Sayur Bunga Pepaya


Bunga pepaya di depan rumah sudah kesekian kalinya dipanen. Meskipun sudah saya potong dan kemudia tumbuh empat cabang baru Dan pagi ini Oma minta untuk dipanen lagi karena selain sudah mulai banyak bunganya juga ada rencana mau berbagi ke tetangga samping rumah yang mantunya selalu ngiler lihat bunga pepaya kita. Dengan semangat sabtu pagi yang membara setelah olahraga dan sarapan saya niatkan mulai mengambil bunga pepaya itu, sayangnya…saya terlalu pendek. Hahahahaha…memang kenyataannya demikian, saya harus pakai alat bantu, kursi didalam rumah saya buka dan naikin di bawah pohon pepaya, ternyata hanya memabantu sementara. Kemudian saya ambil tongkat bambu kecil yang saya kasih pengait kawat bekas jemuran untuk membantu saya menarik bunga-bunganya. Singkat cerita bereslah sudah saya memanen, giliran istri saya yang memilih dan memotong bagian yang dimasak, saya tinggal geletakan lagi dan Oma sudah bersiap-siap dengan bumbu-bumbu untuk memasaknya.

Nggak terasa, sudah jam 1 siang, habis selesai nyuci motor rasa lapar sudah mengejar-ngejar. Jadi waktu yang pas buat saya untuk menikmati makan siang. Dan tumis bunga pepaya dengan kangkung juga teri didalamnya sudah sangat menggugah selera plus ikan kembung goreng jadilah makan siang sabtu ini sesuatu yang sangat nikmat luar biasa. Ya sederhana saja, tapi penuh dengan kenikmatan dan keindahan, dari kecil saya tanam dan pisahkan pohon pepaya ini, melewati masa-masa kekurangan air, hingga harus dipotong dan kembali memunculkan bunganya menjadi sebuah perjalanan yang luar biasa. Saya menanam, menyiram dan memanennya, tapi untuk sampai dimeja makan ada tangan istri saya yang memilih dan oma yang memasak. Semua ada bagian-bagiannya yang menjadikan sayur bunga pepaya ini menjadi sebuah cerita.

Kenikmatan sederhana hari ini adalah sebuah pelajaran. Iya pelajaran bahwa, meskipun saya yang menanam, menyiram dan memelihara pohon pepaya hingga berbunga dan siap di masak pun semuanya tidak akan terjadi tanpa Tuhan yang memberi pertumbuhan pada pohon pepaya. Seperti kata Paulus pada jemaat Korintus, “Saya menanam dan Apolos menyiram, tetapi Allah sendirilah yang membuat tanamannya tumbuh.”
“Jadi yang penting adalah Allah, sebab Dialah yang menumbuhkan. Yang menanam dan yang menyiram tidak penting;””keduanya adalah sederajat. Masing-masing akan menerima upah menurut jerih payahnya.” (I Korintus 3:6-8 BIS). Terimakasih Tuhan untuk memberi pertumbuhan dan kehidupan pada pohon pepaya saya, dan tetap memelihara kehidupan saya dan keluarga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: