Posts Tagged ‘inspirasi’

Cinta Di Sarapan Pagi

July 2, 2017

“Apapun yang telah kau lakukan untuk dirimu sendiri atau untuk kemanusiaan, jika kau tidak bisa memberikan cinta dan perhatian terhadap keluargamu sendiri, lalu apa yang sudah kau lakukan?” – Elbert Hubbard

“Papi, bikinin aku sarapan dong?” Kata-kata indah yang meluncur dari mulut mungil pagi ini, dengan senyum khasnya meluluhkan hati. Dengan segera saya mengecek nasi di magic jar dan masih aman isinya, sarden yang dimasak Oma tadi malam yang barusan di panaskan juga siap disajikan, sarden pedas pilihan si pumpkin sendiri kemarin sore menemani omanya belanja, dan saya akhirnya menyiapkan tambahan lauk, menggoreng tahu yang tadi pagi saya beli dari Mang tahu bandung yang sering keliling kompleks tiap akhir pekan. Jadilah sarapan sederhana yang dinikmati dengan lahap dan nikmat oleh si pumpkin. 

Bukan makanan yang mahal dan susah kan? Yang mahal adalah disajikan dengan kasih sayang, yang susah adalah berani mengambil keputusan melayani anak dengan kasih sayang dan menyenangkan hatinya. Saya ingin bahwa di masa kecilnya, papinya adalah seorang pria yang dengan penuh cinta memberikan pertolongan sederhana yang akan di ingatnya nanti, seperti pagi ini menyiapkan sarapan untuknya.  Suatu saat dia bisa mendapatkan seorang pria pendamping yang juga menyayangi dan mengasihinya dengan tulus dalam memberikan bukti cinta kepadanya.

Cinta dalam sarapan pagi ini adalah sebuah kenikmatan tersendiri buat saya. 

Advertisements

DITOLAK!

August 31, 2016

​Pernah merasakan di tolak cinta anda? Sudah siap-siap nembak, berbagai cara dan rayuan di siapkan, bunga dan cokelat bahkan kado mungkin jadi senjata, tempat romantis atau suasana khusus yang sengaja dipilih? Oh, yes…ternyata jawabannya adalah, “kita temenan aja yaah…” Hehehehe, tenang saja, saya nggak mau nulis soal cinta-cintaan gitu. Saya mau menceritakan pengalaman sederhana sore ini yang saya, istri dan anak saya alami bersama.

Ceritanya, karena stok telur juga susu Abby habis, jadilah kami pergi ke toko serba ada langganan. Seperti biasa, kalau sudah selesai menata belanjaan di motor, siap-siap pulang, si mami selalu nanya, “ada dua ribuannya?” “Nih…ada” sambil saya ulurkan selembar dua ribuan. Kemudian sambil membelokkan motor ke arah pulang, si mami panggil pak tukang parkir sambil mengulurkan lembaran dua ribuan. Ternyata, sambil mengatur jalan si bapak menjawab, “udah bawa aja…bawa aja”. Yaah, dua ribuan kami ditolak, hahahaha! Kami sempat bingung, padahal setahu saya memang nggak semua motor yang parkir disitu memberi uang parkir. Sehari di bagi dua shift kerja parkir, berapa rupiah yang bisa dia dapatkan seharinya?

Pengalaman di tolak tukang parkir itu jarang-jarang buat saya. Yang ada malah, kalau kita datang nggak nyamperin, giliran mau pulang eh…tiba-tiba muncul nagih. Operasi senyapnya hebat memang ya. Lau Tze menuliskan seperti ini, “Keramahtamahan dalam perkataan menciptakan keyakinan, keramahtamahan dalam pemikiran menciptakan kedamaian, keramahtamahan dalam memberi menciptakan kasih”. Seni keramahtamahan yang saya pelajari kali ini sungguh membuat saya semakin mengerti, bahwa masih ada orang-orang yang menghargai orang lain bukan karena sekedar diberi, bukan karena mengharapkan diberi, bukan karena pekerjaannya lalu menunggu untuk diberi, tapi malahan berani untuk tidak mengambil haknya sendiri. 

Dua ribu mungkin tidak begitu berarti buat kita, saya pikir itu cukup berarti untuk si bapak malam ini menambah penghasilannya, tapi dia relakan untuk menjadi pelajaran buat saya. Terimakasih pak parkir karena uang saya di tolak jadi saya bisa belajar banyak!

“Jadi, selama ada kesempatan bagi kita, hendaklah kita berbuat baik kepada semua orang, terutama sekali kepada saudara-saudara kita yang seiman.” (Galatia 6:10 BIS).

3 Gorengan

June 23, 2016

“Berilah kepada orang lain, supaya Allah juga memberikan kepadamu; kalian akan menerima pemberian berlimpah-limpah yang sudah ditakar padat-padat untukmu. Sebab takaran yang kalian pakai untuk orang lain akan dipakai Allah untukmu.” Lukas 6:38 (BIMK) 

Beberapa hari yang lalu, sepulang dari liburan singkat kami berbagi sekotak kecil kue mochi untuk asisten rumah tangga di samping rumah. Dengan ucapan terimakasih dia berkata lagi seperti ini, “aku kudu mbales piye, kowe karo bojomu senenge menehi aku roti wae…(aku harus membalas dengan  bagaimana, kamu dan istrimu senang sekali membagikan roti ke aku..”

Rintik hujan sore ini belum juga reda, tiba-tiba si asisten rumah tangga ini berpayung datang menghampiri kemudian mengambil seplastik berisi 3 gorengan. “Ini buat si adik kok…aku ambil satu saja”.

Sayup terdengar kemudian suara adzan maghrib tanda berbuka puasa, tapi senja sudah memberikan pelajaran bersahaja. Kebaikan akan terus menjadi kebaikan dan menuai kebaikan. Balaslah kebaikan…seperti 3 potong gorengan sore ini.

image

Sepotong Singkong Goreng Pagi Ini

March 17, 2016

Sepotong singkong goreng saya terima dari tangannya dan sembari saya tatap matanya saya katakan  terimakasih. Bukan makanan yang biasa dibawa oleh anak seusianya di sekolah taman kanak-kanak dimana saya mengajar, menjadi guru. Saya suka, karena singkong goreng meskipun terlihat sederhana dan kadang dianggap murahan dan nggak kekinian tapi bagi saya tetaplah makanan yang kece badai…asli lokal, enak ajib bin laziz yang benar-benar bikin saya ngiler. Renyah, gurih dan lembut rasanya itu nggak akan tergantikan dengan rasa donat dan roti coklat keju yang di mall-mall itu. Hahahahaha…terasa lebay ya.

Ah, enggak juga sih menurut saya. Saya sangat menghargai dan mengapresiasi tindakannya dalam berbagi. Bahasa kerennya sih sharing. Mengajarkan berbagi alias sharing sejak dini, apalagi di sekolah bukanlah perkara mudah. Apalagi jika mereka adalah anak satu-satunya yang merasa punya hak atas segalanya. Mengajak mereka mulai menyadari bahwa mereka bisa melakukan sesuatu bagi orang lain dan mewujudkannya dalam tindakan kasih sayang sekaligus bermurah hati adalah bukan pelajaran sederhana, bagi saya ini adalah pelajaran dasar kehidupan yang akan mereka bawa seumur hidupnya. Bolehlah dibilang life skills gitu.

Sepotong singkong goreng pagi ini adalah cerita tentang kemenangan, kebaikan, ketulusan dan keindahan dalam berbagi. Entah apa yang ada di hatinya, tapi bagi saya dan di dalam hati saya. Singkong goreng pagi ini mencerahkan hari dan memberi makna hidup.

Kitab kebijaksanaan menuliskan seperti ini, “Siapa memelihara pohon, akan makan buahnya…” Amsal 27:18a (BIMK). Saya percaya sedang memakan buah dari hasil pohon kehidupan yang saya tanamkan sari waktu ke waktu dikehidupan anak didik saya. Maturnuwun Gusti.

image

Sehat Kuwi…

September 12, 2015

Sehat punika menawi saget menikmati sadaya nikmat ingkang Gusti sampun paringaken dumateng kita.

Namung saget matur, “maturnuwun Gusti”

image

PROfesi

August 18, 2015

RT @infobandung: Profesi Pekerjaan Yang Selalu Dibanggakan Orang Tua http://t.co/Tue87t76o6, coba anda cek link diatas. Saya sih nggak ngiri, suer…nggak. Beneran, cuma bertanya aja sih? Kok profesi guru tidak masuk dalam daftar yang membanggakan ya? Padahal, semua profesi diatas tuh nggak bakalan membanggakan kalo nggak sekolah, nah sementara disekolahannya mau jadi tukang dokter sampe tukang insinyur juga pasti ada gurunya, ya kan?

Ah, itu pertanyaan saya saja. Mungkin pekerjaan alias profesi guru memang tidak se-PRO yang lain-lainnya. Tidak masuk dalam kategori membanggakan memang, apalagi kalo seperti saya jadi guru TK Hahaahahahah…(Nada tulisannya sok curhat bergaya sedih gitu). Tapi memang kenyataannya demikian bukan? Dengan digaji lebih kecil, tanggung jawab besar, masih dianggap remeh dan kurang (kadang) diperhatikan. Mau apa coba?

Lepas dari itu semua, saya tetap bangga jadi guru. Bapak saya guru, mbah kakung saya juga guru, pakde, om dan bulik saya juga banyak yang guru. Mereka tetap bangga dan menikmati PROfesi mereka. Saya juga! Dulu waktu SD inget lagu hymne guru yang sering dinyanyikan, entah anak sekarang ngerti apa enggak. Seingat saya, masa-masa itu guru begitu dihargai nggak cuma di masyarakat tapi juga oleh anak didiknya. Sekarang? Yaaah…cobalah anda sendiri bandingkan biar obyektif yaa.

Kalo difilm-film klasik silat dan kungfu, semua jagoan pun pasti punya guru. Mereka bisa menjadi hebat karena ada orang yang berdedikasi, berbagi kemampuan dan kepandaiannya hingga seseorang bisa berhasil dan hebat. Dan saya percaya kok kalo mereka yang memilih jadi guru adalah orang-orang yang punya hidup, hati dan kelebihan untuk dibagikan pada kehidupan orang lain, murid-muridnya.

Mungkin orang tua yang anaknya guru nggak bangga, tapi kalau murid-muridnya (yang inget sih) pasti bangga pernah diajar oleh gurunya. Mau killer, lucu atau letoy sekalipun…guru pasti ada dalam kenangan setiap orang (yang bersekolah) dan menjadi bagian yang menurut saya besar dalam hidupnya.

Masih ragu jadi guru? Semoga tidak ya, apapun bentuknya yang namanya ngajarin orang (trainer, motivator, instruktur, pelatih, dll) tetaplah mereka guru. Guru itu penting dan mereka PRO!

Ayo jadi guru…

image

Kopi Tubruk Sidikalang dan HUT RI ke-70

August 17, 2015

image

image

Gubraaaaaakkk…suara sesuatu yang jatuh terdengar kencang dibelakang rumah. Saya masih tidur didepan tivi dan Oma kemudian teriak dari kamar, “cepetan dilihat Mos, si Cika (kelinci) takut ketindihan tuh…”. Dan ternyata, panggangan yang diletakkan di atas kandang buatan saya jatuh. Walhasil…saya harus bereskan semua dan bikin kandangnya lagi dari awal. (Kandang dari bata ringan yang disusun sederhana dengan genteng diatasnya sih…).

Jadi saya mulai siapkan alat-alatnya. Eh, tunggu…ada yang kurang nih. Ahaaa…kopi! Biar mood dan tenaga lebih mantap. Yup, saya bongkar-bongkar tempat penyimpanan dan menemukan plastik ditali karet dan saya tau dari baunya…hmmm…kopi yang khas, ini kopi yang dibawain temen saya pas pulang ke Medan waktu itu. Sementara kopi Palembang seplastik juga belum dibuka. Lumayan buat stok, hahahahaha. Panas mengepul dan bau yang khas tercipta membuat saya pengen sekali segera menyeruputnya.

Sambil menunggu agak sedikit turun bubuk kopinya, saya mulai membongkar kandang si Cika. Pelan tapi pasti akhirnya selesai dan saya pun pelan tapi pasti seteguk demi seteguk kopi yang digelas saya habis.

Aaah, bertepatan dengan hari ini kan ulang tahun kemerdekaan Indonesia ke 70, jadi sambil menunggu ikut melihat upacara bendera kenegaraan di tivi saya mandi dulu aja. Semangat perayaan kemerdekaan sangat terasa sekali tahun ini, beda dengan tahun kemarin rasanya. Ada banyak kegiatan dan lomba-lomba di kompleks perumahan, ada banyak liputan dan kegiatan di tivi juga acara-acara yang luar biasa membanggakan dan saya senang melihatnya. Saya belum mengisi kemerdekaan dengan sepenuhnya, setidaknya menikmati kopi tubruk buatan anak bangsa ini adalah kebanggan saya sebagai warga negara. Seruputan terakhir…biar dingin tetep aja nikmat! Dan … Merdekaaaaa!