Kopi Dan Apartemen


​Secangkir kopi hitam saya mengiringi perbincangan dengan Mang Anang penjualnya, selembar kertas ilustrasi harga sebuah apartemen tergeletak di meja papan yang menempel di tembok dimana warungnya berdiri. Kemudian perbincangan pun berlanjut dengan menghitung kemungkinan dan nikmatnya hidup di apartemen, kesamaanya adalah kita sama-sama tidak bisa menikmati kehidupan ala apartemen. “Susah kalau nggak nginjak tanah, rasanya seperti bukan rumah! Atau karena kita sama-sama berasal dari desa kali ya jadi nggak terbiasa hidup seperti itu” sahutnya kemudian kita tertawa.

Kisah selanjutnya pun bergulir, keponakannya bercerai karena suaminya di PHK dan sekarang tinggal di apartemen. Suami ini sudah tidak mau bekerja lagi, katanya tak ada ada lagi nafkah lahir dan batin yang di berikan pada keponakannya hingga akhirnya langkah perceraian pun di tempuh. Sedih mendengarnya, namun mungkin itu keputusan terbaik yang harus di ambil untuk meneruskan kehidupannya dan tidak berada dalam lingkaran kesulitan yang menyergapnya. Salahkah? Saya tidak bisa menyalahkannya. Benarkah keputusannya? Saya pun juga tidak mau meresponi dengan pembelaan karena mungkin akan sangat sulit jika saya berada di pihak keponakan Mang Anang. Jadi…kopinya saya seruput perlahan dan memandang ke awan, cerahnya hari ini mempertandakan bahwa kebaikannya mengiring langkah saya menuju keberkahan dan kedamaian. 

Apakah saya tidak mempunyai masalah? Jelas saya punya. Apakah kopi dan apartemen ada hubungannya? Iya saya bisa mengkaitkannya. Segelas kopi tiga ribu ini membuka kesempatan pada saya melihat betapa kebaikan Tuhan itu tidak berhenti. Karena kehangatannya menyelaraskan rasa di hati pada kenikmatan sederhana yang sebenarnya tidak pernah berhenti diberikan pada saya oleh Sang Maha Baik. Lalu apa urusannya dengan apartemen? Selembar kertas bertulisakan harga dan cicilannya itu mengingatkan saya tentang cicilan rumah yang harus kami bayar, dan waktu-waktu sekarang ini begitu besar harapan kami melihat Tuhan akan memampukan kami melewati setiap bulannya dengan aman. Selembar kertas harga apartemen ini membawa saya pada kepercayaan penuh bahwa apa saja bisa DIA buat untuk menyelesaikan bagian kami dengan kekuatanNya. 

Kopi saya habis di seruputan terakhir dan saya sodorkan recehan pembayarannya. Recehan limaratusan yang biasanya saya kumpulkan jadi awal kenikmatan selanjutnya. Bisa jadi Tuhan ajarkan saya dengan yang kecil, recehan….namun akan pas. Pas dengan setiap pembayaran-pembayaran yang kami butuhkan setiap waktunya. Selalu ada pelajaran, harapan dan iman yang menyertai. Saya bergegas menuju harapan baru pagi ini…

“Sebab bukan untuk seterusnya orang miskin dilupakan, bukan untuk selamanya hilang harapan orang sengsara.” Mazmur 9:18 (TB)

Advertisements

Tags: , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: