Kebaikan Di Hari Lebaran Kedua

June 26, 2017

Hujan ternyata tidak terlalu deras datang mengguyur siang hari ini. Entah kenapa badan terasa tidak terlalu semangat seperti biasanya, saya pikir mungkin efek minum obat alergi kemarin yang bikin ngantuk dan lemes. Jadi dari pagi saya nikmati saja lebaran kedua ini dengan istirahat di rumah. Setelah mandi kami sekeluarga berkunjung sebentar ke tetangga samping kanan kiri rumah yang merayakan lebaran. Bermaaf-maafan sambil memberi ucapan bahagia. 

Dirumah, setelah makan siang dengan sayur bening sederhana, sambal dan juga ayam goreng sisa kemarin kami menikmati nonton tivi sambil gegoleran alias tidur-tiduran saja. Si mami setelah makan ketiduran di depan tivi, sementara si pumpkin masih saja menikmati film di tivi sampai akhirnya Oma memanggilnya untuk tidur siang di kamar. Saya pun akhirnya menikmati searching di hape si mami lihat-lihat barang yang di jual online, cuma pengen aja sih, belinya ya entah nanti kapan. Kemudian, tiba-tiba ada WA calling dan buru-buru saya kembalikan pada si mami pada hal baru bangun dan kayaknya laper jadi sibuk bikin mie instan. Begitu mau di terima ternyata mati dan mukanya kemudian serius membalas chat yang ada. Setelah selesai kemudian diberikan pada saya untuk dibaca, dan ternyata sebuah kabar baik lagi. Ada yang berbagi kembali dengan kami. Bukan cuma buat kami, oma pun mendapat bagian. Bukan besar kecil atau banyak sedikitnya, kebahagiaannya adalah banyak orang yang peduli dan sayang dengan keluarga kami dan itu sebuah anugerah yang harus kami syukuri.

William Arthur mengatakan sebuah kebijaksanaan seperti berikut, “Jika Anda memiliki banyak hal, berikan kekayaanmu! Namun jika Anda hanya memiliki sedikit, berikan hatimu! Tetapi entah banyak atau sedikit, berikanlah dengan cintamu.” Dengan hitungan jelas kami tidak punya kekayaan berlimpah namun kami belajar untuk memperlakukan setiap bagian yang kami miliki dan bagikan dengan cinta. Apakah ini hasil dari kami menaburkan semuanya dengan cinta? Bisa jadi, namun yang jelas lagi-lagi Tuhan menggerakkan banyak orang menaburkan kebaikan dalam kehidupan kami, dengan penuh cinta tentu saja! 

Seperti pemazmur katakan dan jadi catatan hari ini, saya pun juga ingin katakan,  “Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!”

Berkah Lebaran Kami

June 25, 2017

“Tersenyumlah untuk menjemput kebahagiaan, jangan menunggu bahagia untuk bisa tersenyum. Hiasi hari bahagia ini dengan senyuman.”

Menikmati indahnya lebaran kali ini memang luar biasa, seperti tahun-tahun sebelumnya kami mengunjungi famili dari mami mertua saya. Berangkat pagi-pagi dengan naik angkot karena beberapa kali telpon taksi regular nggak ada yang siap begitu juga dengan taksi online nggak ada yang ambil orderan. Ya sudah, dengan berganti angkot tiga kali akhirnya kami sampai juga di tempat yang kami tuju. 

Dengan mengucap syukur akhirnya kami semua bisa melepaskan kangen dan bermaaf-maafan. Dan tentu saja dibuka dengan kacang goreng, kue-kue, es buah lalu dilanjutkan menu utama makanan khas di hari lebaran ketupat dengan opor, sambel goreng ati, sayur labu atau pepaya muda daging rendang dan kerupuk udang, eh…emping melinjo juga tersedia. Sejenak waktu kami menikmati banyak saudara-saudara yang lain juga datang bersilaturahmi. Hari ini kami mengunjungi tiga rumah saudara lengkap dengan sajian makanannya, keramah tamahan dan tentu saja berbagi kebahagiaan. 

Bahkan sebelum kami pulang, Abby mendapatkan banyak uang baru dari para saudara dan juga perlengkapan body protector untuk latihan tae kwon do, oma mendapatkan uang saku dan saya juga dapat kue dan sirup rasa jeruk, mami dapat kesempatan ngobrol untuk melamar kerjaan. Di tengah terik panas siang tadi kami menikmati perjalanan berangkot tanpa kemacetan yang berarti. Dan setelah turun dari angkot kita jalan kaki sembari mencari minuman dingin. Segernya membasahi dinding leher dengan penuh nikmat. 

Oh iya, ngomong-ngomong kami bukan keluarga Muslim. Kami keluarga Kristen dan menikmati hari raya tahun ini. Sebagai wujud persaudaraan dan juga menjaga tali silaturahmi kami setiap tahun melakukan kunjungan kepada sanak saudara. Kami menikmati kebersamaan dan kebahagiaan momen ini menjadi kebaikan dan juga memperlihatkan bahwa perbedaan tidak berarti menjadi penghalang. Perbedaan adalah kekayaan. 

Cara (saya) Menikmati Hari Sabtu

June 24, 2017

Salah satu cara menikmati hari Sabtu adalah dengan “memotong pohon pepaya”.

Kenapa? Ini adalah alasannya:
1. Sudah setahun lebih pohon ini tidak berbuah sama sekali
2. Pohon ini hanya terus meninggi dan mulai membahayakan ke arah tetangga jika tidak dipotong
3. Memotong pohon pepaya adalah salah satu bentuk latihan yang baik untuk tangan, lengan dan bahu kanan saya
4. Daun muda dari pohon yang di potong ini bisa dimasak lagi jadi tidak terbuang percuma
5. Sisa batang dan daun-daunnya sengaja dibusukkan untuk jadi pupuk dikebun belakang rumah
6. Kalau anda yang membaca membutuhkan bantuan untuk memotong selain pohon pepaya, misalkan THRnya saya siap membantu, tentu saja tidak dengan golok, ajak saja saya belanja ke supermarket dan mall terdekat, dijamin akan saya potong THRnya dengan baik. Hehehehehe 😸

Demikian cara saya menikmati hari Sabtu pagi ini. Jika ada keluhan dan komplain silahkan hubungi UGD terdekat.

Salam Pohon Pepaya 🌴

Ganti Saklar

June 23, 2017

Dan ternyata sampai tiga hari dua malam lampu dikamar terus menerus menyala tidak bisa dimatikan. Kenapa? Karena saklar on-off nya tiba-tiba tidak bisa dimatikan. Sewaktu sebelumnya sih bisa kembali lagi normal. Tapi kali ini ternyata tidak. Sampai akhirnya saya membeli sebuah saklar yang baru. Masalah baru pun muncul, karena sewaktu membuka saklar yang lama sangat mudah dan terlihat jelas cara memasangkan kabelnya, sedangkan saklar yang baru saya sampai bongkar dan bingung bagaimana caranya memasangkan kabel disaklarnya. Jadilah berkali-kali trial and error dan kemudian karena jengkel saya diamkan saja beberapa lama. Saya minum air dingin dan menenangkan diri kemudian dengan perlahan mencoba kembali, sampai akhirnya berhasil juga melakukannya. Saklar terpasang dengan baik. Lampu kembali bisa dinyalakan dan dimatikan, dan istri say bisa tidur dengan nyaman dan nyenyak.

Nampaknya sepele dan sederhana hanyalah sebuah perkara penggantian saklar saja, ternyata buat saya adalah sebuah pelajaran berharga. M. Scott Peck menuliskan sebuah quote yang menarik seperti ini, “yang benar adalah bahwa saat-saat terbaik yang paling mungkin terjadi ketika kita merasa sangat tidak nyaman, bahagia, atau tidak puas. Karena hanya di saat-saat seperti itu, didorong oleh ketidaknyamanan kita, bahwa kita cenderung untuk melangkah keluar dari rutinitas kita dan mulai mencari cara yang berbeda atau jawaban yang lebih benar.” Dan memang benar sekali buat saya, ketidaknyamanan yamg terjadi mengajarkan saya melakukan penyelesaian masalah dengan cara lebih tenang sehingga selesai dengan baik.

Dan memang Tuhan selalu punya cara bahkan hal-hal yang unik untuk mengajarkan kita sesuatu. Seperti juga kata Victor Frankl, ” Ketika kita tidak lagi mampu mengubah situasi, kita ditantang untuk mengubah diri kita sendiri.” Menjadi lebih tenang dan menguasai diri, membuat perubahan pada pribadi kita sehingga mampu melakukan perbaikan yang lebih baik. Kalau belum pernah mengganti saklar lampu, sekali-kali anda bisa mencoba dan menikmati prosesnya ya!

Selamat Ulang Tahun Jakarta

June 22, 2017

Selamat Ulang Tahun Jakarta yang ke 490.

Setahun yang kali kira-kira menggambar dan mengecat jendela kelas ini menjadi bagian dekorasi. Jakarta itu benar-benar beragam, bersatu dan melayani. Saya Kristen, teman kerja saya Muslim, murid-murid saya Muslim, Khatolik dan Buddha. Kami bersatu dan disatukan dalam sebuah kelas yang manis setahun kemarin. 

Saya tanpa sengaja ternyata menjadikan jendela kaca yang terlukisi kota Jakarta dengan Monas, Masjid Istiqlal dan Gereja Kathedral juga keramaian jalanan khas kota Jakarta adalah kenangan terakhir di sekolah dimana saya mengajar. Kenangan yang menjadikan kebaikan sekaligus kesedihan, namun percaya bahwa semakin Jakarta lebih baik dari sekarang demikian juga saya dan semuanya lebih baik dimasa depan.

Sebentar lagi kaca ini akan hancur, tapi tidak dengan harapan kami dan kebaikan yang telah dan akan terjadi. Masa depan Jakarta akan lebih baik demikian juga semuanya.

#NulisRandom2017 #HariKe22 #Jakarta #Jakarta490 #JKT490 #UlangTahunJakarta

Hadiah Dan Harapan

June 21, 2017

Satu buah baju batik baru, satu baju lengan pendek baru, satu paket minyak wangi dan sepaket kue dari orang tua murid kemarin diberikan pada saat pengambilan report card. Satu batik khas Madura juga saya dapatkan dari rekan kerja saya. Bahkan baju dan handuk juga saya dapatkan dari rekan kerja yang lain. Beberapa perwakilan asosiasi orang tua murid memberikan bantal kecil tanda perpisahan, juga sepaket kue lagi khusus karena saya mengajarkan budi pekerti. Pemberian-pemberian itu  memang jadi alasan ucapan terimakasih karena selama ini saya mengajarkan anak-anaknya, meskipun ada yang tidak memberikan barang-barang lainnya namun ucapan terimakasih dan pengakuan kerja kami selama ini menjadi kepuasan tersendiri. Pemberian ini juga jadi tanda persahabatan selama kebersamaan kami di tempat kerja ini meskipun harus berakhir. Tidak masalah, karena mungkin takdir berbicara lain. Kami harus menikmati kebahagiaan menjadi pengajar di tempat yang harus berpisah satu sama lain.

Frederik E. Crane mengatakan, “Agar dapat membahagiakan seseorang, isilah tangannya dengan kerja, hatinya dengan kasih sayang, pikirannya dengan tujuan, ingatannya dengan ilmu yang bermanfaat, masa depannya dengan harapan.” Seperti yang dikatakan Frederik, saya berharap apa yang kami kerjakan menjadi kebahagiaan murid-murid kami nanti dimana saja mereka akan berada, berganti sekolah yang barum semoga tangannya mampu mengerjakan dengan terbaik semua tugas, semoga hatinya terpatri dengan kasih sayang yang kami boleh juga berikan. Semoga mereka memperoleh tujuan yang berarti dimasa mudanya. Semoga ilmu yang kami ajarkan bermanfaat dalam hidupnya. Dan semoga harapannya tetap menyala dan terus hidup seperti harapan kami.

Baju, batik dan kue itu menyimbolkan harapan dan kebahagiaan. Karena semuanya diwujudkan dari hati yang bersyukur dengan penuh kekuatan untuk masa depan seperti tulisan O.O. Marden, “Tidak ada obat semanjur harapan, tidak ada pendorong sehebat harapan dan tidak ada tonikum sekuat mengharapkan sesuatu terjadi pada hari esok.”

Cabai Dan Harapan

June 20, 2017

“Belajar dari hari kemarin. Hidup untuk hari ini. Milikilah harapan untuk hari esok. Yang penting jangan pernah berhenti untuk berharap.” – Albert Einstein

Akhirnya cabai yang di depan dapur menghasilkan buah pertamanya yang matang. Sejak salah satu pohon cabai di belakang rumah mati, beberapa pohon cabai mulai berkurang juga buahnya. Entah apa ikut bersedih atau  memang mulai habis masa berbuahnya. Sebagai penikmat sambal, dan bisa menikmati sambal dengan cabai dari hasil kebun sendiri adalah sebuah kenikmatan yang sungguh berbeda. Mengingat waktu itu harga cabai bisa melangit dan banyak orang mengeluh, kami dengan tenang menyantap sambal dengan rasa pedas plus ucapan syukur.

Jika satu pohon boleh mati, pohon lain akan tumbuh dan menghasilkan kembali. Seperti yang dikatakan oleh mbah Einstein jangan pernah berhenti berharap. Harapan membuat kita selalu memikirkan dan menginginkan yang baik terjadi, entah besok, entah sebulan, setahun atau kapan saja, harapan tetap membuat kita terus memikirkan kehidupan yang lebih baik. 

Jika pohon cabe saya bisa menghasilkan buah yang baru dan akan terus melakukannya, maka harapan saya juga akan memberikan buah yang baik nantinya. Sudah menyusul buah yang lain yang siap matang, jadi sudah pasti buah-buah dari harapan saya akan nyata nanti. Dan Goethe mengatakannya dengan jelas, “dalam segala hal, berharap lebih baik daripada putus asa.” Jadi dari cabai yang saya miliki selalu mengingatkan saya tentang pengharapan yang terus hidup.

Mari terus berharap!

Pelajaran Dari Pak Tasum

June 19, 2017

“Saya tahu tidak ada orang-orang hebat kecuali mereka yang memiliki pengabdian besar pada kemanusiaan.” Voltaire

Hari pertama saya libur sebenarnya sudah ada beberapa agenda yang akan dilakukan, tetapi ternyata tiba-tiba sebelum makan siang berubah dengan dadakan, mirip tahu bulat yang digoreng hangat…hangat…asoooyyy! Hehehehe, jadilah kita ngetrip dengan cara sederhana dan senikmat-nikmatnya, dan tujuan utamanya adalah ke kawasan kota tua. Dari rumah naik angkot, ganti dua kali kemudian kita naik kereta menuju ke stasiun kota.

Begitu sampai di stasiun kota, tujuan pertama adalah sebuah gereja tua yang tahun ini akan berumur 322 tahun. Sebuah gereja tertua di Asia peninggalan dari bangsa Portugis dan dibangun lagi oleh Belanda. Kami menikmati bagian-bagiannya yang begitu kokoh, masih asli dan belum diganti atau renovasi. Jadi benar-benar belum berubah dari awalnya. Disana kami bertemu dengan Pak Tasum, pria paruh baya yang tinggal di daerah BSD ini telah mengabdi menjadi pekerja di gereja ini totalnya sudah 22 tahun. Di mulai awalnya di masa mudanya jualan es di depan gereja, sering membersihkan area gereja kemudian diangkat jadi koster atau pekerja gereja khusus untuk kebersihan dan perawatan, hingga akhirnya sekarang menjadi pegawai dinas purbakala DKI Jakarta. Saya sangat salut dengan apa yang dia kerjakan, apa yang dia kuasai dan dia lakukan. Dan yang lebih salut lagi adalah, Pak Tasum seorang muslim. Muslim yang membagikan kehidupannya dan bekerja untuk kebaikan rumah ibadah orang lain. Seorang muslim yang berani melawan para perusuh ketika tahun 1998 terjadi kerusuhan besar, diceritakan dia berkelahi dengan salah seorang perusuh yang hendak membakar gereja itu, meskipun harus terluka dan sakit dia berhasil menjalankan tugasnya. 

Pengabdian yang hebat dari seorang pekerja yang memberikan saya pelajaran kehidupan. Bukan karena pekerjaannya apa, bekerja pada siapa dan bagaimana pekerjaannya. Namun ketulusan dan keikhlasan yang dipancarkan dari wajahnya yang dengan semangat mengakhiri pembicaraan saya berdua di depan menara lonceng itu dia katakan, “yang Di Atas tahu mas sebenarnya apa yang saya kerjakan, jadi saya tidak pernah merasa takut dan salah, bahkan dicukupkan rejeki saya.” Dalam hati saya masih tidak ada apa-apanya dibandingkan dengannya. Masih harus lebih banyak lagi belajar dan mengerti betapa kebaikan dan keberkahan dan juga pelajaran kehidupan itu Tuhan berikan dimana saja dan dengan siapa saja. 

Mie Ayam Ekspektasi

June 18, 2017

“Kebahagiaan tergantung pada apa yang dapat Anda berikan, bukan pada apa yang Anda peroleh” (Mohandas Ghandi)

Istirahat siang ini hanya setengah jam saja untuk makan. Jadilah saya mencari makanan yang tidak terlalu berat tapi mengenyangkan. Akhirnya pilihan saya jatuh pada mie ayam di samping ketoprak yang ternyata penjualnya satu orang saja. Kalau dilihat sekilas modelnya seperti mie ayam model Solo atau Wonogiri karena penjualnya ketahuan berbahasa Jawa. Jadilah akhirnya saya pesan semangkok tanpa tambahan bakso. Setelah menunggu lima menitan akhirnya matanglah iyi mie dan mulai disajikan didepan saya. Ekspektasi saya sih kayaknya bakalan enak, dan wow…ternyata biasa saja, hahahaha! Agak sebelnya itu adalah harganya yang lima belas ribu rupiah, padahal kalau di depan kompleks harganya hanya sembilan ribu saja tanpa bakso juga, rasanya lebih nendang dan yahud! Bukan bermaksud membandingkan dan nggak terima tapi memang kadang kita nggak bisa selalu mendapatkan yang kita harapkan. 

Kata kamus ekspektasi itu artinya harapan besar yang di bebankan pada sesuatu yang di anggap akan mampu membawa dampak yang baik atau lebih baik atau dugaan. Memang sih harapan saya tidak sesuai dengan kenyataan, karena dalam bayangan saya nikmat mie ayam ini tidak memberi dampak yang begitu wow dilidah dan perut saya. Kecewa sih tidak hanya merasa kurang saja dalam menikmatinya. Karena memang bisa saja terjadi bahwa kita bisa dikecewakan olehnya, namun bukan berarti kita lalu menyerah dan tidak lagi ada harapan. 

Lha ekspektasi makan mie ayam saja jadi bahan buat saya memikirkan ulang ya dengan apa yang akan saya nikmati. Sama juga sih dengan curhatan para orang tua murid kemarin di report card day, dari yang bingung anaknya mau pindah kemana sampai bingung gimana nanti di sekolah barunya plus harapan-harapannya yang akan anaknya dapatkan di sekolah baru nanti. Harapan saya sih jelas bahwa murid-murid saya menikmati di sekolah barunya, mengikuti pelajarannya dengan baik dan makin cemerlang setelah sekian lama kami boleh memberikan pengajaran pada mereka.

Sebuah perkataan yang baik menyatakan seperti ini, “Harapan kita itu seperti jangkar yang tertanam sangat dalam dan merupakan pegangan yang kuat dan aman bagi hidup kita.” Jadi semakin kita kuat bergantung pada harapan yang baik dan benar maka semakin kuatlah jiwa kita untuk memperoleh kebaikan dan kebahagiaan. 

Semua Akan Pindah Pada Waktunya!

June 17, 2017

“kesempatan sering datang sebagai kesulitan. Itulah sebabnya, banyak orang yang tidak mengenalnya. Makin besar kesulitan, semakin besar kesempatan.” Shiv Khera

Hari ini adalah hari akhirnya. Saya dan teman-teman telah berusaha semaksimal yang kami lakukan sebagai seorang pengajar membagikan apa yang kami bisa berikan pada anak-anak murid kami. Laporan akhir pembelajaran tersampaikan dengan baik.

Yang tidak baik adalah, kami menutupnya dengan berbagi air mata. 

Ya, memang kebersamaan kami harus selesai ditempat ini. Tapi dari titik ini kami akan berangkat menuju masa depan yang lebih baik lagi (berharap dan berdoa). Sejak kemarin saya memang merapikan kelas dan juga merapikan kenangan yang sudah empat tahun di jalani disana. Saya menginginkan album kenangan di jiwa dan hati saya menyentuh kehidupan. 

Semua akan pindah pada waktunya, dan waktunya usah di mulai hari ini! Tumbuh dan mekarlah dimanapun kamu tertanam murid-muridku, teman kerjaku semua, kalian layak mendapatkannya!
*catatan terakhir dari meja kursi merah sudut kelas