Ngomel


Yang namanya pak A.W Pink menulis kata-kata bijak yang saya sadur dengan kata-kata sendiri kira-kira seperti ini, “daripada kebanyakan ngomel karena apa yang nggak dimiliki, orang yang puas itu selalu bersyukur dengan situasi dan kondisinya yang nggak lebih buruk dari dirinya sendiri”. Wadaaaw…saya sih emang nggak buruk-buruk amat ya…eh maksudnya tampan, hadeuh…bukan, emmm…diri saya sendiri nggak buruk dalam artian sehat, tidak terserang penyakit yang membahayakan dan masih bisa bernafas dengan lega. Nah, bedanya memang situasi dan kondisinya. Situasinya lagi memanas…lagi musimnya, nggak hujan-hujan…sampai air sumur dirumah mau habis (kemarin-kemarin sih, sekarang sudah mulai hujan tiap hari). Kondisinya kami lagi nggak punya uang, iya berdua sudah habis-habisan sekarang. Tapi kami tetap bersyukur. Nggak mau melihat hal ini sebagai kesusahan. Katanya it too shall pass…ini juga akan berlalu, semacam badai dilagunya Chrisye yang berlalu juga pada akhirnya.

Nah, jebakan ngomel itu adalah hal kecil yang akan menjadi besar semacam sengatan lebah yang membengkakkan dan bisul yang mulai mekar sampai dia keluar semuanya. Ngomel dari hal-hal sepele bisa berakibat kemane-mane…kenape? Karene piye….eh, karena dengan mengomel berarti membuka satu pintu kecil untuk menyampaikan kekurangan yang tidak disukai, kekurangan apa saja! Jadi bener bingits kata si Pak Pink diatas, jangan ngomel dah ah! Bisa kebawa kemenong-menong cyiin…rempong endingnye!

“Tempat itu dinamakan Masa karena di tempat itu orang Israel mencobai TUHAN waktu mereka bertanya, “Apakah TUHAN menyertai kita atau tidak?” Tempat itu juga dinamakan Meriba karena di tempat itu orang Israel mengomel.” (Keluaran 17:7 BIS). Ini ayat menceritakan kisah orang-orang Israel yang dibawa Musa dari Mesir menuju Tanah Perjanjian, ditengah perjalanan mereka ngomel karena nggak ada air, kehausan. Lha kalau satu orang…ini ribuan orang, ngomel bareng-bareng, kali aja suaranya kayak lebah tawuran. Sampai tertulis bahwa omelan mereka itu mencobai Tuhan. Biasanya yang sekarang kita katakan bahwa Tuhan sedang mencobai umatnya, memberikan pencobaan…lha ini manusia ciptaanNya kok malah yang mencobai Tuhan, nantangin gitu kali ya. Untunglah Nabi Musa ini memang pilihan Tuhan, hingga tempat pengomelan orang Israel saja sampai diberi nama Meriba.

Sederhananya buat saya sih, saya masih terus belajar untuk tidak ngomel. Tapi memang susah…asli beneran susah, jujur itu ya. Yang penting saya nggak mau mencetak Meriba-Meriba baru dimana saya ada. Jangan sampai saya mencetak tempat pengomelan pada sesama dan terutama Tuhan dimana saya berada, saya berusaha, ya bekerja keras untuk bisa memperkatakan kebaikan dan berkat, bukan omelan. Seperti yang tertulis, “Tetapi sekarang hendaklah kalian membuang hal-hal yang jahat dari dirimu: … Jangan sekali-kali keluar dari mulutmu perkataan-perkataan caci maki atau perkataan yang kotor.” (Kolose 3:8 BIS). Dan saya pikir omelan termasuk didalamnya.

Terimakasih Tuhan, pak Pink dan Meriba…saya sudah boleh belajar tentang omelan.

Advertisements

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: