Archive for September, 2016

Ubi Kakek Bongkok

September 25, 2016

Entah berapa tahun umurnya sekarang, saya tidak bisa menyapanya karena harus mengantri membeli bahan bakar motor, tubuh rentanya memikul pikulan bambu berisi sayur kangkung dan disebelah lain pikulan ada pasang dan ubi. Berjalan tak lagi tegap karena bongkok, entah apa yang menyebabkannya demikian, mungkinkah beban hidup masa mudanya begitu beratkah? Atau memikul sedemikian banyak waktu yang penuh dengan beratnya kisah hidup.

Isteri saya turun dengan anak saya juga dari motor, dan saya tahu dari tatapan katanya, dia akan cepat tergerak hatinya dengan belas kasihan. Sepuluh ribu rupiah terbayarkan untuk seplastik ubi jalar yang di jual si kakek. Saya ceritakan pada Abby bahwa kakek ini adalah contoh yang hebat, sudah tua tapi tidak menyerah dengan usia, masih tetap berjualan dari pada menjadi pengemis, masih terus semangat dan pantang menyerah dan tidak mau bergantung pada orang lain. Dia hebat!

Saya menikmati kisah kebaikan dan bagaimana Tuhan mengajarkan sesuatu, bagaimana Dia berbicara dan memperlihatkan pada saya bahwa Dia selalu peduli dengan caran-Nya. Bagaimana Tuhan menggerakkan hati dan pikiran seseorang untuk mengambil bagian menjadi berkat dalam hidup kita. Seperti Paulus katakan pada jemaat Korintus,  “Allah berkuasa memberi kepada kalian berkat yang melimpah ruah, supaya kalian selalu mempunyai apa yang kalian butuhkan; bahkan kalian akan berkelebihan untuk berbuat baik dan beramal. Dalam Alkitab tertulis begini tentang Allah, “Ia menghambur-hamburkan kepada orang miskin; kebaikan hati-Nya kekal selama-lamanya.” Allah yang menyediakan benih untuk si penabur dan makanan untuk kita. Ia juga akan menyediakan dan memperbanyak apa yang kalian tabur, supaya hasil kemurahan hatimu bertambah pula.” 2 Korintus 9:8-10 (BIMK).

Terimakasih untuk ubi dan pembelajarannya hari ini kakek bongkok…Tuhan memberkati!


  

Ngopi Adalah Sebagian Dari Iman

September 16, 2016

​Sekejap membuka mata pagi ini dan rasa kantuk masih menyergap di antara bantal dan selimut yang masih setia menemani. Sayup dari kamar sebelah terdengar anakku sudah mendengarkan suara lagu dari radio kesayangannya. Ah, puji Tuhan aku masih hidup. Kuturunkan kaki dan melangkah menuju dapur hendak mengisi perut dengan air putih, disambut dengan suara Mami mertuaku, “Moos, air galon habis diganti!” , ah…masih ada orang tua yang menyayangi, Puji Tuha kembali. Istriku bangun dan menyusulku, mendaratkan pelukan dan ciuman kecil dipipi, ah…betapa aku beruntung di kelilingi orang-orang yang mencintai. Selesai kuganti air galon, ku seduh kopi sachet sisa terakhir minggu ini, Puji Tuhan masih begitu banyak nikmat yang kumiliki.

Sembari menunggu mereka mandi, kunikmati pelan kopiku dan menengok social media yang terpasang di telepon genggam dan kucek ada notifikasi yang menyukai postinganku semalam. “Good things are coming, keep growing” ya benar, semua hal yang baik akan tetap datang, tetaplah bertumbuh. Bertumbuh, tetap hidup dan terus berubah dalam kebaikan, tetap berharap meskipun keadaan tidak seindah bayangan, terus berusaha dan mencari karena pasti akan menemukan. Tetap menjalani kehidupan karena ada kuasa besar yang sudah men-setting sedemikian rupa kisah dan perjalanan yang harus saya lalui.

Apalah saya dibandingkan kebaikan-Nya yang senantiasa ada? Ucapan syukur saya mestinya mengalir bukan karena keadaan, keberuntungan dan kenikmatan saja. Setiap hal yang baik sudah di siapkan untuk saya nikmati, setiap hal yang buruk di ijinkan untuk saya lewati yang berguna mendewasakan dan menguji, memposisikan untuk menggantungkan kelemahan dan kekurangan saya. Pemazmur menuliskan, “Semoga kebaikan dan kejujuran mengawal aku, sebab aku berharap kepada-Mu.” (Mazmur 25:21 BIS). Jujur saya tidak mampu, saya bukanlah sekuat yang terlihat, jika tanpa kebaikan-Nya yang mengawal saya setiap hari saya tidak akan mampu untuk terus berharap. Berharap bahwa dengan saya percaya, saya tetap terus dan selalu mendapatkan bagian saya. 
Kebaikan-kebaikan kecil pagi ini adalah kebaikan-kebaikan besar yang tersembunyi untuk dibukakan dan di nyatakan menjadi bukti. Bukti bahwa Dia memang tidak pernah menegakan dan meninggalkan saya.

Ah, maturnuwun Gusti kopi saya habis di seruputan terakhir menyisakan ampas hitam yang akan terbuang. Tapi kebaikan-Nya tak pernah menjadi sisa dan terbuang. 

Selamat akhir pekan, jangan lupa ngopi. Karena ngopi adalah sebagian dari iman, hehehehehe!

Selamat Jalan Yu…

September 13, 2016

Apalah arti seorang pembantu, maaf…asisten rumah tangga untuk anda? Hanyalah seorang pekerja yang sederhana dengan gaji dibawah rata-rata dan tanpa banyak tanya? Mungkin. Atau seseorang yang anda butuhkan setiap hari karena begitu banyak pekerjaan rumah tangga yang tak mungkin terselesaikan dengan dua tangan anda? Bisa jadi. Seseorang yang ada didekat anda dan menjadi penolong bahkan dengan keadaan yang justru kadang lebih lemah dari kita sendiri, sebagian besar iya.

Panggilannya “Ayuuk…” Mungkin panggilan gampang dari kata mbakyu dalam bahasa Jawa yang berarti kakak perempuan yang lebih tua. Seseorang yang mengaku nggak bisa baca tulis, sendirian hidupnya, di tinggal mati oleh suami dan anaknya, tak ada lagi orang dekat di sekitarnya hanya saudara tiri yang sering pinjam uang yang kadang nggak dikembalikan padanya. Tiga belas tahun dia mengabdi dan tidak mau pergi meninggalkan majikannya yang kadang dia rasa tidak terlalu sayang padanya.

Kemarin si Ayuuk pagi-pagi sekitar jam tujuh pulang pulang ke Sang Pencipta setelah beberapa hari dia menikmati sakit terakhir di jasmaninya. Kemarin dia meninggalkan kata, “maapin ayuuk ya bu…ayuuk pengen mati disini sama ibu” begitu yang dia katakan pada majikannya. Kemarin dia meninggalkan pekerjaannya yang tiap hari saya saksikan. Kemarin dia dengan tenang pulang…

Meninggalkan banyak cerita bagaimana dia setiap hari menyapa dan bercerita ketika sore saya menyapu halaman, ketika kami waktu itu butuh air, ketika dia pengen makan sesuatu dan mendapatkan sebungkus makanan pemberian istri saya, dan sering bilang, “bojomu kuwi putih ayu men…anakmu nurun mama’e ya ora kaya kowe”. Ketika dia menceritakan uangnya yang di pinjam si tukang sampah dan nggak di kembalikan, perhiasaannya yang dijual oleh saudara tirinya dan mengatakan, “piye olehku mbales kowe…mosok aku diwenehi panganan terus?” Kemudian sebungkus gorengan dan seplastik oleh-oleh dia sisihkan diberikan pada kita.

Terimakasih sudah mengajarkan kesederhanaan, keluguan, ketulusan dan juga kerja keras. Kebaikan-kebaikan kecil yang kamu sisihkan. Keindahan hidup yang kamu tunjukkan dengan caramu membawaku pada sebuah kesadaran bahwa hidup adalah sebuah pemberian yang dibaktikan dalam pengabdian, ketulusan dan kesederhanaan. Selamat jalan Ayuk…tenang dan sejahteralah di keabadian.