Archive for December, 2016

Nikmati Saja!

December 31, 2016

​Menikmati tahun 2017 adalah hak kita. Berikut ini 17 hal yang bisa anda lakukan supaya anda bisa menikmatinya dengan lebih baik:

 
1. Jangan membandingkan hidup Anda dengan orang lain karena Anda tidak pernah tahu apa yang telah mereka lalui.

2. Jangan berpikir negatif akan hal-hal yang berada diluar kendali Anda melainkan salurkan energi Anda untuk menuju kehidupan yang dijalani saat ini, secara positif.
3. Jangan bekerja terlalu keras, jangan lewati batasan Anda.
4. Jangan memaksa diri Anda untuk selalu perfect, tidak ada satu orang pun yang sempurna.
5. Jangan membuang waktu Anda yang berharga untuk gosip.
6. Bermimpilah saat anda bangun (bukan saat tertidur).
7. Iri hati membuang-buang waktu, Anda sudah memiliki semua kebutuhan Anda.
8. Lupakan masa lalu. Jangan mengungkit kesalahan pasangan Anda di masa lalu.  Hal itu akan merusak kebahagiaan Anda saat ini.
9. Hidup terlalu singkat untuk membenci siapapun itu. Jangan membenci.
10. Berdamailah dengan masa lalu Anda agar hal tersebut tidak mengganggu masa ini.
11. Tidak ada seorang pun yang bertanggung jawab atas kebahagiaan Anda kecuali Anda.
12. Sadari bahwa hidup adalah sekolah, dan Anda berada di sini sebagai pelajar. Masalah adalah bagian daripada kurikulum yang datang dan pergi seperti kelas aljabar (matematika) tetapi, pelajaran yang Anda dapat bertahan seumur hidup.

13. Senyumlah dan tertawalah.
14. Anda tidak dapat selalu menang dalam perbedaan pendapat. Belajarlah menerima kekalahan.
15. Jangan lupa bersyukur, apapun keadaannya.
16. Jangan lupa berdoa!
17. Nikmatilah hidup Anda sekarang, bukan kemarin bukan besok, karena hari ini adalah hadiah : present!

Advertisements

Catatan Akhir Tahun

December 31, 2016

​​”Life’s about laughing & living, replacing inner hate with love, getting through whatever comes our way, looking back & smiling”

Spaghetti hangat tersaji dengan indah di piring putih malam ini, menutup makan malam di akhir tahun 2016. Dan tentu saja disertai dengan foto bersama lebih dulu sebelum kami menyantapnya dengan lahap. Dan inilah kenikmatan sederhana di keluarga saya. 

Setelah selesai kami lanjutkan menikmati hiburan sederhana, nonton tivi…film di tivi yang masih saja memberikan hiburan yang indah malam ini.

“Impossible we do, miracle we try” Bossman-My Stupid Boss movie

Quote itu sangat mengena banget buat saya. Bagaimana perjuangan seorang pekerja menghadapi bossnya yang super bikin stress dan sedikit gila. Dan…tahun 2016 tampaknya itu yang terjadi di pekerjaan si mami Lia. Paling tidak dia bisa lepas dari kegilaan yang dia hadapi dan sekarang pun berjuang kembali, berjuang mendapatkan kembali kehidupannya sebagai pekerja.

Dan buat saya…saya akan melakukan keajaiban! Miracle we try…keajaiban kita coba! Kenapa tidak? Selalu ada keajaiban…mujizat dalam kehidupan bukan? Berbagai bentuk yang datang dan menunjukkan betapa Tuhan bisa bekerja dalam kehidupan kita dengan cara yang kadang mustahil dan tidak terpikirkan dalam perjalanan hidup kita. 

Saya mengutip dari 2 Petrus 3:9 (BIMK),Tuhan tidak lambat memberikan apa yang telah dijanjikan-Nya walaupun ada yang menyangka demikian. Sebaliknya, Ia sabar terhadapmu, sebab Ia tidak mau seorang pun binasa. Ia ingin supaya semua orang bertobat dari dosa-dosanya.” Saya mengimani ini menjadi kenyataan di tahun yang akan datang, bahwa tidak ada kata terlambat bagi Tuhan untuk melakukan apa yang sudah di janjikanNya pada saya. Jika keselamatan dari dosa saja Dia pedulikan dan utamakan pastilah kehidupan saya dan keluarga saya ada dalam jaminanNya. Amin!

Kado & Saldo

December 30, 2016

​”Mengucap syukur adalah cara untuk menikmati hidup” – June E. Nixon

“Bergembiralah, hai orang-orang yang tulus hati karena apa yang telah dilakukan TUHAN, dan bersyukurlah kepada Allah yang suci.” Mazmur 97:12 (BIMK)  

Berapa banyak kado yang saya dapatkan di akhir tahun ini? Ehmm…kayaknya memang mesti dihitung ya? Kalau dihitung bakalan banyak kali ya,haahhahahaha…! Yang jelas dan berkelas adalah kado cinta istri saya. Sejak saya kecelakaan dia menunjukkan kesabaran dan bukti cintanya, dari menahan bau badan saya, menahan perasaan capek dan semuanya, bahkan dengan setia memandikan saya setiap hari sampai saya bisa mandi sendiri. Kado apalagi yang terindah selain cinta? Oh ya tentu saja Natal. Kelahiran Yesus Kristus adalah kado terindah yang menjamin kehidupan.

Kalau saldo, iya saldo di akhir tahun? Hahahahahaha…sudahlah, nggak usah dibahas dan ditulis. Toh, buktinya sampai saat ini masih tetap bisa makan, jajan, jalan dan tentu saja beli kado. Allah itu penjaminku, yang mencukupkan semuanya. 

Terimakasih Tuhan Saya Kenyang

December 29, 2016

“Berbahagialah kalian yang lapar sekarang; kalian akan dikenyangkan!…”​ Lukas 6:21 (BIMK)   

Bandingkan!

December 28, 2016

“​Jangan berpikir negatif akan hal-hal yang berada diluar kendali Anda melainkan salurkan energi Anda untuk menuju kehidupan yang dijalani saat ini secara positif” begitu kira-kira kata seseorang dengan bijaksana. Meskipun sulit sebenarnya tapi mau tidak mau kita harus menjalani kehidupan ini bukan dengan pesimis namun harus optimis. Bukan dengan melihat segala sesuatu dengan negatif, karena nmyang nampak dan sedang terjadi tidaklah baik namun harus positif dan penuh gairah dengan tetap sadar bahwa segala sesuatunya sudah Tuhan atur demi kebaikan kita. Mudah? Tentu saja tidak menurut saya. Tapi itulah kenyataannya yang terjadi.

Juga orang bijak berkata seperti ini, “Jangan membandingkan hidup Anda dengan orang lain karena Anda tidak pernah tahu apa yang telah mereka lalui.” Betul sekali menurut saya. Jangan membandingkan nasi goreng seporsi sepuluh ribu dan es lemontea lima ribu di pinggir jalan dengan nasi goreng tigapuluhsembilan ribu dan es lemontea sembilan belas ribu plus pajak limabelas persen di sebuah resto pusat perbelanjaan. Bukan soal rasa, tempat atau suasana. Bukan karena juga disesuaikan dengan kantong dan penikmatnya. Setiap orang punya hal yang sama namun mereka beda dalam mengalaminya. Jangan bandingkan kehidupan nasi goreng yang saya alami di warung pinggir jalan dengan nasi goreng di restoran. Karena kita sama-sama belajar dan tidak mengetahui apa yang kita lalui.
Lalu?

Jangan menegatifkan sesuatu dan membandingkan segala sesuatu hanya karena kita beda! Itu saja.

Peringatan ini penting! Lukas 6:24 (BIMK) mengatakan, ” Tetapi celakalah kalian yang kaya sekarang ini; sebab kalian sudah mengalami kenikmatan!”

Sepatu Baru Akhir Tahun

December 27, 2016

“​Kegembiraan ibarat semburan parfum, apabila kita memakainya, semua akan dapat merasakan keharumannya. Oleh karena itu, berikanlah, walau secuil, kegembiraan yang Anda miliki itu kepada teman anda.” (anonim)

Saya mendapatkan kegembiraan hari ini. Ehm…tepatnya sih mendapatkan kegembiraan dengan membayarkan apa yang membuat saya gembira hari ini. Kegembiraan sederhana yang menurut saya bolehlah atau layaklah saya mendapatkannya. Sepertinya memang jarang sekali saya memanjakan diri. Yah, untuk membelikan diri sendiri sesuatu yang menyenangkan memang bisa dihitung dengan jari. Tapi kali ini saya melakukannya lagi, seperti akhir tahun yang lalu. Saya membeli sepatu, kali ini dua pasang sepatu yang menurut saya murah. Mumpung akhir tahun, ada diskon dan saya cek di  instagram nya sesuai dengan pilihan dan harganya.

Yah, maaf…harus saya akui memang kualitasnya KW sih, hehehehehe….nggak papalah ya. Yang penting dan utama bagi saya adalah pertama saya mendapatkan kegembiraan yang saya inginkan. Yang kedua saya bisa menyisihkan sedikit dari apa yang saya dapatkan di akhir tahun ini untuk diri saya. Maaf kalau agak selfish yaa. Dan yang ketiga saya bisa membagikan kebahagiaan hari ini dengan saya menuliskan kisah sepatu baru saya.
Ah, lagi-lagi kebahagiaan kecil dan sederhana itu selalu menyenangkan. 

Penghiburan

December 26, 2016

​”Sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah.” 2 Korintus 1:5 (TB) 

Saya rindu pulang kampung Natal ini, namun tidak bisa melakukannya bukan karena tidak mau tapi ada beberapa pertimbangan yang mengharuskan saya memutuskan tidak jadi pulang kampung. Sedih memang namun selalu ada hal yang baik yang akhirnya bisa menjadi obat kangen keluarga.

Hari ini bersama-sama sekeluarga, Oma dan kakak ipar sengaja melakukan perjalanan “napak tilas” yaitu mencari rumah keluarga jauh yang saya sendiri masih belajar bagaimana bisa tersambung hubungan dengan fam/nama keluarga istri saya dengan mereka yang disebut keturunan “Belanda Depok”. Dan dengan berpanas-panas ria akhirnya kami menemukannya bahkan bisa mengunjungi dua keluarga sekaligus. Senang dan cukup unik mendengar kisahnya sekaligus menarik sampai saya mencari sumber-sumber yang terkait di internet.

Sang Penghibur yang hadir di Natal tahun ini mengajarkan pelajaran sebuah kesempatan untuk melihat hari ini bagaimana keunikan sebuah hubungan bisa terjalin. Tuhan menghiburkan bahwa selalu ada “keluarga-keluarga” yang membutuhkan “kunjungan” pribadi Yesus supaya Dia bisa dilahirkan di tempat itu. Mewujudkan damai dan kasih yang sesungguhnya, sesederhana kunjungan hari ini. Seperti kunjungan malaikat pada para gembala, gembala pada kelahiran Sang Penghibur Sejati itu dan kunjungan para raja dari timur. Kunjungan itu sebuah pengiburan. 

Merayakan Hidup 

December 25, 2016

Dulu di kampung waktu masih kanak-kanak saya masih mengingat yang namanya sepasaran bayen. Sepasar adalah perhitungan waktu selama lima hari dan bayen adalah bayi yang baru lahir. Sepasaran adalah sebuah bentuk perayaan ucapan syukur dari keluarga dengan berbagai pernik dan upacara tertentu yang saya sendiri tidak terlalu mengerti dengan baik. Yang saya ingat dulu adalah pasti banyak orang datang, ngasih sumbangan ke orang tua bayi berwujud uang atau bahan makanan dan tentu saja adalah banyaknya makanan yang di sajikan untuk para tamu plus teh panas manis pengiringnya. Namun, lambat lain budaya itu tampaknya sudah mulai jarang orang-orang melakukannya lagi.
Saya pikir setiap momen, begitu banyak momen dalam hidup pantas di rayakan. Bahkan, sempat saya dulu mendengar sewaktu tetangga yang juga kristen meninggal salah seorang pelayat yang bukan kristen berkata, “wong kristen pancen beda, lahir nyanyi, mati yo nyanyi…ngibadah nyanyi neng ngendi-endi nyanyi (orang kristen itu memang beda, lahir bernyanyi, mati bernyanyi, ibadah bernyanyi dimana-mana bernyanyi). Dan itu perkataan yang sangat membekas pada saya, ada yang berbeda memang. 

“Hidup harus kita rayakan karena hidup ini ada lah hadiah dari Tuhan. Kita harus bisa memberikan pengharapan kepada orang-orang yang berada di sekitar kita.” Pesan ini sangat menguatkan dan memberkati sekali. Dan yang bisa saya lakukan selanjutnya adalah merayakannya dalam tulisan saya. 

“Kalau kita hidup, kita hidup untuk Tuhan. Dan kalau kita mati, kita pun mati untuk Tuhan. Jadi, hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.” Roma 14:8 (BIMK)  

Tuhan Bolehkah Aku Ke Salon Dulu Malam Ini?

December 24, 2016

“Bukankah besok adalah perayaan hari kelahiran-Mu Tuhan Yesus, jadi sepantasnyalah aku memakai baju baru dan juga kalau boleh ke salon dulu facial biar cling mukaku tanda kelihatan terberkati, juga keramas plus creambath biar wangilah rambutku. Atau sekalian pijat refleksi punggung biar besok pas kebaktian Natal aku nggak pegel-pegel amat gitu duduknya? Gimana Tuhan? Boleh yaaa…?” Tanya saya pada Tuhan menjelang sore hari ini.

Dan Tuhan masih diam belum menjawab saya.

Saya lanjutkan saja curhatan saya deh pada-Nya, sekalian aja mumpung ada waktu, “gini ya Tuhan, kan rumah sudah di beresin tuh sama istri saya, disapu dipel wangi, sudah di rapikan semaksimal mungkin. Pohon Natal biar kecil plus lampu kelap-kelipnya juga ada kok, terus kado-kado sederhana untuk malam ini juga sudah di siapkan, masak sop dan goreng ayam juga sudah di siapkan Oma nih. Sudah pas kan perayaan kami malam ini Tuhan? 

Tuhan masih diam, mungkin sedang sibuk membalas chat dengan teman-teman lain yang malam ini mau menikmati Christmas Eve alias malam menjelang Natal juga. Nggak papalah, saya sabar kok. 

“Jadi apakah saya perlu juga foto keluarga dulu ya Tuhan, biar afdol gitu kalau bikin kartu ucapan digital kan sekarang? Kan kalau sudah ke salon pasti lebih cakep fotonya. Iya nggak Tuhan? Ehmm…Tuhan? Tuhan?….”
 Ah, tampaknya malam Natal ini saya akan nikmati lebih banyak bertanya dan tidur saja. Pertanyaan bodoh saya yang sebenarnya saya tahu jawabannya bahwa Dia tidak butuh saya di make up, kado, rumah bersih, makanan dan lebih lagi ngapain saya mesti ke salon? Badan saya meriang dari siang, panas dingin dan pil penahan sakit sudah saya minum. Puji Tuhan sudah berkurang rasanya. Makanya lebih nikmat saya di kasur saja.
Kalau saja waktu itu sore hari salon masih buka bisa jadi Maria nyalon dulu persiapan dalam kecantikan untuk penyambutan kelahiran anaknya yang pertama, toko-toko masih menjual kebutuhan jadi Yusuf bisa beli kain, popok dan perlengkapan bayi lainnya, kalau saja penginapan tidak penuh mungkin saja cerita Natal tidak berawal di kandang, atau disaksikan para gembala dan raja-raja asing yang mencarinya. 

“Tuhan, harusnya saya bersyukur masih berkesempatan merayakan kelahiranmu di keluarga kecilku. Sederhana namun bermakna, bahkan lebih dari itu kami nggak mau kehilangan moment ini hanya sekedar perayaan agamawi saja.” 

Yesaya 9:6 (BIMK)  (9-5) Seorang anak telah lahir bagi kita; kita dianugerahi seorang putra. Ia akan menjadi pemimpin kita. Ia dinamakan: “Penasihat Bijaksana”, “Allah Perkasa”, “Bapak Kekal”, “Raja Damai”.

2 Bulan

December 24, 2016

“Sebab Allah mengasihi kita, dan karena kebaikan hati-Nya Ia membuat kita tetap tabah, serta mengharapkan yang baik.” ​2 Tesalonika 2:16 

“Ini kita udah dua bulan jalannya, lama banget!” Begitulah keluhannya yang di sampaikan di dalam metromini yang kami naiki sore ini, setelah berlibur dadakan dan tanpa planning yang mantap. Ketika kami turun dari kereta setelah dari Bogor, keluar sari stasiun Kota setelah berjalan beberapa puluh meter, di depan halte berhenti bis gratis Keliling Jakarta. Jadilah kami menaikinya, padahal rencananya mau jalan-jalan di kota tua. Karena pulangnya ngeteng alias naik aja angkutan umum yang ada, kami berjibaku dalam kemacetan Jumat sore yang luar biasa di Jakarta. Buat Abby jelas sangat membosankan, selain panas dan tidak enak tempat duduknya dia merasakan juga bagaimana rasanya bergulat dengan kehidupan yang sebenarnya di Jakarta. Lumayan buat pembelajaran dirinya, karena nggak semua orang bisa enak dan nikmat duduk di dalam mobil AC yang dingin. Paling tidak ini adalah pengalaman liburan yang mengajarkan sesuatu padanya.

Saya bersyukur dia kuat, meskipun sambil menahan lapar. Dan setelah berganti naik angkot lagi yang bernuansa diskotik, suara speaker ajeb-ajeb dibelakang tempat kita duduk dengan lampu biru temaram menambah kemeriahan perjalanan pulang kami. Akhirnya setelah “dua bulan kelamaaan di jalan” istilah Abby…kita sampai di pusat perbelanjaan dan Abby mendapatkan keinginannya makan nasi dan ayam goreng ala mall.

Saya membayangkan perjalanan Yusuf dan Maria mengejar  deadline supaya sampai Bethlehem dengan tepat waktu sebelum sensus, dengan kondisi lelah dan hamil tua, menjelang kelahirannya betapa susahnya hari itu. Nggak akan sama memang dengan apa yang kami alami hari ini, macet, panas dan lama sekali di perjalanan, tapi mereka juga pasti mengalami kelelahan dan juga kondisi yang tidak nyaman. Keledai jelas nggak sama dengan metromini, tapi repotnya di jalan bisa dirasakan. Penngharapan yang baik diakhirnyalah yang selalu menguatkan, Yusuf dan Maria akhirnya menikmati pengharapannya dalam Natal yang kudus, dan kami menikmati liburan hari ini karena kebaikan-Nya saja. Pengharapan Abby terutama setelah “dua bulan” dijalan terwujud dalam nikmatnya makan malam hari ini.