Tuhan Bolehkah Aku Ke Salon Dulu Malam Ini?


“Bukankah besok adalah perayaan hari kelahiran-Mu Tuhan Yesus, jadi sepantasnyalah aku memakai baju baru dan juga kalau boleh ke salon dulu facial biar cling mukaku tanda kelihatan terberkati, juga keramas plus creambath biar wangilah rambutku. Atau sekalian pijat refleksi punggung biar besok pas kebaktian Natal aku nggak pegel-pegel amat gitu duduknya? Gimana Tuhan? Boleh yaaa…?” Tanya saya pada Tuhan menjelang sore hari ini.

Dan Tuhan masih diam belum menjawab saya.

Saya lanjutkan saja curhatan saya deh pada-Nya, sekalian aja mumpung ada waktu, “gini ya Tuhan, kan rumah sudah di beresin tuh sama istri saya, disapu dipel wangi, sudah di rapikan semaksimal mungkin. Pohon Natal biar kecil plus lampu kelap-kelipnya juga ada kok, terus kado-kado sederhana untuk malam ini juga sudah di siapkan, masak sop dan goreng ayam juga sudah di siapkan Oma nih. Sudah pas kan perayaan kami malam ini Tuhan? 

Tuhan masih diam, mungkin sedang sibuk membalas chat dengan teman-teman lain yang malam ini mau menikmati Christmas Eve alias malam menjelang Natal juga. Nggak papalah, saya sabar kok. 

“Jadi apakah saya perlu juga foto keluarga dulu ya Tuhan, biar afdol gitu kalau bikin kartu ucapan digital kan sekarang? Kan kalau sudah ke salon pasti lebih cakep fotonya. Iya nggak Tuhan? Ehmm…Tuhan? Tuhan?….”
 Ah, tampaknya malam Natal ini saya akan nikmati lebih banyak bertanya dan tidur saja. Pertanyaan bodoh saya yang sebenarnya saya tahu jawabannya bahwa Dia tidak butuh saya di make up, kado, rumah bersih, makanan dan lebih lagi ngapain saya mesti ke salon? Badan saya meriang dari siang, panas dingin dan pil penahan sakit sudah saya minum. Puji Tuhan sudah berkurang rasanya. Makanya lebih nikmat saya di kasur saja.
Kalau saja waktu itu sore hari salon masih buka bisa jadi Maria nyalon dulu persiapan dalam kecantikan untuk penyambutan kelahiran anaknya yang pertama, toko-toko masih menjual kebutuhan jadi Yusuf bisa beli kain, popok dan perlengkapan bayi lainnya, kalau saja penginapan tidak penuh mungkin saja cerita Natal tidak berawal di kandang, atau disaksikan para gembala dan raja-raja asing yang mencarinya. 

“Tuhan, harusnya saya bersyukur masih berkesempatan merayakan kelahiranmu di keluarga kecilku. Sederhana namun bermakna, bahkan lebih dari itu kami nggak mau kehilangan moment ini hanya sekedar perayaan agamawi saja.” 

Yesaya 9:6 (BIMK)  (9-5) Seorang anak telah lahir bagi kita; kita dianugerahi seorang putra. Ia akan menjadi pemimpin kita. Ia dinamakan: “Penasihat Bijaksana”, “Allah Perkasa”, “Bapak Kekal”, “Raja Damai”.

Advertisements

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: