Archive for the ‘sukses’ Category

Ngopi Sore Bareng Driver GoJek

August 28, 2015

Baru saja ngopi dengan seorang driver GoJek, sambil istirahat saya ngobrol-ngobrol dia lihat aplikasinya kali-kali kalau-kalau ada customer yang butuh. Dan ndilalah kok dapetnya mantep…tertulis di aplikasinya dapat 97ribu, padahal ini masih promo 15ribu lho jarak jauh maupun dekat. Wah, lumayan juga menurut saya. Ternyata sisa kelebihan yang seharusnya dibayar oleh customer dibayari oleh pihak gojek.

Jadi kalau dia bisa mendapat customer yang lumayan jaraknya, hitunglah 4 kali sehari, uang 300ribu memanglah nggak susah. Ngomong-ngomong tadi dia dapat customer dari lebak bulus sampai parung, jauh juga sih. Pas jumat sore, jam macet…tapi demi penghasilan yang lumayan kenapa enggak?

Saya sih nggak nolak juga kalau bisa ngelamar jadi tukang GoJek, masalahnya keterikatan waktu kerja sekarang memang tidak bisa ditawar. Ya sudahlah, nggak papa, pasti keadilan Tuhan juga berpihak pada saya untuk mendapatkan jatah saya.

Eh, kalau 300ribu kali 20hari kerja aja udah 6juta, lebih banyak banget dari gaji saya sekarang. Hahahahahaha, pikir-pikir….

Ah, sudahlah…

Advertisements

kepengen (ternyata sudah) kaya

June 30, 2015

Berdasarkan kitabgaul.com arti kata pengen itu adalah
mau, ingin, maunya. Nah, sore ini tiba-tiba saya kok pengen… gorengan menjelang sampai rumah, eh bukan itu sih…anu emmm….saya itu pengen…kaya. Boleh kan? Boleh dong … Masa nggak boleh sih? Tapi…untung itu hanya kepengen saja, gara-garanya ketemu sama seorang yang lebih muda dari saya sudah berpenghasilan lebih dari empat puluh juta perbulan. Eittsss…beneran cuma pengen aja kok.

Ditengah perjalanan pulang saya berbincang dengan istri tentang apa yang barusan saya alami. Terimakasih kepada penolong hidup saya ini, karena dia mengingatkan bukan masalah jumlah uang yang didapat berapa banyak tiap bulannya, tapi apakah pekerjaan yang dijalankan sekarang memenuhi visi hidup saya dan passion saya.

Dan setelah sampai rumah kepengenan saya yang mau jadi kaya luntur setelah tercium aroma ikan teri medan yang digoreng Oma. Jadi, segeralah nasi merah, tahu goreng, ikan teri dan sayur terserah alias sayur lo…deh berkolaborasi menenangkan gejolak perut saya. Ternyata pikiran-pikiran yang mbalelo ini bisa dijinakkan dengan sepiring makanan. Oh ya, ngomong-ngomong ternyata saya kaya, karena saya masih bisa makan uenakkk…dan nikmaaat. Ada yang duitnya buanyaaak…tapi takut, bingung dan ribet mau makan saja. Enggak nyindir sih, tapi kadang beneran lho.

Dan jelas selama 30 hari di bulan Juni ini saya menuliskan betapa kayanya saya, bisa menikmati banyak hal dan menuliskannya. Terimakasih buat byotenega.wordpress.com yang mengajak #NulisRandom2015 dan juga @nulisbuku yang sudah merituit tulisan saya.

“Karena berkat TUHAN sajalah orang menjadi kaya; kerja keras tak dapat menambah harta.” (Amsal 10:22 BIS ).

#NulisRandom2015selesai

Cerita Ngambil Raport

June 8, 2015

Sudah beberapa tahun jadi guru selalu membagi raport murid-murid, dan hari ini berkesempatan menjadi orang tua yang ngambil raport anaknya. Tahun lalu waktu Abby masih di TK kecil pas nggak bisa waktunya, dan tahun ini sudah lulus TK akhirnya berkesempatan untuk ngambil raport. Jelas rasanya beda yang biasanya saya harus nyerocos ngomong A sampai Z tentang anak murid sekarang saya gantian yang nanya ini itu tentang anak lucu saya.

Senang meskipun hanya setahun di sekolah yang baru, Abby mendapatkan kemajuan yang sangat bagus. Mendapatkan cerita yang bagus tentang si Abby yang selalu tersenyum dan tidak pernah marah meskipun dimarahi gurunya, dan Miss Mimil yang kata Abby galak pun sampai bilang,”ya memang saya juga marahin Abby, tapi dia tuh nggak pernah marah dan ngambek anaknya kalau dimarahin, murah senyum dia” itu kayanya turunan Maminya yang senyumnya manis mengalahkan gula-gula. Dan bahkan dari obrolan selanjutnya gurunya pun bercerita kalau Abby selalu dipasang didepan saat pentas menari karena dia memang terlihat keren, kepala sekolahnya Miss Uci katanya bilang,”coba kalau Abby bergabung dari Kiddy Class, pasti bisa menang banyak kejuaraan dance di sekolah.” Hahaahahahah…bangga dan terharu juga, si Pumpkin bisa punya talenta yang bisa membuatnya punya sesuatu untuk diceritakan.

Bahasa Inggrisnya berkembang sangat baik, meskipun masih di campur-campur kalau ngomong, tapi hanya dalam waktu kurang dar setahun kemajuannya sangat pesat, bahkan sekarang sudah bisa membaca. Hingga tiap waktu membongkar, bolak balik buku-bukunya untuk dibaca. Dan bahkan minta jatah untuk dibeliin Omanya buku baru untuk dibaca.

Senang dengan perkembangan anak saya, memang tidak dipungkiri banyak hal yang kurang dari setiap sekolah, tapi saya lebih percaya bahwa setahun ini dia menikmati sekolahnya, banyak hal yang dia bisa ceritakan, banggakan, pengalaman-pengalamn barunya dibandingkan dengan mengingat kekurangan-kekurangannya seperti dibully dikatain gendut, dijauhi teman-temannya, dijatuhin dari ayunan, dan digunting rambutnya, hahahahaha….its ok! Its a god experience to make her more grow…

Terimakasih Kinderfield Cinere, Miss Mimil, Miss Emmi dan semuanya yang sudah membuat Abby menikmati masa kanak-kanaknya disekolah dengan baik. As a teacher too I’m proud and salute for all of you’ve done for my daughter.

Saatnya bersiap-siap untuk masuk sekolah selanjutnya…yaa, masuk SD nanti dibulan Juli. Don Bosco sudah menanti…dan menantikan pengalam-pengalaman baru yang akan terjadi.

Cukur Rambut

May 16, 2015

Barber shop Pesona

Dewasa Rp 12.000
Anak2 Rp 10.000
Jenggot Rp 5.000
Cukur-Jenggot Rp 15.000
Cat Rambut. Rp 35.000

Demikianlah, daftar harga untuk bercukur rambut malam ini, eike memang nggak biasa ke salon cyiiin, cukup di tukang cukur biasa saja, yang penting rambut rapi, soal gaya alias style nggak terlalu mengikuti trend. Nggak tahu kenapa, mungkin memang dari dulu ya gitu-gitu aja sih.

Tapi, ternyata luar biasa juga tukang cukur ini, setiap hari selalu saja ada yang memotong kepala, eh…rambutnya di tempat ini. Padahal sepanjang jalan ini, beberapa tukang cukur lain juga ada. Namanya rejeki ya, pasti jelas sudah di atur. Dan rejekinya kalau dihitung-hitung lumayan juga lho, coba kita hitung bersama ya, sekali cukur saja 12ribu kali (misalkan) 20 orang dewasa berarti mendapat 240ribu, jika ada 10anak-anak sehari berarti 100ribu,jadi total sehari bisa 340ribu. Kalau dihitung rata-rata sebulan buka 25hari kerja, minggu libur jadi 25 dikalikan 300ribu (hitung rata-rata) maka totalnya hasilnya 7.5juta. Eh…gilaaa…lumayan banget ya hasil tukang cukur ini, guru swasta kaya saya aja kalah euy. Hasil diatas saja belum kalau ada yang cukur jenggot saja dan ngecat rambut. Kalau pun dihitung lagi dengan dipotong uang sewa tempat, listrik, makan dan lain-lain, paling nggak total bersih bisa 3 sampai 4 jutaan tiap bulan.

Nah, ini ada quote yang ajiiib yang harus saya sambungkan dengan tulisan diatas ya, “Choose a job you love, & you will never have to work a day in your life.” – Confucius.
Pak Confucius bilang kalau kita memilih pekerjaan yang kita cintai maka kita nggak akan merasa bahwa kita kerja setiap hari. Tapi ya tetep aja sulit, lha wong kadang mau nggak mau harus kerja kok, tapi kalau menumbuhkan rasa cinta terhadap pekerjaan kita, itu beda. Paling nggak saya terus belajar mencintai pekerjaan saya, hasilnya (baca:gaji) mungkin nggak sebanyak tukang cukur ini, atau anda yang bisa “mencukur” bisnis-bisnis besar lainnya. Ah, nggak usah dibandingkan lah ya…sekali lagi namanya rejeki, berkah, berkat itu selalu ada, pas, cukup, kalau lebih…ya puji Tuhan, alhamdulillah…bisa berbagi. Wong rambut saya yang panjang aja bisa saya bagi kok ke tukang cukur, malah bayar lagi….hahahahaha.

Selamat bercukur, salam tampan!

GAGAL

January 23, 2015

“Apa yang orang lihat tentang kesuksesan saya hanyalah 1%, tetapi yang tidak mereka lihat adalah 99%, yaitu kegagalan-kegagalan saya.”
–Soichiro Honda, Pendiri Honda Corporation.

“Sebagian orang tua takut anaknya mungkin gagal. Saya juga risau karena anak saya telah berumur 30-an dan belum pernah gagal.”
–Al Neuharth, Pendiri USA Today.

Kemarin ada berbagai perlombaan yang di adakan disekolah Abby, salah satu yang dia ikuti adalah perlombaan menyanyi. Dengan semangat dan penuh percaya diri, sampai malam dia berlatih dirumah bersama maminya, bahkan sampai rekaman lagu yang aya download dari youtube pun minta dia simpan di handphonenya.

Ternyata, pada saat hari pelaksanaan lomba, tidak seperti yang diharapkan….Abby lupa sebagian besar lirik dan nyanyiannya. Padahal kata orang tua murid dan gurunya Abby punya suara yang bagus, nggak fals…cuma sayang nggak hapal lagunya. Oma bercerita dengan sedikit kecewa, karena saya tahu dia berharap cucunya dapat memenangkan perlombaan itu.

Justru sebelumnya saya sudah mengatakan pada istri saya, “nggak papa kalau sampai dia nggak bisa atau gagal. Paling nggak Abby sudah berani mencoba dan melakukan yang dia bisa, kalau sampai gagal pun dia juga belajar bahwa tidak semua hal harus dimenangkan!”

Malam hari setelah kami pulang kerja, Abby bercerita bahwa dia bernyanyi tapi lupa ….hahahahhaa, nggak papalah nak kamu gagal kali ini, mungkin dilomba yang lain, dilain waktu kamu bisa berhasil. Saya mengobati kekecewaannya dan memberikan upah sebatang coklat… Senyumnya mengembang dan tetap manis.

Ya, kegagalan bisa saja menjadi manis. Semanis kehidupan ini, jika kita melihatnya dengan cara pandang yang manis pula. Semoga anak-anak yang lain berani belajar gagal….untuk berhasil dan sukses nantinya.

“Hanya mereka yang berani gagal dapat meraih keberhasilan” (Robert F. Kennedy)

BARA

December 21, 2013

Jika orangtua murid, seorang ibu tersentuh dan menangis didepanku (seorang guru), betapa air mata keharuan dan kebahagiaan itu menjadi hadiah yang sangat indah di akhir semester ini.

Saya merinding dan bangga, bahkan juga menahan tangisan di ujung mata saya…

Bahwa, jerih lelah dan kerja keras kami begitu di akui, bukan dengan hadiah, bukan dengan sekedar ucapan, namun dengan tangisan, bahwa kami berbagi dengan seorang anak “special needs” yang dianggap “beda” namun justru memperkaya dan mengajarkan berbagai hal luar biasa dalam kurun waktu hampir 6 bulan ini.

Terimakasih Bara, telah mengajariku dengan senyuman tanpa kata, tatapan yang berkembang dan sekarang terlihat hidup didalamnya. Terimakasih Bara, aku melihat masa depanmu…

Aku menggandeng tanganmu…Ayo!!

CHOOSE TO CHOOSE

November 19, 2013

*** Setiap istirahat makan siang, Amir akan membuka kotak makanannya dengan pelahan sambil komplain: ‘Jangan nasi tahu tempe lagi ya…’, ketika terbuka kotaknya, berteriak: ‘Sialan, Nasi tahu tempe lagi!’ Teman kerjanya tidak tahan melihat Amir setiap hari komplain, berkata:’ Mir, kalau bosan dengan Nasi tahu tempe, ya bilang sama istrimu, jangan bawakan nasi tahu tempe lagi!’ Amir menjawab: ‘ Mas, sejujurnya saya belum menikah, dan tadi pagi yang mengotaki nasi tahu tempe ini ya saya sendiri.’ *****

Cerita sumir ini menarik, saya sadur dari anekdot di buku nya Tal Ben Shahar, dosen legendaris Harvard University, ‘Choose The Life You Want’. Kita komplain dengan hidup kita, tidak nyaman, tidak enak, pekerjaan kurang menantang, ‘stuck’, tidak ada kemajuan, sama saja pekerjaan yang dilakukan membosankan sekali, dan seterusnya. Sebenarnya yang mengotaki apa yang kita kerjakan ini ya kita sendiri.

Hampir semua hasil kehidupan kita sebenarnya adalah pilihan kita sendiri, dan kita sangat mempunyai hak dan kemampuan untuk memilihnya. Tetapi kebanyakan dari kita hanya mau komplain saja, walau tahu sebenarnya kita bisa berbuat sesuatu untuk mengubah keadaan kita ini. Kita mengeluh dan berkeluh kesah dengan banyak energi, tanpa akan memperbaiki sesuatu apapun.

Kita sering terlalu banyak jalan dengan ‘autopilot’, melakukan tanpa mau memikir lebih dalam, ya seperti yang lalu lah, ya mengalir sajalah, ya ini suratan takdir lah, ya memang begini keadaannya, dan kita tidak mau lebih banyak berupaya untuk membentuk sendiri masa depan kita menuju hidup yang lebih baik. Dengan melakukan tindakan2 perubahan.

Memilih untuk memilih, ‘choose to choose’, adalah sebuah kebulatan tekad, untuk tidak lagi mau menerima semua apa adanya saja, tetapi memilih untuk melakukan sesuatu yang dapat kita pilih untuk menghasilkan hasil kehidupan yang berbeda. Tidak pula menyalahkan dan memakai alasan kambing2 hitam untuk membenarkan keengganan kita melakukan pilihan tindakan.

Ada saatnya kita merasa terperangkap, masuk dalam jepitan kehidupan, coba tanyakan hal2 sulit yang mungkin akan berguna: ‘Apa yang harus saya lakukan dalam kehidupan saya supaya saya bisa mendapatkan kehidupan yang saya inginkan? Kemana saya akan pergi? Bagaimana saya bisa sampai disana? Apa resikonya? Siaplah saya? Habiskan waktu sehari mencoret2 dan mencatat semua pilihan yang ada. Jangan mau menerima jawaban ‘Saya tidak punya pilihan’, karena memang sebenarnya anda punya hak untuk memilih, dan punya pilihan.
oleh: Tanadi Santoso

http://www.kisahinspiratif.info

11 Life-Changing Questions You Must Ask Yourself

April 10, 2013

Ask yourself these questions every day. Without fail. And then, based on your answers, take action.

man looking in the mirror

Keep this list handy. Ask yourself these questions every day–without fail. And then, based on your answers, take action.

1. Who would cry the most at my funeral?

Those are people who love you unconditionally. Start returning the feeling.

2. Do I spend enough time with the people who would cry the most at my funeral?

Probably not. Even though those are the people who see the good in you, and make you feel good about yourself.

3. Who would I want to cry the most at my funeral?

Chances are those are the people you neglect the most. You care about them but you’re taking them for granted.

Stop taking them for granted.

4. Am I proud to tell people where I work?

If not, it’s time to start looking elsewhere. Titles come and go. Money comes and goes. Pride is forever.

5. Is my company a business I would want my children to run?

There may be aspects of your business you wouldn’t wish on your worst enemy, much less your kids: insufferable customers, unbearable employees, difficult working conditions, uncertain long-term prospects.

If you would say to your child, “No, I wouldn’t want you to have to deal with that…” why do allow yourself to continue to deal with that?

Naturally you want your kids to be happy. You also deserve to be happy. List the problems, then fix the problems.

If you want a better future for your kids, show them the way by making a better future for yourself.

6. Does today feel different than yesterday?

It should, if only in a very small way. Otherwise you’re sitting still.

7. Do I say “no” more than I say “yes”?

“No” ensures today will be exactly the same as yesterday. Or maybe worse.

F that.

8. Do I spend money instead of time?

Maybe you buy your kids “stuff” because you feel guilty for being away so much, or missing events, or being distracted most of the time. Maybe you buy your significant other “stuff” when you feel guilty about not paying enough attention or showing, by word and action, that you care.

Or maybe you spend money on productivity tools instead of putting in the time to change inefficient work habits. Or maybe you buy expensive fitness equipment and trendy workout gear instead of just sucking it up and working out more.

Money never produces the same results as time. Expensive clothes can’t get you in shape; productivity apps can’t make you more efficient; a new tablet can’t transform your business life.

Money can change some things, temporarily. Time can change anything, forever.

And don’t forget: Your kids will soon forget the video game you bought them but they’ll never forget the afternoon you spent together.

9. Do I think of myself as a noun?

“I’m an inventor.” “I’m a speaker.” “I’m a writer.”

You’re in a box.

Start defining yourself as a noun and you start to feel like you’ve arrived (even when you haven’t). Slowly your focus shifts to “being” rather than doing, to maintaining a sense of self rather than striving to continually improve specific skills.

And you slowly close yourself off to other activities, other ventures, and other possibilities.

Don’t define yourself by what you do. Never let yourself be a noun. Be a person who does lots of verbs–and is always open to more.

10. Do I make people feel good about themselves?

Unexpected praise, like the gift given “just because,” makes a huge impact.

Every day, people around you do good things. Praise at least one of them, sincerely and specifically. They’ll feel great. You’ll feel great.

11. Do I scare myself?

If not, you should.

Don’t scare yourself with fear of the future, or the economy, or injury or death, but with things you decide to do that push, stretch, challenge, and leave you excited and thrilled and relieved in an “Oh my gosh I can’t believe I did that!” way.

We all have fears. What matters is what we do when we’re hesitant or nervous or afraid. When we turn away, we die a little inside; when we face a fear and do what we really want to do, we feel truly alive.

Are you living… or really living?

You only get one chance. Make sure you live.

Jeff Haden learned much of what he knows about business and technology as he worked his way up in the manufacturing industry. Everything else he picks up from ghostwriting books for some of the smartest leaders he knows in business. @jeff_haden

Success: What it isn’t

April 2, 2013

By John C Maxwell

The problem for most people who want to be successful is not that they can’t do it. The main obstacle for them is that they misunderstand success. Maltbie D. Babcock said, “One of the most common mistakes and one of the costliest is thinking that success is due to some genius, some magic, something or other which we do not possess.”

If that’s not right, then what DOES it mean to be a success? What does it look like? First, let’s talk about what it DOESN’T look like:

Many of us have a wrong picture of success. Frankly, the majority of people misunderstand it. They wrongly equate it with achievement of some sort, with arriving at a destination or attaining a goal. Here are several of the most common misconceptions about success:

1. Wealth: Probably the most common misunderstanding about success is that it’s the same as having money. A lot of people believe that if they accumulate wealth, they’ll be successful. But wealth does not bring contentment – or success.

Industrialist John D. Rockefeller, a man so rich that he gave away over $350 million in his lifetime, was once asked how much money it would take to satisfy him. His reply: “Just a little bit more.” King Solomon of ancient Israel, said to be not only the wisest but also the richest man who ever lived, said, “Whoever loves money never has money enough; whoever loves wealth is never satisfied with his income.”

Even Greek millionaire Aristotle Onassis recognized that money isn’t the same as success. He said, “After you reach a certain point, money becomes unimportant. What matters is success.”

2. A Special Feeling. Another common misconception is that people have achieved success when they feel successful or happy. But trying to feel successful is probably even more difficult than trying to become wealthy.

The continual search for happiness is one of the main reasons that so many people are miserable. If you make happiness your goal, you are almost certainly destined to fail. You will be on a continual roller coaster, changing from “successful” to “unsuccessful” with every mood change. Life is uncertain, and emotions aren’t stable. Happiness simply cannot be relied upon as a measure of success.

3. Possessing Something Specific and Worthwhile. Think back to when you were a kid. Chances are that there was a time when you wanted something really bad, and you believed that if you possessed that thing, it would make a significant difference in your life. When I was nine years old, it was a red and silver Schwinn bicycle. Back then, the thing to do in our neighborhood was to race around on our bikes.

But I was riding an old hand-me-down bicycle, and I had trouble keeping up with the kids on newer bikes. But I figured that if I had that new Schwinn bike, I’d have it made. I’d have the newest, fastest, best-looking bike among all my friends, and I’d make them all eat my dust.

On Christmas morning, I got my wish. And for a while it was great. I loved that bike, and I spent a lot of time riding it. But I eventually discovered that it didn’t bring me the success or long-term contentment that I’d hoped for and expected.

That process has repeated itself in my life. Over the years, I found that success didn’t come as the result of possessing something I’d wanted. Possessions are at best a temporary fix. Success cannot be attained or measured that way.

4.  Power. Charles McElroy once joked, “Power is usually recognized as an excellent short-term anti-depressant.” There’s a lot of truth to that statement, because power often gives the appearance of success, but even then, it’s only temporary.

You’ve probably heard before the quote from English historian, Lord Acton: “Power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely.” Abraham Lincoln echoed that belief when he said, “Nearly all men can stand adversity, but if you want to test a man’s character, give him power.” Power really is a test of character. In the hands of a person of integrity, it is of great benefit; in the hands of a tyrant, it causes terrible destruction. By itself, power is neither positive or negative. Nor is it the source of security or success. Besides, all dictators eventually lose power – even benevolent ones.

5.  Achievement. Many people have what I call “destination disease.” They believe that if they can arrive somewhere – attain a position, accomplish a goal, or have a relationship with the right person – they will be successful. At one time, I had a similar view of success: I defined it as the progressive realization of a predetermined worthwhile goal. But over time I realized that definition fell short of the mark.

Simply achieving goals doesn’t guarantee success or contentment. Look at what happened with Michael Jordan. In 1993, he decided to retire from basketball, saying that he had accomplished all the goals he had wanted to achieve. And then he went on to play baseball in the minor leagues – but not for long. He couldn’t stay away from the game of basketball. He played again from 1995 to 1999. Then he retired again – for a couple seasons. He played his final seasons 2001-2003. Playing the game was the thing. Being in the midst of the process. You see, success isn’t a list of goals to be checked off one after another. It’s not reaching a destination. Success is a journey.

From Your Road Map for Success

 

Membangun Mental Sukses dalam Diri

January 28, 2013

Setiap orang pasti ingin mendapatkan kesuksesan dan menjadi juara dalam tiap hal yang dilakukannya. Hanya saja, kesuksesan memang tidak selalu mudah untuk diraih. Seringkali ketika tidak berhasil mencapai hasil yang diinginkan, beragam alasan dan justifikasi muncul. Parahnya, ada yang mulai menyalahkan orang lain, situasi, dan lingkungan sekitar.

“Padahal diri Anda sendirilah yang bertanggung jawab pada kesuksesan Anda sendiri. Anda yang memilih, berbuat, maka Anda juga yang harus bertanggung jawab,” ungkap motivator Putera Lengkong, MBA, dalam bukunya, 9 Prinsip Kesuksesan Sang Juara.

Putera menambahkan bahwa sebenarnya prinsip kesuksesan dimulai dari diri sendiri. Berikut sembilan prinsip kesuksesan yang bersumber dari diri sendiri:

1. Punya impian spesifik dan menantang
Setiap orang pasti punya impian untuk bisa sukses. Sayangnya, impian ini masih terlalu umum sehingga membuat Anda bingung untuk mulai mewujudkannya. Impian yang jelas akan memotivasi Anda untuk bergerak pasti dan mengambil tindakan nyata. Misalnya, saat ingin punya mobil, jangan hanya bermimpi ingin punya mobil. Perjelas mobil impian yang Anda inginkan mulai merek, warna, dan detail lainnya.

“Untuk sukses, buatlah diri Anda merasa kepepet. Milikilah urgensi sehingga menggerakkan Anda untuk meraih impian tersebut,” ungkapnya.

2. Setiap kesuksesan punya “harga”
Kesuksesan tidak bisa didapatkan dengan cara instan. Anda harus membayar semua “harga”nya untuk mendapatkan kesuksesan. Tentu saja bukan dalam bentuk uang, tapi dengan kerja keras.

“Anda harus bekerja keras dan belajar melakukan sesuatu dengan cara, sistem, metode kerja, atau kebiasaan yang berbeda dari sebelumnya. Namun dengan demikian, Anda belajar untuk mengembangkan diri,” jelasnya. Ketika memilih maju, tentu Anda harus menunda kenikmatan yang ingin dinikmati.

3. Anda adalah pelakunya
Ketika menghadapi kegagalan, seringkali Anda menyalahkan orang lain atau keadaan. Anda harus menyadari bahwa setiap keputusan yang diambil dalam hidup Anda semuanya berasal dari diri sendiri. Anda adalah pelaku kehidupan Anda, dan bukan korban dari kehidupan. Dengan demikian Anda bertanggung jawab atas pilihan yang Anda buat dan bertanggung jawab atas kesuksesan Anda sendiri.

Ketika gagal jangan mencari siapa yang salah. Akan lebih baik jika Anda mencari solusi dan cara untuk menjadi lebih baik lagi.

4. Miliki mental sukses
Syarat terpenting untuk menjadi seorang yang sukses adalah kepercayaan diri dan mental sukses. “Bagi saya mental juara berarti melakukan lebih dibanding orang lain. Entah itu lebih sering, lebih banyak, lebih disiplin, lebih kreatif, atau lebih bermanfaat,” jelasnya. Memiliki mental juara juga berarti Anda harus fokus pada semua hal yang dilakukan dan memberikan yang terbaik.

5. Sinergi dalam tim
Bekerja dalam tim memang tidak mudah. Anda harus menyesuaikan irama, visi dan misi dengan rekan satu tim. Anda harus paham tipe tim seperti apakah kelompok Anda ini. Apakah mereka termasuk tipe tim yang bisa membantu Anda mencapai impian, atau malah menjauh dari impian Anda.

Dalam kerja kelompok butuh adanya sinergi dan saling pengertian satu sama lain. Sinergi dengan tim akan membantu mempermudah Anda untuk mencapai kesuksesan. Bahkan kerja tim akan memungkinkan Anda mencapai tujuan yang awalnya terasa sulit karena harus bekerja sendirian. Dalam tim, Anda bisa mengambil banyak pelajaran dan ilmu untuk mendukung karier Anda. Putera menambahkan, bahwa sebenarnya kerja tim yang saling bersinergi adalah jalan tercepat untuk mencapai kesuksesan.

Sumber: Buku 9 Prinsip Kesuksesan Sang Juara, oleh Putera Lengkong, MBA, Penerbit  PT Gramedia Pustaka Utama, Pencetak PT Gramedia.