Archive for November, 2015

Belajar Dari Bang Jack

November 27, 2015

“Kamu dapat apa?” Tanya Deddy Corbuzier, dan bang Jack seorang tukang parkir berpenghasilan rata-rata 50ribu rupiah perhari menjawab, “saya dapat kebahagiaan” terhenti sejenak dan rasa harunya jatuh dalam tetesan air mata. Saya sedang menyaksikan Hitam Putih Goes To Campus sore ini saat sampai rumah.sangat menyentuh dan inspiratif sekali.

Kebahagiaan, kata sederhana yang kadang kita banyak mengukurnya dengan kenikmatan dan kelimpahan materi, kemampuan untuk memiliki barang berharga hingga segala yang bisa di ukur dengan harga. Tapi sore ini meskipun singkat saya belajar sangat mendalam dengan sikap dan tindakan bang Jack yang luar biasa. Harus pergi dari kontrakannya karena tidak bisa membayar setahun kontrak, negosiasi dengan mertua untuk mendapatkan ruangan rumahnya menjadi sekolah, penghasilan pas mepet dengan menyisihkan antara 10ribu sampai 15ribu sehari sungguhlah bukan hal yang mudah, namun menjadi kenyataan.

Ah, lagi-lagi kata kebahagiaan ini selalu mengusik. Kebahagiaan itu ternyata dekat sekali dengan kata cukup. Bukan melimpah dan berhamburan.  Daisaku Ikeda
mengatakan, “Mari kita memberikan sesuatu kepada setiap orang yang kita temui: sukacita, keberanian, harapan, jaminan, atau filsafat, kebijaksanaan, visi untuk masa depan. Mari kita selalu memberikan sesuatu.” Dan saya rasa kebahagiaan itu tidak akan pernah habis ketika dibagikan, bahkan akan semakin membesar. Saya masih belajar, bahkan jauh dari apa yang bang Jack lakukan, tapi saya berbahagia sekarang, dengan segala kekurangan dan kelebihan yang saya miliki … Salah satunya bahagia jadi guru TK. Anda?

“Kalau berbuat baik, upahnya ialah hidup bahagia; …” (Amsal 10:16 BIS).

image

Advertisements

Tragedi Tomat Cherry

November 27, 2015

Menjelang malam sampai dirumah saya menemukan empat butir tomat cherry yang ditanam di depan rumah. Saya bilang kok udah dipanen padahal masih hijau? Aah, Oma langsung menyahut, “itu teh si budak bangor di ambilin semua tomatnya, pulang dari sekolah lihat tomatnya udah berceceran di tanah nangis sesenggukan si Abby…”

Oalah, ternyata ya…saya kira sudah dipanen. Ternyata itu di cabutin sama anak tetangga yang memang sudah beberapa kali suka cabutin bunga yang saya tanam di depan rumah, dan setelah mengecek ternyata daun pepaya yang masih muda juga ikutan di cabutin sama dia.

Tomat cherry itu satu-satunya yang bisa bertahan hidup dan membesar sampai berbunga dan kemarin sudah hampir dua minggu buahnya membesar. Itu adalah hasil Abby dan maminya belajar menanam bibit waktu liburan yang lalu. Setelah melewati musim kering dan nggak setiap hari disiram, bertahan juga si tomat ini. Niatnya sih bisa melihat buah-buahnya yang lumayan banyak dibeberapa tangkai matang sempurna dipohonnya, tapi ternyata ada kejadian lain yang terjadi. Sampai saya tanya si Abby, dia masih manyun dan memonyongkan mulutnya tanda kesel banget kayaknya.

Sebenarnya sih antara kesel dan kasihan saya sama anak ini, dia suka main sendiri, perangainya kasar dan susah untuk diberitahu. Untuk anak perempuan usia 4 tahunan seharusnya bisa diajari untuk lebih teratur dan bersikap lebih baik. Saya tidak menyalahkan konsep parenting orang tuanya, karena saya juga tidak tahu masalah apa yang mereka hadapi dengan anaknya. Yang jelas menurut sepenglihatan saya anak ini memang butuh bimbingan, kasih sayang sekaligus disiplin untuk mengerti hal-hal yang seharusnya sudah bisa dimengerti oleh anak seusianya.

Ah…ya sudahlah! Saya lebih memikirkan untuk mengajak Abby belajar bercocok tanam lagi nanti setelah ulangan minggu depan, mengisi akhir pekan dengan kegiatan yang bermanfaat dan mengajarinya mencintai alam sekitar. Masih ada beberapa bibit tomat cherry, paprika, lobak, bayam merah, sawi hijau dan kangkung yang bisa saya tanam lagi. Tapi tampaknya harus disiapkan tempat yang aman, bukan didepan rumah lagi. Maklumlah…belum dipagar soalnya rumah kita. I love you tomaaaaat!

image

Cek … Cek!

November 26, 2015

Beneran deh saya nggak ada niatan untuk melakukan cek kondisi tertentu pada tubuh saya. Ceritanya sore ini saat pulang dari kerja, si mami minta untuk mampir di Apotek Generik di jalan menuju rumah. Saat belanja untuk kebutuhan first aid di kantornya dia melihat seseorang yang sedang diperiksa oleh salah satu karyawannya, kemudian bertanya, “itu sedang diapain sih mbak?” Jawab kasirnya, ” itu cek darah bu, langsung bisa tahu hasilnya untuk cek gula darah, asam urat dan kolesterol” dan akhirnya nanya juga si mami, “berapa mbak untuk biaya ceknya?” Jawabnya lagi, “totalnya 39 ribu rupiah bu untuk cek 3 jenis diatas tadi!”. Kemudian si mami menghampiri saya yang sedang menunggu duduk diteras depan apotek. Pikir-pikir akhirnya saya mau juga. Mumpung murah juga sih.

Sambil menunggu akhirnya si mbak yang biasa melakukan tugas pengecekan mempersiapkan jarum baru, 3 buah set khusus berbentuk kecil sekali untuk menampung darah berwarna biru, hijau dan merah. Kemudian di jari tengah tangan kanan saya ditusuk dan keluarlah darah, lalu mulailah pengecekan satu persatu. Daaaaan…oh mai God! hasilnya cukup mengezutkan, gula darah saya aman tapi dibawah normal, katanya mesti nambah minum manis, padahal saya sudah manis. Eh…! Hehehehehe, nah kalau kadar asam urat sudah diatas normal. Hadeuuuh…pantesan beberapa hari yang lalu makan sayur daun singkong, malamnya kaki langsung terasa pegal dan linu apalagi disekitar sendi. Lanjutan hasil terakhir untuk kolesterol kalau normal itu mestinya dibawah 200 lha hasil pengecekan saya ternyata sudah 237. Oooooo…warning keraaaasss! Saya sudah mulai tidak sehat. Jelas sudah jarang olahraga, makan kadang memang tidak sehat. Jadi tampaknya memang harus memulai gaya hidup yang baik dan sehat, bukan hidup buat nggaya dan sok merasa sehat.

Memang kalau nggak dipaksa periksa bakalan nggak tahu dan terus-terusan saya merasa baik-baik saja.  Jadi akhirnya kami berdua bersepakat untuk mulai olahraga lagi dan memperbaiki pola makan. Jadi ya…baiklah peringatan ini menjadi landasan yang baik untuk menuju kehidupan yang sehat. Kalau saya sehat berumur panjang tentu saja saya bisa melihat kehidupan anak saya nanti hingga bercucu. Terimakasih untuk peringatannya Tuhan. Syukur sekarang sudah ketahuan ada yang nggak beres dan belum terlambat.

“Perhatikanlah kata-kataku, anakku! Dengarkan nasihat-nasihatku. Janganlah membuangnya, melainkan simpanlah selalu di dalam hatimu.Orang yang memahaminya akan hidup dan menjadi sehat.” (Amsal 4:20-22 BIS).

image

Sales dan Semut

November 26, 2015

Lagi nongkrong sore-sore nunggu istri saya pulang sambil ngopi. Dihadapan saya seorang ibu dan anak muda sedang sibuk menulis dan mengecek daftar harga barang-barang yang biasa dijual di warung dan toko-toko kelontong. Kemudian datang satu lagi teman mereka untuk koordinasi jualan tampaknya. Kemudian si ibu ini dengan ramah menyapa sambi berkata, ” sama mas ini ya, udah janjian sama siapa mas?” Saya tersenyum dan bingung menjawabnya, jadi nggak keluar kata-katanya. Wong mau jemput istri disangka sales juga, apa memang ada tampang salesman juga kayaknya. Ya nggak papa, mungkin ini pertanda baik saya bisa juga jualan nantinya kalau ada kesempatan.

Belajar tentang kegigihan mereka ya, meskipun tidak meeting secara formal, dimanapun dan kapanpun bisa dilakukan untuk mendapatkan progress yang maksimal dalam pekerjaan mereka. Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti dari kegigihan adalah:
ke.gi.gih.an
Nomina (kata benda)
(1) keteguhan memegang pendapat (atau mempertahankan pendirian dan sebagainya) ;
(2) keuletan (dalam berusaha)

Saya sangat sependapat dengan yang kedua bila diselaraskan dengan apa yang para sales ini kerjakan. Keuletan itu memang memegang peranan penting dalam menjalankan usaha, sementara saya beberapa kali mencoba jualan dan melakukannya ternyata masih belum maksimal juga hasilnya. Di laman temukanpengertian.com , memberikan pengertian Keuletan artinya tangguh, kuat, dan tidak mudah putus asa. Seorang wirausaha yang mempunyai cita-cita tinggi, misalnya ingin menjadi orang yang terkenal dan berhasil, biasanya sangat ulet dalam mencapai cita-citanya. Cita-cita yang tinggi akan menjadi pendorong dan daya tahan dalam menghadapi segala rintangan, hambatan, cobaan, dan kendala yang dihadapi. Banyak di antaranya orang yang sudah putus asa, menyerah kalah karena melihat tanda-tanda kegagalan.

Kegigihan dan keuletan memang memberikan pengertian yang memperjelas bahwa seseorang itu punya kekuatan. Tapi kalau kita nggak kuat atau merasa memang tidak kuat? Ahaaa, minum obat kuat kali yaaa? Wait…tampaknya nggak perlu itu dulu. Saya menemukan dalam tulisan bijaksana Salomo seperti ini, “Semut, binatang yang tidak kuat, tetapi menyediakan makanannya pada musim panas.” (Amsal 30:25 BIS). Naaah, ternyata ini salah satu jawabannya. Meskipun sudah berkali-kali membacanya dan juga banyak yang mengulas dan membahasnya di mimbar kotbah, pembicaraan dan tulisan, tampaknya saya mendapatkan kesempatan untuk menikmati sekaligus mempelajarinya sendiri.

Semut memang tidak kuat, oh ya? Ya kalau di lihat dari segi bentuknya yang kecil ramping dan mudah di matiin (kejam!) Memang demikian adanya, namun ternyata dan  katanya yang sudah menyelidiki semut mampu mengangkat beban hingga 10x lipat berat badannya sendiri. Yang paling sederhana dari tulisan bijaksana di atas adalah mereka menyediakan makanannya pada musim panas. Menyediakan makanan berarti melakukan persiapan selama masa-masa sebelum musim panas. Semua waktu digunakan untuk bekerja keras untuk mempunyai tabungan makanan, ada bahan makanan yang tidak dihabiskan sekaligus.

Dan beberapa hal yang bisa saya pelajari dari para Sales dan Semuts ini antara lain :
1. Jangan menyerah dengan keadaan sekarang, terus berusaha keras.
2. Berpikirlah kedepan jangan melihat kesusahan dan kegagalan yang pernah terjadi.
3. Bersikap positif karena itu akan menjadi sumber daya dan kekuatan untuk terus gigih dan ulet dalam bekerja dan berusaha.
4. Kerjakan semua yang kamu bisa selama kita mendapatkan kesempatan untuk melakukannya karena percaya selalu ada balasan yang tepat untuk kita.

Terimakasih pencerahannya ya para Sales dan Semuts hari ini.

Menjadi Guru

November 25, 2015

Menjadi guru itu bukan pekerjaan (menurut saya lho…) Kalau pekerjaan ya pasti akan dibayar sesuai dengan beratnya tanggung jawab ngajarin anak murid, ngurusin mereka dari urusan pipis, cebok, nangis Sampai baca dan nulis (kok terasa curhat nulisnya…hahahahaha). Lha kalau memang mau jujur dan memang mau tahu rasanya, cobalah mengajar dikelas playgroup dan TK, anda akan merasakan nikmatnya mengajar dan merasakan pengalaman yang emejing dengan anak-anak kecil ini.

Menurut Wikipedia Indonesia Guru (bahasa Sanskerta: गुरू yang berarti guru, tetapi arti secara harfiahnya adalah “berat”) adalah seorang pengajar suatu ilmu. Dalam bahasa Indonesia, guru umumnya merujuk pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.

Indoberita.com menceritakan sejarah hari jadi guru seperti berikut ini. Sebetulnya, peringatan Hari Guru Nasional sudah tercatat diperingati setiap tanggal 25 November 2015 pada sebuah Keputusan Presiden, No 78 Tahun 1994 silam. Akan tetapi, dengan perjuangan panjang baru sepakat jika setiap tanggal 25 November menjadi Hari Guru Nasional. Apabila Google memperingati dengan tulisan National Teacher’s Day, maka tepat di Indonesia diperingari sebagai Hari Guru nasional dan Hari jadi PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia). Sejarahnya sendiri adalah disaat waktu itu bukan bernama PGRI akan tetapi PGHB atau Persatuan Guru Hindia Belanda, tahun 1912 silam. Organisasi tersebut mempunyai sifat sekedar unitaristik yang beranggotakan guru bantu, guru desa, kepala sekolah, juga para pemilik sekolah. Usai sekitar 2 dekade, PGHB pun berubah menjadi PGI (Persatuan Guru Indonesia), sehingga langsung menjadi heboh dan membuat geram Pemerintah Belanda, Pemerintah Belanda waktu itu tidak mau jika rasa patriotisme bangsa Indonesia ada sehingga merekapun marah dan terjadi banyak insiden memilukan. Akan tetapi, para guru yang tegabung dalam PGI tetap semangat berjuang untuk lepas dari bayang-bayang bangsa Belanda, dengan satu kata ‘Merdeka’. Akan tetapi, sangat disayangkan setelah PGI lepas dari nama Hindia Belanda, tepat ketika masa pendudukan Jepang hampir semua organisasi pun dilarang sehingga sekolah banyak yang ditutup sampao organisasi PGI yang tak lagi aktiv bersuara. Sehingga, usai adanya proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945 Organisasi yang digawangi para guru tersebut, PGI, langsung lakukan Kongres Guru Indonesia tepatnya pada tanggal 24 sampai 25 November 1945, bertempat di Surakarta. Sehingga, hasil kongres mencatatkan sejarah baru, dimana pada tanggal 25 November 1945, PGRI pun selanjutnya berdiri, sehingga sebagai rasa penghormatan dan terima kasih pada para para guru, pemerintah pun langsung menetapkan jika hari lahir PGRI sama sebagai Hari Guru Nasional, atau Hari Guru Nasional.

Balik lagi kalau saya katakan menjadi guru itu bukan sebuah pekerjaan tapi sebuah panggilan. A life calling. Kenapa? Mengajar dan mendidik itu tidak hanya membutuhkan skill alias kemampuan namun juga lebih dari itu adalah hati. Iya, hati untuk memberi dan membagikan sesuatu dalam hidupnya kepada kehidupan orang lain, murid-muridnya. Seseorang menulis arti dari panggilan hidup seperti ini : Panggilan berarti seruan yang membuat orang mengarahkan pandangan kepada si penyeru. Dengan demikian panggilan hidup adalah seruan yang membuat seseorang mengarahkan hidupnya kepada suatu titik. Bila dihubungkan dengan panggilan Tuhan, maka panggilan hidup itu sendiri berarti seruan Tuhan kepada setiap orang supaya mengarahkan hidup mereka kepada apa yang menjadi kehendak Tuhan. Seruan ini bisa bersifat umum bagi seluruh manusia, tapi juga bersifat khusus untuk setiap individu secara unik.

Jadi kalau guru bukan sekedar pekerjaan tapi panggilan hidup karena orang yang terpanggil menjadi guru menurut saya memang bukan orang biasa. Orang yang dipilih dan dimampukan untuk secara khusus mengubahkan hidup. Mengubah anak-anak dari yang biasa menjadi luar biasa. Saya merasa bahwa pintar dan pandai bukanlah ukuran keberhasilannya tapi anak-anak yang berubah hidupnya itulah keberhasilan seorang guru yang sebenarnya.

Selamat Hari Guru Nasional 2015. Mari terus berkarya dan mengubahkan kehidupan.

image

GiLang (Gigi hiLang)

November 23, 2015

Bangun agak siang hari ini, saking menikmati acara breakout tadi malam, dan juga tidur di apartemen di Kemayoran kali ini membuat si Abby sangat menikmati acara pergi dan ketemuan dadakan. Ceritanya teman dekat si Mami datang dari Kanada, dan meskipun waktunya cuma semalam tetap di usahakan bisa ketemuan. Kebetulan karena kemarin ada acara family gathering kantornya si Mami di Ancol, ya sekalian aja sorenya mampir karena jaraknya yang nggak terlalu jauh.

Pagi ini, setelah bangun, Abby langsung minta ganti channel acara tivi ke Disney channel, kebetulan diputar film Toy Story 2. Sudah berkali-kali nonton tetap aja masih dipantengin. Ditengah-tengah lagi nonton, si Mami bikin minum teh panas, dan si Abby pun mau juga. Sambil menunggu the yang dibikin jadi, Abby menikmati pisang rebus yang dimasak tante Jane semalam, setelah selesai makan…tiba-tiba Abby sadar giginya yang bawah yang sudah mulai goyang sudah hilang tanpa bekas. Ahahahaha…justru senang dan bangga dia sekarang karena nggak perlu ke dokter untuk dicabut. Lucu juga sih, karena pisang rebus hilanglah gigi goyang itu, padahal sudah beberapa hari si Abby selalu mengelu kalau giginya yang goyang terasa sakit.

Mungkin ini adalah salah satu berkat menginap di Kemayoran, selain semalam menimati tahu yun-yi goreng, bebek goreng empuk, rica ayam manado, secangkir kopi, segelas es sirup rasa jeruk, pisang rebus, kripik pisang dan oborolan santai namun berarti dengan seorang co-founder dari DoctorShare, seorang wanita yang bpunya hati besar untuk mengubahkan bangsa Indonesia di bagian timur dengan mengambil bagian kesehatan sebagai tindakan yang mengubahkan generasi dan kehidupan.

Capek sih, tapi senang. Senang bisa meluangkan waktu bersama keluarga, ketemu saudara dan teman baru dan senang karena giginya Abby hilang…iya hilang tak berbekas. Mungkin Peri Gigi semalam mengambilnya diam-diam. Hahahahaha….

image

Ngomel

November 19, 2015

Yang namanya pak A.W Pink menulis kata-kata bijak yang saya sadur dengan kata-kata sendiri kira-kira seperti ini, “daripada kebanyakan ngomel karena apa yang nggak dimiliki, orang yang puas itu selalu bersyukur dengan situasi dan kondisinya yang nggak lebih buruk dari dirinya sendiri”. Wadaaaw…saya sih emang nggak buruk-buruk amat ya…eh maksudnya tampan, hadeuh…bukan, emmm…diri saya sendiri nggak buruk dalam artian sehat, tidak terserang penyakit yang membahayakan dan masih bisa bernafas dengan lega. Nah, bedanya memang situasi dan kondisinya. Situasinya lagi memanas…lagi musimnya, nggak hujan-hujan…sampai air sumur dirumah mau habis (kemarin-kemarin sih, sekarang sudah mulai hujan tiap hari). Kondisinya kami lagi nggak punya uang, iya berdua sudah habis-habisan sekarang. Tapi kami tetap bersyukur. Nggak mau melihat hal ini sebagai kesusahan. Katanya it too shall pass…ini juga akan berlalu, semacam badai dilagunya Chrisye yang berlalu juga pada akhirnya.

Nah, jebakan ngomel itu adalah hal kecil yang akan menjadi besar semacam sengatan lebah yang membengkakkan dan bisul yang mulai mekar sampai dia keluar semuanya. Ngomel dari hal-hal sepele bisa berakibat kemane-mane…kenape? Karene piye….eh, karena dengan mengomel berarti membuka satu pintu kecil untuk menyampaikan kekurangan yang tidak disukai, kekurangan apa saja! Jadi bener bingits kata si Pak Pink diatas, jangan ngomel dah ah! Bisa kebawa kemenong-menong cyiin…rempong endingnye!

“Tempat itu dinamakan Masa karena di tempat itu orang Israel mencobai TUHAN waktu mereka bertanya, “Apakah TUHAN menyertai kita atau tidak?” Tempat itu juga dinamakan Meriba karena di tempat itu orang Israel mengomel.” (Keluaran 17:7 BIS). Ini ayat menceritakan kisah orang-orang Israel yang dibawa Musa dari Mesir menuju Tanah Perjanjian, ditengah perjalanan mereka ngomel karena nggak ada air, kehausan. Lha kalau satu orang…ini ribuan orang, ngomel bareng-bareng, kali aja suaranya kayak lebah tawuran. Sampai tertulis bahwa omelan mereka itu mencobai Tuhan. Biasanya yang sekarang kita katakan bahwa Tuhan sedang mencobai umatnya, memberikan pencobaan…lha ini manusia ciptaanNya kok malah yang mencobai Tuhan, nantangin gitu kali ya. Untunglah Nabi Musa ini memang pilihan Tuhan, hingga tempat pengomelan orang Israel saja sampai diberi nama Meriba.

Sederhananya buat saya sih, saya masih terus belajar untuk tidak ngomel. Tapi memang susah…asli beneran susah, jujur itu ya. Yang penting saya nggak mau mencetak Meriba-Meriba baru dimana saya ada. Jangan sampai saya mencetak tempat pengomelan pada sesama dan terutama Tuhan dimana saya berada, saya berusaha, ya bekerja keras untuk bisa memperkatakan kebaikan dan berkat, bukan omelan. Seperti yang tertulis, “Tetapi sekarang hendaklah kalian membuang hal-hal yang jahat dari dirimu: … Jangan sekali-kali keluar dari mulutmu perkataan-perkataan caci maki atau perkataan yang kotor.” (Kolose 3:8 BIS). Dan saya pikir omelan termasuk didalamnya.

Terimakasih Tuhan, pak Pink dan Meriba…saya sudah boleh belajar tentang omelan.

From Banten with Love

November 18, 2015

Kopi hitam panas dan kental mengepul disamping tempat duduknya, sambil menikmati sisa rokok kreteknya dia bercerita pada saya, “saya aslinya banten mas, sudah lama kerja disini, si ibu yang punya rumah lagi ke amerika nengok anaknya yang disana…saya yang jaga rumahnya” Wah, hebat juga nih bapak tua, dari jarinya ada tiga cincin batu akik dan sebuah kalung di lehernya. Ada gelang dengan batuan melingkar ditangan kanannya. Sembari menyeruput kopinya kembali dia bercerita, “Saya sebelas bersaudara. Anak saya ada dua belas, yang empat sudah meninggal. Tinggal yang kecil ini yang masih sekolah, biasa anak laki…barusan minta motor, yaah…namanya orang tua, saya usahakan supaya dapat. Saya sih cuma jaga rumah, ngurus taman…sudah nggak kuat kaya jaman muda dulu mas!” Saya tanyakan dengan santun sudah usia berapa sekarang? Dia bilang sudah menginjak tujuh puluh tiga tahun. Masih terlihat kuat meskipun keriput kulit senjanya tidak bisa tersembunyikan.

Raut wajahnya menceritakan pengalaman keras dan berat yang diterpanya hingga masa tua, bahkan seharusnya waktu yang tersisa bisa dia nikmati dirumah menimang cucu dan menghirup udara segar di kampung istrinya yang dekat dengan Taman Safari Cisarua, ternyata masih dia habiskan untuk mengumpulkan rupiah. Yaa…demi istri, dan anaknya yang masih sekolah.

Lanjut ceritanya sambil tatapan matanya jauh memandang langit yang tak terbatas, “Seperti saya sekarang mas, saya nikmati saja…ada nggak ada uang ya disyukuri, biar ibarat makan cuma sama garam, kalau hasil dari kerja halal dan benar lebih enak dan nggak ada beban, daripada makan enak tidur dikasur empuk tapi hasil nipu sama kerja nggak bener.” Saya mengangguk dan mengiyakan apa yang dia katakan, masih tersisa orang-orang kecil yang saya temui dengan pemikiran dan kehidupan yang besar, ya terlihat besar bagi saya dengan prinsip hidup yang sederhana namun penuh dengan makna. Terimakasih untuk pelajaran kehidupannya pak.

“Keinginan untuk makan mendorong orang untuk berusaha; karena perutnya, maka ia terpaksa bekerja.” (Amsal 16:26 BIS).

Arisan

November 18, 2015

Ahahahaaha…akhirnya giliran saya hari ini, eh bulan ini tepatnya saya mendapatkan  hasil kocokan, yes…arisan. Tepat disaat mau siap-siap beli tiket buat pulang kampung Natalan nanti di bulan Desember. Kelihatannya mungkin sederhana, tapi tiap bulan arisan guru-guru dengan modal seratus ribu ini bisa sangat membantu disaat kita pas sedang butuh uang.

Kalau menurut Wikipedia Indonesia Arisan adalah kelompok orang yang mengumpul uang secara teratur pada tiap-tiap periode tertentu. Setelah uang terkumpul, salah satu dari anggota kelompok akan keluar sebagai pemenang. Penentuan pemenang biasanya dilakukan dengan jalan pengundian, namun ada juga kelompok arisan yang menentukan pemenang dengan perjanjian.

Paling tidak, dengan hasil arisan ini saya bisa beli tiket berangkat pulang kampung nanti. Entah dapatnya tiket kereta atau bus yang penting bisa berangkat pulang kampung untuk merayakan Natal dengan keluarga. Kalau buat beli tiket pesawat sih bisa, bisa nombok buanyak….hahahahaha, soalnya mesti beli tiket empat untuk kami bisa pulang. Kenapa selalu empat? Karena saya, mami, abby dan oma juga harus ikut. Jadi, ya lumayan bingitslah kalau harus naik pesawat. Bingits bayarnya…maksudnya kali empat. 

Yang utama adalah bersyukur dapat arisan, meskipun cuma sekali, karena nggak bisa juga dapatnya dua kali lha wong ikut nama yang di undi juga cuma satu. Ibarat nabung yang dipaksa, tiap bulannya sampai jumlahnya sesuai dengan total peserta undiannya ya ini dia waktunya seperti membongkar celengan alias tabungan kita.

Tuhan itu baik, dan itu jelas. Dia nggak akan nurunin duit dari sorga kayak pancuran air turun dari langit begitu saja. Dia akan memakai orang-orang disekitar kita untuk memberkati kita, bahkan mencukupkan kebutuhan kita. Maturnuwun Gusti.

“Orang yang baik selalu berkecukupan, … ” (Amsal 13:25 BIS)

image

Bertunas

November 16, 2015

Pohon Ara yang ada di pot di depan rumah daun-daunnya berguguran ketika hujan belum datang. Musim panas yang cukup lama tahun ini menjadikan daun-daunnya cepat kering, layu dan dan kemudian berjatuhan. Saya sempat berpikir untuk memotongnya dan menanam kembali dengan cara di stek, namun sebelum sampai rencana itu terlaksana hujan sudah mulai mengguyur.

Pagi ini saya sempatkan menengok sebentar tanaman di depan rumah. Tanaman bayam, tomat, cabai, pepaya, pepaya jepang, bunga pacar yang saya pindahan kemarin sore dan pohon Ara satu-satunya hadiah dari bapak saya. Ternyata diujung dahan yang paling atas yang akan saya potong sudah mulai tumbuh tunas baru yang menghijau. Senang sekali rasanya, karena itu tandanya akan ada lagi buah-buah baru yang tumbuh.

“Siapa mengandalkan harta akan jatuh seperti daun tua; orang yang saleh akan berkembang seperti tunas muda.” Amsal 11:28 (BIMK), Perenungan yang indah yang saya dapatkan kali ini, bicara mengandalkan sesuatu sejujurnya memang lebih banyak saya mengandalkan diri sendiri, mengandalkan pikiran dan kemampuan saya dibanding mengandalkan Tuhan yang seharusnya di andalkan. Apalagi mengandalkan harta seperti penulis kitab kebijaksanaan ini. Seberapa besar harta kita kadang itu yang biasanya jadi patokan dan berkata, ” oh saya akan baik-baik saja”. Sampai seberapa lama? Daun hijau tak akan lama menua, berubah kekuningan kering dan gugur demikian ilustrasi yang digambarkan jika kita hanya berpatokan pada harta yang kita miliki. Sedangkan untuk terus tumbuh dan menghijau ternyata dibutuhkan kesalehan di mata-Nya sehingga kita layak diberikan kesempatan diperbaharui dan disegarkan kembali.

Artikata.com mengartikan kata saleh menjadi taat dan sungguh-sungguh menjalankan ibadah; suci dan beriman. Sedangkan kesalehan diartikan sebagai ketaatan (kepatuhan) dalam menjalankan ibadah; kesungguhan menunaikan ajaran agama. Kesalehan tercermin atau terlihat pada sikap hidupnya. Ternyata sikap hidup kitalah yang menjadi penilaian Tuhan. Disitulah sebenarnya petunjuk yang jelas berasal. Apakah kita mengandalkan Tuhan atau diri sendiri. Saya belajar banyak dari sekedar menikmati dan memandang tanaman dikebun depan rumah. Bahkan dari tumbuhan ini saya belajar tentang arti penting ketaatan supaya saya dapat terus berkembang seperti tunas muda.

“Orang jujur bertunas seperti pohon kurma, dan tumbuh subur seperti pohon cemara di Libanon.”
Mazmur 92:12 (BIMK)

image