Pada Kemacetan Pagi Ini


Dengan tangkas tangannya memasukkan beberapa tempe goreng dan tahu ke dalam plastik, lalu sedikit berlari dan menyeberang jalan, berhenti disamping pintu sopir dan menyerahkan ke sopirnya. Seorang sopir metro mini yang sedang terjebak macet pagi ini, si bapak penjual tempe sediki berteriak dengan bahasa jawa yang kental kental, “wis digawa wae…” (Sudah bawa saja artinya) padahal si sopir sudah mengambil uang limaribuan untuk diserahkan ke penjual tempe itu. Bisa jadi mereka adalah teman lama, atau tetangga desa, atau dulu teman sekerja atau entah apa saja bagaimana mereka dulu tidaklah sepenting apa yang sedang saya saksikan.

Jarang-jarang melihat pemandangan seperti ini ditengah kepadatan dan kemacetan Jakarta pagi hari sehabis hujan mengguyur. Tidak sekedar rentetan mobil dan motor yang berjejeran menghabiskan ruang dan jalanan, kali ini melihat sebuah kebaikan kecil dan sederhana yang memberikan pelajaran bijak, masih ada pertemanan dan kebaikan disela beringas dan kejamnya kota.

Seorang bijak mengatakan demikian, “… orang yang mengusahakan kebaikan akan bahagia.” Ahaa, mengusahakan! Mengusakan adalah sebuah kata kerja yang berarti mencarikan daya upaya; mengikhtiarkan! Sebuah tindakan dari seseorang yang dibarengi dengan dengan wujud nyata yang baik. Mengusahakan kebaikan akan bahagia? Demikian memang senyatanya. Dan saya pun ikut merasakan kebahagian itu. Betapa berharganya persahabatan, kebersamaan, dan macet di Jakarta.

Advertisements

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: