Archive for March, 2016

BUKTI KEBANGKITAN YESUS

March 27, 2016

Penuai's Blog

Bila Yesus mati apakah Dia benar-benar bangkit ? Menurut J.R.W Stott dalam bukunya Karya Kristus bagi kita. Ada empat bukti untuk membuktikan bahwa Ia sudah bagkit yaitu kubur yang kosong, kain kafan, penampakan Yesus dan murid-murid Yesus yang berubah.

I. KUBUR YANG KOSONG

Kalau anda ke Israel dan melihat tempat dimana dahulu Yesus dikuburkan ada tertulis; “Jangan cari orang hidup di tengah-tengah orang mati, Ia sudah bangkit lihatlah kuburNya kosong”. Ketika kita masuk ke kuburan itu, memang kosong. Saya bersyukur Tuhan Yesus tidak ada kuburanNya. Kalau kita melihat, ada tokoh-tokoh agama tertentu yang mati dan tidak bangkit kembali, kemudian beberapa waktu kemudian ditemukan giginya. Di tempat penemuan itu kemudian dibuat kuil sebagai bukti bahwa sang tokoh pernah hidup. Saya bersyukur Tuhan Yesus sudah bangkit. Jadi tidak perlu ada kuburan untuk mengenangNya.

View original post 626 more words

Segelas Kebaikan

March 24, 2016

Dengan sisa tenaganya menjelang sore menghampiri warung kopi kecil pinggir jalan dan kemudian suaranya yang memelas bertanya, “ada air..” Sebentar kemudian si mang jualan kopi mengambilkan segelas air kemasan dan memberikan pada ibu tua itu. Kemudian tanpa permisi berlalu ibu itu begitu saja, si mang menyahut, “mana uangnya Bu?” Jawabnya, “nggak ada pak…saya minta ya?” “Oh iyaa…sudah nggak papa…sudah bawa aja”.

Masih ada segelas kebaikan sore ini saya saksikan ditengah terik panas menyengat. Masih ada orang yang lebih mementingkan hati daripada sejumput uang penambah rejeki. Masih ada hati yang tulus ikhlas memberi meskipun hanya segelas air pelepas dahaga.

Betapa saya tersentuh dan juga belajar tentang memberi dan berbagi, ya mungkin hanya segelas air mineral bahkan hanya dengan uang sebesar 500 rupiah, namun nilai pemberiannyalah yang besar bukan harganya. Kitab kebijaksanaan menuliskan, “Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.” Betapa dalamnya pelajaran sederhana yang saya dapatkan bahwa siapapun kita saat memberi akan mendapatkan kelimpahan. Bukan sekedar kelimpahan materi semata namun kepuasan batiniah dan semakin meningkatnya pengalan rohaniah seseorang yang menjadikannya pengalaman seperti ini menjadi kaya. Siapa memberi minum ia sendiri akan diberi minum, bahwa hukum tabur tuai akan berlaku sepanjang kehidupan, kapan pun itu waktunya kita pasti akan menerima.

Segelas air kebaikan, segelas air mineral yang membuat saya belajar lagi…betapa kayanya kita saat memberi, saat berbagi.

“Berbagi Bukanlah Karena Kita Punya. Akan Tetapi Karena Tahu Rasanya Tidak Punya” – Toneed

image

Kisah Si Daun Singkong

March 21, 2016

Minggu siang dalam perjalanan menuju Ibadah di jalan saya memperhatikan sebuah mobil pick up yang mengangkut daun singkong penuh di bak belakangnya. Melewati satu warung nasi padang dia berhenti dan saya terjebak sedikit kemacetan, kemudian lanjut ternyata berhenti lagi dia di sebuah rumah makan padang dengan merek yang terkenal karena sederhana, eh…itu namanya ya. Maaf!
Berpikirnya adalah, petani penghasil daun singkong ini luar biasa sekali, setiap hari bisa mengirimkan satu penuh mobil pick up daun singkong segar dan bisa menyuplai berapa banyak warung dan rumah makan padang yang bertebaran di Jakarta dan sekitarnya. Berapa ya penghasilannya ya setiap hari? Lha malah pengen itung-itungan saya. Hehehehe…pasti lumayan ya. Ah sudahlah, justru sebenarnya saya itu tertarik kenapa dimasakan padang selalu ada sayur daun singkongnya? Kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa ada sesuatu dibalik nikmatnya daun singkong rebus diantara sambal cabai hijau, rendang dan lain-lainnya? Apakah ini konspirasi nenek moyang?

Dan siang ini saya kembali menikmati makan siang dengan menu nasi padang yang lagi-lagi memaksa saya untuk menghabiskannya dengan cara yang paling nikmat sedunia, orang jawa bilang “muluk” alias makan pakai tangan. Dan saya masih harus mencari jawabannya mengapa harus ada daun singkong di menu nasi padang? Akhirnya saya menemukan jawabannya di sebuah blog yang saya salin ulang dari alamatnya: http://www.saribundo.biz/filosofi-daun-singkong-padang.html, menuliskan tentang Filosofi Daun Singkong Padang seperti berikut ini:
“Daun singkong itu sudah mutlak jadi lalapan. Beda sama orang Sunda yang suka lalapan dengan macam-macam sayuran,” imbuhnya. Masakan Padang sendiri memiliki beberapa filosofi. Salah satunya filosofi yang berkaitan dengan daun singkong.

Daun singkong padang disebut menggambarkan kesederhanaan orang Padang. “Daun singkong itu kan bahan yang murah. Bahkan, nggak perlu beli kita bisa ambil di kebun. Istilahnya kita nggak perlu barang mahal untuk membuat makanan enak,” paparnya.

Selain itu, masakan Padang terkenal dengan bumbunya yang pekat dan jenis lauk yang mengandung kolesterol tinggi. Di situlah fungsi dari daun singkong ini. “Daun singkongnya bisa jadi penyeimbang untuk mengurangi kolesterol yang masuk ke perut,” tutupnya. 

Jadi ini lho jawabannya daun singkong itu sebuah bentuk kesederhanaan dan penyeimbang. Dan hidup ini perlu dinikmati dengan filosofi ini…sederhana dan seimbang!

image

Photo by wikipedia

Kangkung Segar

March 19, 2016

Semalam setelah minum obat anti alergi langsung tertidur sampai pagi ini masih saja terasa ngantuknya. Jam 9 pagi baru bisa turun dari kasur dan kemudian menyeruput kopi seperti ritual pagi biasanya. Ternyata si mami Lia pengen makan gado-gado walhasil mandilah saya karena ternyata semalam nggak mandi. Maaf….hehehehehe! Selesai mandi diajaklah si Abby juga untuk ikut beli makan dan kita akan membelinya dengan jalan kaki which is it’s a lil bit far from our house. Lumayanlah seklaian buat exercise.

Kita jalan melewati perkampungan samping perumahan kemudian menembus perumahan yang lain menyeberang melewati jalan tembus yang lain dan sampailah di tempat tujuan. 2 bungkus plus kerupuknya siap dibawa pulang. Sementara Abby minta ayam goreng crispy yang baru matang di depan jualan gado-gado. Lanjut jalan pulang mampir beli tempe. Pulang deh….jalan dengan santai.

Hampir sampai rumah, diatas perumahan kita ternyata ada petani sayuran sedang memanen bayam dan kangkung. Saya menawarkan si mami buat beli disetujui, dan dengan 5 ribu rupiah saja seikat beaar kangkung yang langsung dicabut dari tanah tempat tumbuhnya oleh pak tani pindah ketangan saya. Hati senang dan girang karena jarang-jarang bisa beli langsung sayuran dari petaninya.

Tuhan memang luar biasa menciptakan tanaman yang bisa kita konsumsi menjadi makanan yang nggak cuma enak tapi bergizi sekaligus memberi nilai ekonomi. Semoga berkah ya pak panenan hari ini…besok masih ada lagi. Amin.

“Engkau menumbuhkan rumput untuk hewan, dan bagi manusia segala macam tanaman. Maka ia dapat bercocok tanam,”
Mazmur 104:14 (BIMK) 

image

Sepotong Singkong Goreng Pagi Ini

March 17, 2016

Sepotong singkong goreng saya terima dari tangannya dan sembari saya tatap matanya saya katakan  terimakasih. Bukan makanan yang biasa dibawa oleh anak seusianya di sekolah taman kanak-kanak dimana saya mengajar, menjadi guru. Saya suka, karena singkong goreng meskipun terlihat sederhana dan kadang dianggap murahan dan nggak kekinian tapi bagi saya tetaplah makanan yang kece badai…asli lokal, enak ajib bin laziz yang benar-benar bikin saya ngiler. Renyah, gurih dan lembut rasanya itu nggak akan tergantikan dengan rasa donat dan roti coklat keju yang di mall-mall itu. Hahahahaha…terasa lebay ya.

Ah, enggak juga sih menurut saya. Saya sangat menghargai dan mengapresiasi tindakannya dalam berbagi. Bahasa kerennya sih sharing. Mengajarkan berbagi alias sharing sejak dini, apalagi di sekolah bukanlah perkara mudah. Apalagi jika mereka adalah anak satu-satunya yang merasa punya hak atas segalanya. Mengajak mereka mulai menyadari bahwa mereka bisa melakukan sesuatu bagi orang lain dan mewujudkannya dalam tindakan kasih sayang sekaligus bermurah hati adalah bukan pelajaran sederhana, bagi saya ini adalah pelajaran dasar kehidupan yang akan mereka bawa seumur hidupnya. Bolehlah dibilang life skills gitu.

Sepotong singkong goreng pagi ini adalah cerita tentang kemenangan, kebaikan, ketulusan dan keindahan dalam berbagi. Entah apa yang ada di hatinya, tapi bagi saya dan di dalam hati saya. Singkong goreng pagi ini mencerahkan hari dan memberi makna hidup.

Kitab kebijaksanaan menuliskan seperti ini, “Siapa memelihara pohon, akan makan buahnya…” Amsal 27:18a (BIMK). Saya percaya sedang memakan buah dari hasil pohon kehidupan yang saya tanamkan sari waktu ke waktu dikehidupan anak didik saya. Maturnuwun Gusti.

image

Cerita Kopi Lagi

March 17, 2016

@TwitFAKTA: Kafein dalam kopi dapat meredakan rasa nyeri dan 40 persen lebih efektif dalam mengobati sakit kepala.

Sepertinya twit diatas cocok sekali dengan apa yang biasanya istri saya alami kalau hari sudah menjelang sore, kerjaan menumpuk plus ngurusin rewelnya orang-orang di kantornya…dan kopi adalah teman sekaligus obat yang manjur dengan situasi itu. Entah mungkin karena tersugesti juga atau memang sedemikian kuat efek nikmat dari kopi yang jelas benar-benar membantu mengurangi beban dikepala bukan beban di dompetnya, hahahahaha!

Terimakasih Tuhan sudah menciptakan kopi dan menumbuhkannya plus memberikan kreativitas pada mereka yang menemukan, mengolah dan meraciknya dengan luar biasa hingga menciptakan minuman yang nikmat dan sehat (sehat menurut twit diatas lho…nyatanya bisa mengobati sakit kepala). Bila tidak ada penemuan kopi menjadi minuman dan semakin majunya jaman membuatnya dapat diracik sedemikian rupa sangatlah luar biasa bukan hasil ciptaan dan Sang Penciptanya?

Terimakasih Tuhan, buat saya nikmat kopi segelas tiga ribu yang saya nikmati di warkop pinggir jalan itu nggak kalah dengan kopi kafe puluhan ribu. Nikmat bukan karena sekedar tempat, harga, dan tampilan kopinya, tapi nikmatnya adalah ketika segelas kopi bertemu dengan pengalaman dan pembelajaran dari mereka yang “menikmati” hidup dengan cara mereka masing-masing.

Yuuuk…sruppuuut lagi!

image

Makan Malam Di Rumah Duka

March 13, 2016

Malam ini kami berdua berkunjung ke rumah duka di daerah Cijanting untuk memberikan simpati dan ucapan dukacita atas berpulangnya mama dari istri adiknya kakak ipar. Nah…susah kan ngejelasinnya? Ya pokoknya gitulah. Setiap kali datang di rumah duka itu selalu mengingatkan bahwa kapanpun, dimanapun, bagaimanapun kita bukanlah pemilik hidup kita sebenarnya, ada DIA yang berada diatas semua kehidupan dan yang menentukan hidup dan mati kita.

Namun bagian yang terbaik adalah bukan hanya merenung dan mengevaluasi kehidupan. Yang baik malam ini adalah bahwa saya pertama kali makan di rumah duka dengan menu ala Batak, asli pertama kali. Bukan berarti nggak pernah makan pas ada kedukaan, tapi ini beneran beda, hahahaha…di ajak kakak ipar langsung menuju tempat mengambil makan ala prasmanan, nasi, daging babi masak apa nggak tau namanya, ayam kentang bumbu kuning, ikan teri pedas, sayur daun singkong tumbuk. Wow…banget sih! Hahahahaha…secara saya yang orang jawa jarang-jarang lihat ada model yang seperti ini.

Bersyukurnya adalah kita berdua belum makan malam dari rumah. Kita pikir bisalah nanti setelah melayat mampir dulu makan, bisa milih banyak makanan di pinggir jalan Jakarta ini kan? Ternyata ini bagian berkat kita. Lumayan…ngirit! Mesakipun pulangnya nglewatin Martabak Bangka Asli Sonny yang sudah kira-kira setahunan (lebay dikit…) Nggak mampir buat beli. Ya sutralah….ini bisa buat sarapan atau bekal Abby besok sekolah.

Eniwei, selalu ada hal-hal yang bisa dipelajari dan diceritakan untuk terus mengingatkan bahwa ada waktu menikmati dan bersukacita, ada waktu susah dan bersedih juga!

“Lebih baik pergi ke rumah duka daripada ke tempat pesta. Sebab kita harus selalu mengenang bahwa maut menunggu setiap orang.”
Pengkhotbah 7:2 (BIMK) 

image

Sabtu Ceria

March 12, 2016

Cek ke dokter sudah selesai dengan hasilnya yang meskipun tidak terlalu menyenangkan tapi tetap harus bersyukur karena paling tidak Oma bisa ketahuan akhirnya hanya asmany saja yang kambuh agak parah, nggak bronkitis atau tbc. Saya dan Abby duluan menuju gedung bioskop di dalam pusat perbelanjaan di samping rumah sakit itu dengan berjalan kaki berdua. Tiba disana ternyata belum buka tapi antrian sudah mulai mengular panjang. Bersyukur bisa masuk depat dan antri cepat juga. Done tiketnya lalu ngajak si bulet yang sudah terlihat lapar, cari yang dekat saja ternyata ada makanan cepat saji yang menyerupai merk terkenal di lantai bawah tapi ini harganya lebih miring. Ya sudah karena waktunya juga nggak bisa lama. Mami dan Oma nyusul kemudian setelah mereka selesai membayar obat.

Setelah selesai buru-buru menjejalkan ayam dan nasi lalu kami masuk ke dalam bioskop. Dan siap menikmati filmnya. Mulai filmnya dan …. Bagus banget sejak dari awal, bukan hanya sekedar kelucuan tapi juga penuh makna dan pembelajaran. Bahwa menjadi seseorang itu memang perlu mencari siapa diri kita dan tujuan untuk apa kita diciptakan, dan menjadi seperti apa sebenarnya diri kita tidak akan pernah lepas dari kebaikan dan kasih sayang orang-orang yang dekat dalam kita.

Selesai nonton lanjut kita ngambil obat Oma yang tertunda, sementara Oma dan cucunya makan es krim di resto siap saji. Sambari bersiap pulang, ternyata Oma sudah lama pengen punya pohon jeruk ciwi, eh kebetulan lagi ada pameran flora fauna di sekitar pusat perbelanjaan itu jadi mampirlah kita, dengan bertanya kita tahu harganya 75 ribu, jurus tawar menawar langsung di keluarkan. Nggak pakai cek cok lama…jatuh di harga 50 ribu. Si mami datang setelah nganter Abby pipis dan mau beli pohon Rosemary yang jarang-jarang ada. Nego dari 30 ribu jatuh di harga 29 ribu. Mantaplah ya hari ini, ke rumah sakit buat Oma, nonton bareng keluarga, beli pohon dan pulangnya naik taksi dengan drivernya bernama Aseli iya namanya Aseli. Hehehehehe….laif is gut…nggak gut ya kali aja bukan laif!

image

image

image

MMAR (Mahal Mahal Ada Rejekinya)

March 5, 2016

Diruang tunggu setelah perikasa gigi siang ini.

Abby, “pap, satu jam lagi udah boleh makan lho….”
Papi, “iya…terus mau makan apa dan dimana?”
Abby, ” di d’cost aja, sudah lama sekali pap kita nggak kesana”
Papi, ” tapi, papi uangnya tinggal sedikit nih…gimana dong?”
Abby, ” iyaa…mahal-mahal nanti ada rejekinya”
Ahahahahahahaha…..
Tertawa keras saya di ruang tunggu.

Abby, ” dari Tuhan Yesus pap rejekinya….” Lanjut dia menjelaskan kata-katanya.

Kadang iman saya yang secuil dan masih ragu ini seringkali masih saja sangsi dengan cara dan penyertaan Tuhan. Dialah Allah yang menyediakan. Yang mencukupkan dan juga memberikan apa yang kita butuhkan.

Sesederhana pemikiran Abby siang ini seharusnya saya menikmati kehidupan dan mengerjakan iman saya bahwa hidup setelah melewati tantangan dan halangan (sakit gigi dan nahan lapar sejam) harus dirayakan dengan makan enak ala bintang lima harga kaki lima yang dia inginkan, dan tetap mempercayai sepenuhnya harga mahal ada rejekinya! Iyaaa….harga mahal pasti ada rejekinya. Terimakasih untuk obrolannya ya Bby.

“Mengapa tidak belajar menyenangi hal-hal kecil? Karena begitu banyak hal kecil yang berpengaruh besar” Slamet Riyadi – penulis

image