Pak


Dia bukan bapak yang hebat, dia adalah bapak yang paling hebat, yang menghidupi hidupnya dengan sederhana dan apa adanya. Aku pernah kehilangan nafas di gendongannya. Aku pernah membuatnya menangis dan masih jarang menghadirkan kebahagiaan padanya. Aku mewarisi gaya panggungnya dan meneruskan pekerjaannya menjadi guru. Bapakku mewariskan kesukaannya pada buku, dia tidak mewariskan harta tapi kasih sayang dan pengorbanan pada keluarga dan anak-anaknya.

Maturnuwun pak, wilujeng ambal warsa. Tansah pinaringan kasarasan lan kaluberan ing berkah. Mugi kabegjan lan pangreksa saking Gusti tansah lumuntur ing gesang panjenengan.

“Dia tak mengatakan padaku bagaimana menjalani hidup; ia hidup, dan membiarkanku melihatnya melakukannya.” Clarence Budington Kelland

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: