau dugaan. Memang sih harapan saya tidak sesuai dengan kenyataan, karena dalam bayangan saya nikmat mie ayam ini tidak memberi dampak yang begitu wow dilidah dan perut saya. Kecewa sih tidak hanya merasa kurang saja dalam menikmatinya. Karena memang bisa saja terjadi bahwa kita bisa dikecewakan olehnya, namun bukan berarti kita lalu menyerah dan tidak lagi ada harapan. 

Lha ekspektasi makan mie ayam saja jadi bahan buat saya memikirkan ulang ya dengan apa yang akan saya nikmati. Sama juga sih dengan curhatan para orang tua murid kemarin di report card day, dari yang bingung anaknya mau pindah kemana sampai bingung gimana nanti di sekolah barunya plus harapan-harapannya yang akan anaknya dapatkan di sekolah baru nanti. Harapan saya sih jelas bahwa murid-murid saya menikmati di sekolah barunya, mengikuti pelajarannya dengan baik dan makin cemerlang setelah sekian lama kami boleh memberikan pengajaran pada mereka.

Sebuah perkataan yang baik menyatakan seperti ini, “Harapan kita itu seperti jangkar yang tertanam sangat dalam dan merupakan pegangan yang kuat dan aman bagi hidup kita.” Jadi semakin kita kuat bergantung pada harapan yang baik dan benar maka semakin kuatlah jiwa kita untuk memperoleh kebaikan dan kebahagiaan. 

Buka, Bongkar, Buang!

June 13, 2017

“Perubahan dimulai saat seseorang mengetahui langkah selanjutnya.” (William Drayton)

Hari ini sebelum pulang murid-murid saya minta menonton video tentang telur. Mereka senang karena mulai mengerti dan belajar tentang makanan sehat yang salah satunya adalah telur. Video ini menceritakan bagaimana telur diperoleh, dari berbagai daerah dan jenisnya. Dan begitu juga ketika mereka melihat bagaimana telur-telur itu ditetaskan menjadi anak-anak ayam. Ketika telur-telur ini mulai menetas, terjadi retakan dan kemudian muncullah anak-anak ayam yang masih belum bersih hingga sampai akhirnya dipisahkan dan dikumpulkan kembali dalam wadah anak-anak ayam yang bersih. Yang mereka pelajari adalah proses perubahan dari telur menjadi ayam juga melihat bagaimana anak ayam di dalam telur ini berjuang melepaskan diri dari cangkang sampai berhasil melakukannya. Lagi-lagi saya yang selalu belajar, melihat keasyikan mereka dan melihat video ini begitu menarik karena ada proses perubahan dan ketidaknyamanan menjadi sesuatu yang berbeda dan bernilai.

Alan Cohen mengatakan seperti ini, “Dibutuhkan banyak keberanian untuk melepaskan keadaan yang akrab dan tampaknya aman, untuk merangkul hal baru. Tetapi tidak ada keamanan yang nyata dalam apa yang tidak lagi bermakna. Ada keamanan lebih dalam petualangan yang menarik, karena dalam gerakan ada kehidupan, dan dalam perubahan ada kekuatan.” Yups…itulang yang sedang terjadi dan saya alami bahwa butuh benar-benar keberanian melepaskan pekerjaan yang nyaman di tempat ini dan berganti ke tempat yang baru. Ada petualangan yang baru dan menarik dan menyiapkan diri saya dalam perubahan yang penuh kekuatan. Akan cukup berat pasti memulainya nanti, namun jika tidak dihadapi pasti saya tidak akan melangkah menuju perubahan.

Dan perubahan itu di mulai hari ini. Ya, dimulai dari buka, ya…buka lemari karena mau nggak mau sema isinya nanti harus dikosongkan. Buka dompet juga sudah kosong. Bika hati, nah yang ini namanya ikhlas harus selesai disini. Yang selanjutnya adalah bongkar! Bongkar isi lemari penyimpanan semua barang-barang yang di pakai untuk berbagai acara, simpanan kertas-kertas dan lain sebagainya. Lalu pisahkan mana yang masih bisa di pakai dan digunakan untuk selanjutnya. Bongkar juga pola-pola lama, pikiran lama, cara-cara lama yang menghambat majubagi diri saya sambil dalam hati nyanyi, “…oo ya o ya bongkar….”. Dan langkah yang terakhir sudah pasti buang! Buang semua hal yang tidak penting, sisa pensil, krayon, kertas, catatan, dan lain-lain. Buang semua kepahitan, luka, kecewa, sakit hati dan penyesalan karena Tuhan menyiapkan ganti yang lebih baik meskipun kadang sekarang terlihat tidak baik! 

Buka, bongkar dan buang! Pelajaran hari ini untuk saya supaya saya mengalami perubahan dan kemajuan.

Aku Memang Anak Singkong

June 10, 2017

“Senyum adalah cara sederhana dalam menikmati hidup.”

Dan senyum terbaik saya keluar sore ini, bukan karena gajian lebih cepat ditransfer, THR juga bonusnya nggak mampir kok, jualan juga lagi sepi order. Eh…malah curhat. Senyum ini adalah sebuah kerinduan dan keinginan yang akhirnya terjawab, senyum ini terwujud karena saya akhirnya bisa makan singkong goreng!

Apaaaaa? Cuma gara-gara singkong goreng doang terus senyum-senyum sendiri? Well, masalah buat lo? Hehehehe…ya masalah juga kalau dibilang kaya orang stress tadi di jalan senyum sendiri. Ceritanya sudah beberapa hari pengen banget makan singkong goreng. Entah kenapa setiap kali pulang kerja malas aja bawaannya mampir ditukang gorengan, padahal lagi ngiler banget. Nah, hari ini ada acara mengantar anak penyematan sabuk kenaikan tingkat di beladiri yang di ikutinya. Air minumnya habis, jadilah saya turun kebawah dan membelikan air minum, eh…ternyata si tukang gorengan udah jualan aja. Saya lihat kok nggak ada singkongnya, saya tanya saja sama si abang pwnjualnya dan ternyata nunggu sebentar risolnya belum matang. Dan akhirnya saya digorengkan khusus duluan. Obat pengen ini hanya lima ribu rupiah saja!

Dasar lidah ndeso, memang makanan ini pas banget nikmatnya selagi hangat plus semilir angin sore yang menemani karena kopinya lupa beli. Nggak papa yang penting sudah terlampiaskan rindu dendam ini. Penulis kitab kebijaksanaan mengatakan seperti ini, “Kalau harapan tidak dipenuhi, batin merana; kalau keinginan terkabul, hati bahagia.” Jadi wajarlah memang apa yang saya alami ini membuat kebahagiaan tersendiri. 

Eh, singkong goreng aja bisa bikin aku bahagia. Masa kamu enggak?

Sebungkus Syukur

June 8, 2017

“Bersyukurlah untuk apa yang anda miliki, pada akhirnya anda akan memiliki lebih banyak. Jika anda berkonsentrasi pada apa yang anda tidak miliki, anda tidak pernah akan berkecukupan” – Oprah Winfrey

Tigabelas ribu rupiah isinya nasi setengah, sedikit sayur jamur, telor dadar seiris, dua buah tempe goreng dan sambelnya. Tentu saja makan sederhana ini bukan menu restoran, ini jelas makanan warteg dan ini juga yang saya makan hari ini. Enak? Ehm…enak itu memang bisa jadi karena racikan bumbu-bumbu masakannya begitu kental dan terasa, bisa juga enak itu memang terasa begitu wow dilidah, bisa jadi sesuai dengan harganya karena konon harga juga menentukan rasa. Tapi buat saya hari ini, makanan yang saya nikmati ini sangatlah enak, kenapa? karena enak itu dinikmati dengan ucapan syukur. 

Saya mengingat bacaan tentang ucapan syukur atas makanan dalam kisah ini : 
Suatu ketika George Muller yang menjadi  pemilik panti asuhan Ashley Down orphanage di Bristol, England, selama hidupnya telah mengangkat 10.024 orang yatim piatu dan juga pernah menghadapi satu keadaan tidak ada makanan sama sekali padahal waktu makan malam telah tiba. Lalu apa yang kemudian dilakukannya? Dia dan anak-anak asuhannya mulai menata piring, sendok, garpu, gelas dan peralatan makan lainnya di atas meja makan.

Kemudian Muller mulai meminta mereka duduk di tempat mereka masing-masing. Tiba-tiba ada seorang anak bertanya padanya, ”Mana makannya?” dan dengan yakin Muller menjawab pertanyaan anak tersebut, ”Sebentar lagi makanannya akan datang.” Dia kemudian mengajak semua anak-anak berdoa mengucap syukur atas berkat yang telah diberikan Tuhan meskipun makanannya belum ada. Setelah kata  amin yang mereka ucapkan saat menutup doa, tiba-tiba terdengar pintu diketok oleh seseorang dan akhirnya setelah dibuka ternyata mereka mendapatkan kiriman makanan yang cukup banyak. Makanlah mereka semua malam itu. Hal tersebut terjadi berkali-kali. Dan itu adalah hasil dari kuasa pengucapan syukur.

Betapa saya diberkati dan harus bersyukur ketika saya masih bisa makan dengan nikmat. Masih bisa membeli makan. Tidak pernah kelaparan dan kekurangan makanan. Jadi jika saya masih kurang bersyukur dan menikmati apa yang bisa saya makan saya berarti kurang percaya dengan penyertaan dan penyediaanNya. Sebuah perkataan bijaksana mengatakan, “TUHAN memberi makanan secukupnya kepada orang baik, tetapi keinginan orang jahat ditolak-Nya.” Jadi betapa saya selalu dicukupkan olehNya. 

Syukurilah Hidup

June 6, 2017

“syukurilah hidup, karena hidup memberimu kesempatan untuk mencintai, bekerja, bermain dan memandang bintang-bintang” Henry Van Dyke 

Seorang yang bijaksana mengatakan seperti ini, “Tuhan menginginkan setiap orang makan, minum, dan senang dengan pekerjaannya. Karena itu adalah  pemberian dari-Nya”. Jadi hari ini beberapa bagian yang harus saya kerjakan dan nikmati diantaranya adalah :
1. Bersyukur

Bagian ini yang paling penting karena saya masih hidup. Kalau nggak hidup gimana mau nulis dan bersyukur? Bersyukur itu penting karena itu menyehatkan pikiran dan jiwa kita, dengan bersyukur kita menggantikan emosi negatif, khawatir dan keraguan dengan pikiran yang positif dan melihat segala sesuatu dengan baik 
Coba saja kalau saya urutkan dari pagi bangun masih bernafas, ada istri dan anak, mengantar ke sekolah, memberi uang belanja, masih ada pekerjaan, masih bisa beli makan buka puasa, masih bisa naik motor, masih bisa buang air besar lancar, masih dapat dukungan dari teman-teman dan sahabat, masih banyak lagi kalau mau ditulis dibandingan dengan berbagai masalah yang ada.

2. Mencintai

Mencintai adalah bagian yang juga tidak kalah pentingnya. Merasa dicintai Tuhan hari ini, bagaimana tidak coba…saya masih diberi kesempatan hidup, masih diperhadapakan pada kebaikan, masih diberi kesempatan berbagi dan masih boleh menikmati dunia dan isinya. Mencintai keluarga saya, masih ada bapak ibu adik saya dikampung. Mencintai istri saya yang hebat juga anak saya yang manis dan mami mertua yang tiap hari mau masakin mantunya. Mencintai pekerjaan saya menjadi guru. Mencintai, ah…banyak lagi pokoknya!

3. Bekerja

Siapa yang tidak bersyukur dapat bekerja, entah apapun pekerjaannya pastilah semua orang akan berterimakasih bisa bekerja. Kalau belum kehilangan pekerjaan dan merasa pekerjaan itu berguna pasti orang baru akan menghargai pekerjaannya, bukan begitu?  
Apalagi saya, bekerja bukan cuma menghasilkan uang. Bekerja juga ibadah bukan? Yup, ini adalah wujud dari pertolongan Tuhan dalam hidup lewat apa yang kita lakukan jadi sepantasnya kita bersyukur untuk hal ini.

4. Bermain

Eh…udah tua masih main juga? Nggak malu sama anak-anak? Ya enggaklah wong ini kerjaan saya. Eh, maksudnya bagian dari kerjaan saya sebagai guru TK. Jadi bermain dan bekerja sekaligus adalah bagian sehari-hari saya. Nah, minggu sore kemarin juga bermain bersama dengan anak dan istri saya, main kartu uno. Bisa luaaammmmaaaaa selesainya, tapi nagih dan menyenangkan terutama Abby yang menemukan permainan baru.

5. Memandang bintang-bintang

Ah, menyebalkannya malam ini mendung jadi nggak bisa lihat bintang di angkasa sana. Mau lihat bintang yang di botol itu juga….aahahahahaha…terlalu! Ada bintang-bintang kecil di sekitaran kepala saya tadi pas bangun, mungkin inilah rasanya jadi bintang! Hah…jelas bukan, kaget dibangunin harus makan malam ini sih, tapi jelas nanti saya akan tunggu langit cerah dan taburan bintangnya sambil nyanyi dalam hati, “bintang-bintang…berikan cahyamu, taburi hati malam ini…”.

The Zarephath Effect

March 17, 2017

Biar keren aja sih judulnya pakai bahasa Inggris, padahal intinya saya sedang belajar mengaktifkan iman saya dan menaikkan tingkat kepasrahan hidup dalam sebuah bentuk ucapan syukur.

Pagi ini ketika ngopi di warung kecil pinggir jalan, obrolan saya dengan penjualnya membicarakan seputar kenikmatan dan rasa syukur. Iya, macam-macam hal yang kadang itu luput dari ucapan terimakasih kita pada Tuhan. Bisa makan tanpa bingung makan apa dan dimana, ketika makanan apapun itu bentuknya masuk mulut kita adalah hal besar yang sebenarnya Tuhan sedang lakukan dalam hidup kita. Nggak cuma sekedar bikin hidup, nyambung hidup atau bertaham hidup. Makanan itu sesederhana apapun adalah wujud kebaikan Allah yang telah terencana dalam daily plan catatan surga, ya…saya mempercayainya demikian.

Janda Sarfat dengan makanan terakhirnya hari itu mengatakan akan mati kelaparan setelah menikmati roti terakhirnya. Kemudian Elia datang dan memintanya berbagi, ya…meminta bagian meskipun roti kecil saja dari sisa makanan terakhir si janda. Kebangeten? Mungkin iya…tapi tidak dengan rencana surga. Bahwa mujizat dan kehidupannya selanjutnya berubah, si janda tidak mati, bahkan masih bisa masak roti untuk tiga orang sampai beberapa hari. 

Saya belajar dari janda Sarfat ini tentang iman, tentang percaya, tentang kepasrahan, tentang mendahulukan Tuhan, bahkan mungkin mujizat bukanlah hal yang dia inginkan, yang di inginkannya hanyalah terus bisa makan alias bisa hidup. Apalah yang lebih baik dari bersyukur dan menikmati apa yang bisa kita makan hari ini? 

“TUHAN Allah Israel mengatakan, ‘Tepung dalam guci itu tidak akan habis dan minyak dalam kendi tidak pernah kosong. Kendi itu selalu berisi minyak. Hal itu akan berlanjut hingga TUHAN menurunkan hujan ke tanah.’” 1 Raja-raja 17:14 (VMD)