Pelajaran Dari Pak Tasum


“Saya tahu tidak ada orang-orang hebat kecuali mereka yang memiliki pengabdian besar pada kemanusiaan.” Voltaire

Hari pertama saya libur sebenarnya sudah ada beberapa agenda yang akan dilakukan, tetapi ternyata tiba-tiba sebelum makan siang berubah dengan dadakan, mirip tahu bulat yang digoreng hangat…hangat…asoooyyy! Hehehehe, jadilah kita ngetrip dengan cara sederhana dan senikmat-nikmatnya, dan tujuan utamanya adalah ke kawasan kota tua. Dari rumah naik angkot, ganti dua kali kemudian kita naik kereta menuju ke stasiun kota.

Begitu sampai di stasiun kota, tujuan pertama adalah sebuah gereja tua yang tahun ini akan berumur 322 tahun. Sebuah gereja tertua di Asia peninggalan dari bangsa Portugis dan dibangun lagi oleh Belanda. Kami menikmati bagian-bagiannya yang begitu kokoh, masih asli dan belum diganti atau renovasi. Jadi benar-benar belum berubah dari awalnya. Disana kami bertemu dengan Pak Tasum, pria paruh baya yang tinggal di daerah BSD ini telah mengabdi menjadi pekerja di gereja ini totalnya sudah 22 tahun. Di mulai awalnya di masa mudanya jualan es di depan gereja, sering membersihkan area gereja kemudian diangkat jadi koster atau pekerja gereja khusus untuk kebersihan dan perawatan, hingga akhirnya sekarang menjadi pegawai dinas purbakala DKI Jakarta. Saya sangat salut dengan apa yang dia kerjakan, apa yang dia kuasai dan dia lakukan. Dan yang lebih salut lagi adalah, Pak Tasum seorang muslim. Muslim yang membagikan kehidupannya dan bekerja untuk kebaikan rumah ibadah orang lain. Seorang muslim yang berani melawan para perusuh ketika tahun 1998 terjadi kerusuhan besar, diceritakan dia berkelahi dengan salah seorang perusuh yang hendak membakar gereja itu, meskipun harus terluka dan sakit dia berhasil menjalankan tugasnya. 

Pengabdian yang hebat dari seorang pekerja yang memberikan saya pelajaran kehidupan. Bukan karena pekerjaannya apa, bekerja pada siapa dan bagaimana pekerjaannya. Namun ketulusan dan keikhlasan yang dipancarkan dari wajahnya yang dengan semangat mengakhiri pembicaraan saya berdua di depan menara lonceng itu dia katakan, “yang Di Atas tahu mas sebenarnya apa yang saya kerjakan, jadi saya tidak pernah merasa takut dan salah, bahkan dicukupkan rejeki saya.” Dalam hati saya masih tidak ada apa-apanya dibandingkan dengannya. Masih harus lebih banyak lagi belajar dan mengerti betapa kebaikan dan keberkahan dan juga pelajaran kehidupan itu Tuhan berikan dimana saja dan dengan siapa saja. 

Advertisements

Tags: , , , , , , , , , , ,

2 Responses to “Pelajaran Dari Pak Tasum”

  1. Izzatur Rahmaniyah Says:

    keren! Lebih baik lebih banyak sodara2 netizen kita membaca kisah seperti ini šŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: