Archive for May, 2017

Jadi Kita SapiNya?

May 23, 2017

Matius 11:28-30 (BIMK)  

Datanglah kepada-Ku kamu semua yang lelah, dan merasakan beratnya beban; Aku akan menyegarkan kamu. Ikutlah perintah-Ku dan belajarlah daripada-Ku. Sebab Aku ini lemah lembut dan rendah hati, maka kamu akan merasa segar. Karena perintah-perintah-Ku menyenangkan, dan beban yang Kutanggungkan atasmu ringan.”

Bicara membajak pasti yang disinggung adalah tanah yang akan dibajak. Tanah yang keras yang harus dibolak balik dan dihancurkan supaya rata, biasanya di ibaratkan sebagai hati kita. Dimana Tuhan hendak mengubahkan kehidupan maka tanah alias hati inilah yang harus diubahkan.

Tapi kali ini, perenungan kami mendapatkan sebuah pandangan yang berbeda, bagaimana dalam prosesnya itu kita bukanlah tanahnya melainkan kita yang jadi sapinya? Tuhan Yesus mengatakan dalam Matius 11:29-30 (TB)  “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” Kemudian kami memproses ini menjadi sebuah pengertian baru yang memang menyegarkan.

Pertama bahwa kami ini ibaratnya seperti sapi, sepasang sapi atau lembu yang harus dipasangi kuk/bajak. Kami harus berjalan bersama, tidak boleh mengeluh karena beban berat “dipundak” ini tidak akan tahu sampai kapan akan dibuka, atau menunggu sampai selesai masa membajak dan gembur tanahnya. Belajar memakai kuk adalah belajar tentang kepasrahan, penundukan diri, menuruti dan mengikuti Sang Petani yang mengendalikan bajaknya. Hasilnya adalah ketenangan. Hah…ketenangan? Kami pikir ini adalah luar biasa, disaat penuh tekanan dan hanya belajar memasrahkan diri kami justru menemukan ketenangan. Ini adalah sebuah metode “pembebasan” yang dahsyat.

Yang kedua, Tuhan bilang kuk yang di pasang itu enak. Kami mendapat bahwa kami punya hal untuk menikmati. Dan itu kadang gagal dilakukan dengan sebenarnya. Menikmati kehidupan adalah bukan sekedar melupakan masalah, berpura-pura cuek dan santai atau nggak peduli. Menikmati yang sesungguhnya bahwa setiap hal yang di ijinkan terjadi itu adalah sebuah kebaikan. Boleh jadi keuangan, karir pekerjaaan, keluarga, kesehatan dan berbagai hal masalah ada terjadi tapi itu tidak bisa melepaskan kami dari hal yang bisa kami nikmati. Masih cukup makan, masih bisa melakkukan berbagai hal, dukungan dan dorongan berbagai pihak, bantuan dan berkat yang tidak terhitung dan terduga datangnya. Betapa semuanya adalah kenikmatan yang sejatinya Tuhan sediakan bagi kami para “sapiNya”.

Yang ketiga adalah kami makin kuat ketika menjadi sapi. Kenapa demikian? Membayangkan proses membajak ini mulai dari tanah kering sampai di airi kemudian dihaluskan dengan menggunakan jenis bajak yang berbeda pastilah butih waktu yang tidak sebentar. Dan lagi, kami para sapiNya akan digunakan, akan lelah capek bin kuesel! Melewati lumpur-lumpur yang memberatkan langkah, tapi Dia bilang bebanKu ringan. Ada jaminan yang menyertai bahwa Dia membuat segala sesuatunya lebih mudah di akhirnya. 

Beruntunglah dan mengertilah kami mengapa kami harus menundukkan diri seperti sapi kali ini. Musim membajak kali ini, bukan kami yang dibajak, tapi kami jadi bagian dari proses membajaknya, dan kami adalah sapiNya yang menarik bajaknya. Terimakasih Tuhan untuk menjadikan kami sapiMu.

Pada Mas Montir Aku Belajar

May 11, 2017

Untuk bekerja dengan baik tidak hana sekedar skill dan pengetahuan yang baik, tetapi juga dedikasi, disiplin dan desire atau passion ( bahasane duwur…sok tinggi biar kayak tulisane motipator) hahahahaha!

Tapi tampaknya memang demikian yang saya dapatkan hari ini sewaktu saya sedang menyempatkan diri servis motor dibengkel yang baru pertama saya datangi. Servis standar injeksi motor, ganti oli mesin, ganti oli gardan, ganti ban depan, mindahin ban depan ke belakang, servis komstir setang karena terasa goyang kalau jalan. Lumayan di saat minggu terakhir sebelum gajian malah setoran ke bengkel. Lha kalau nggak di servis malah bisa nombok nanti ujung-ujungnya lebih bahaya.

Eniwei, saya menemukan catatan bagus di depan tempat saya membayar setelah selesai servis. Ada terpampang jadwal kerja harian plus nama-nama daftar hadir para montir, juga ada tanggal gajian mereka masing-masing. Dan yang paling saya kaget juga ada peraturan tertulis yang menurut saya jarang-jarang saya temukan di sebuah bengkel, seperti berikut ini tulisannya:

Telat 15menit denda 30.000

Telat 30menit tidak usah masuk

Tidak pakai seragam denda tambahan

Masing-masing libur 1 hari di hari yang berbeda dalam 1 minggu

Wow…
Sementara dikerjaan saya saja telat nggak papa yang penting ada pemberitahuan dan sekarang lebih banyak nggak ngasih tahu, toh…nggak dipotong gajinya. Enak kan? Coba jadi montir ini, habis sudah uang makan dan transport tiap hari. Mumet nggak kira-kira? Nggak pakai seragam? Lha udah ada hari bebas nggak pakai seragam, kerja cuma 5 hari dapat seragam 3 buah masih aja cari alasan karena seragamnya inilah itulah…whatever soever terserah dan nggak kena marah, yang penting rapi dan masih senada kan? Ya kan? Libur? Jelas sudah pasti wong kerjanya cuman dari Senin sampai Jumat saja, ada jadwal libur lainnya plus bisa nambah libur “bila perlu”, uenaknyaaaaaaa….! Itu cuma sementara alias nggak akan lama. Iya nggak akan lama lagi bisa merasakan seperti sekarang. Jadi nikmati dan bersiap-siap saja kalau keadaan, situasi, kondisi, aturan dan bahkan denda akan dihadapi! 

Kalau montir aja bisa, mosok saya nggak bisa? Wis…gitu aja!

Pak

May 4, 2017

Dia bukan bapak yang hebat, dia adalah bapak yang paling hebat, yang menghidupi hidupnya dengan sederhana dan apa adanya. Aku pernah kehilangan nafas di gendongannya. Aku pernah membuatnya menangis dan masih jarang menghadirkan kebahagiaan padanya. Aku mewarisi gaya panggungnya dan meneruskan pekerjaannya menjadi guru. Bapakku mewariskan kesukaannya pada buku, dia tidak mewariskan harta tapi kasih sayang dan pengorbanan pada keluarga dan anak-anaknya.

Maturnuwun pak, wilujeng ambal warsa. Tansah pinaringan kasarasan lan kaluberan ing berkah. Mugi kabegjan lan pangreksa saking Gusti tansah lumuntur ing gesang panjenengan.

“Dia tak mengatakan padaku bagaimana menjalani hidup; ia hidup, dan membiarkanku melihatnya melakukannya.” Clarence Budington Kelland

Mengapa Khawatir?

May 3, 2017

Seseorang pernah bicara dengan nada sinis, “Mengapa berdoa jika kau bisa khawatir?” Maksudnya jelas: Kekhawatiran tidak akan mengatasi masalah kita, tetapi doa akan membuat kita 

bergantung kepada satu Pribadi yang dapat mengatasi segala keprihatinan kita. – ODB