Archive for September, 2015

Seperti Tuyul?

September 28, 2015

Saya sangat terusik dengan postingan sebuah akun instagram yang menuliskan seperti ini, “bekerjalah layaknya tuyul, tak harus kelihatan, tak harus gila pujian, tapi hasilnya kelihatan”. Mungkin memang ada benarnya sih, karena sekarang kan lebih banyak yang justru melakukan sedikit kerja banyak bicara gede nuntutnya hasilnya nggak ada (sambil ngaca…jangan-jangan saya juga seperti yang saya tulis).

Bukan berarti membenarkan postingan itu ya, tapi lagi-lagi kalau saya pikir berapa banyak sih jaman sekarang ini orang nggak memperlihatkan kemampuannya dalam artian menyombongkan diri, kemudian mencari pujian atau nilai dari apa yang sudah dikerjakan sambil tepuk dada dan menyunggingkan senyum sedikit sinus. Ah, ya sudahlah…saya tidak bermaksud menghakimi dan menilai tindakan dan perilaku orang lain. Sejujurnya justru inilah yang mencambuk saya untuk melakukan pekerjaan lebih baik dan menghasilkan lagi.

Semuanya kembali kedalam diri masing-masing, motivasi, hati dan waktu yang menguji apakah seseorang melakukan pekerjaannya dengan baik atau tidak. Saya tidak sempurna tapi paling tidak saya berusaha dan mencoba, yaaa…jadi guru TK yang kayanya mesti bersikap ala filosofi “tuyul’.

Bagaimanapun kebenaran adalah dasar dari segala sesuatu yang harus menjadi landasan kita bertindak. Dan saya percaya seperti kata bijaksana ini, “Hati si pemalas penuh keinginan, tetapi sia-sia, sedangkan hati orang rajin diberi kelimpahan.” Amsal 13:4 (TB). Dari hati dan harus rajin…itu kuncinya!

image

Advertisements

Berbagi Senyum

September 27, 2015

“Untuk bisa berbagi tak perlu menunggu anda sampai berkecukupan, berbagilah mulai sekarang walaupun hanya sebuah senyuman.”

Sudah berusaha untuk datang di Ibadah kedua hari ini tapi ternyata sampai di gereja sudah tidak memungkinkan untuk masuk karena antrian sudah cukup panjang diluar pintu. Jadilah kami memutuskan untuk kembali ke lantai dasar mengisi perut kosong karena memang belum sempat sarapan dari rumah.

Kira-kira jam 12 kami memutuskan dengan segera ke lantai atas dimana gereja kami berada, supaya tidak terlambat dan si mami bisa antar Abby ke sekolah minggu lebih dulu. Walhasil…saya dapat antrian pertama. Dan tiba-tiba sepasukan pria dan wanita berbaju kuning menenteng banner dari stereofoam yang kebanyakan bertuliskan tentang senyum dalam bahasa Inggris alias smile datang menghampiri dan memberikan tantangan mengajak seseorang yang belum kenal untuk tersenyum dan menghadiahi dengan sebuah pin. Saya melakukannya dengan baik lho….hahhaahahaha! Dan diminta juga untuk posting di akun instagram. Well….senang bisa berbagi hal sederhana di gereja hari ini. Bangga juga bisa menjadi bagian gerakan #smileconnects.

image

Kardus Untuk Pak Sampah

September 26, 2015

Terik dan panas siang ini sangat menyengat, saya melihat di aplikasi cuaca menunjukkan 34 derajat. Setelah menyelesaikan bagiam saya menyuci lanjut dengan menikmati soto daging bikinan Oma yang mantap bin laziz jaminan rasanya. Selesai makan sambil leyeh-leyeh dan juga menghilangkan efek pedas xabe rawit buat sambel soto, si bapak tukang sampah datang. Semua sampah sudah ditaruh di bak depan dan tinggal sisa kardus yang ada. Oh iya…setiap kali belanja sayuran dan diwadahi kardus, sengaja saya simpan dan rapikan. Saya tumpuk dulu biar banyak dan hari inilah ternyata waktu yang tepat untuk diserahkan.

Ngomong-ngomong soal kardus bekas, botol dan kertas meskipun sudah tidak terpakai tetap ada nilai tukarnya lho. Meakipun tidak terlalu tinggi dan saya juga tidak sempat bertanya pada pengepul barang bekas, kira-kira sekarang berapa harga perkilonya. Saya bertanya saja pada mbah gugel dan medapatkan jawaban kurang lebih alias kira-kira Rp 1500 sampai Rp 2500 perkilonya tergantung kondisi pasar.

Memang nggak banyak kardus yang saya kumpulkan. Tapi paling tidak bisa jadi tambahan pak sampah. Entah kapan nanti dijualnya yang jelas rejekinya bertambah. Jadi besok saya mulai siap-siap ngumpulin kardus lagi.

“… siapa baik hati kepada orang miskin, akan bahagia.”
(Amsal 14:21)

image

Nungguin Anak

September 25, 2015

Senangnya hari ini mengantar sekolah dan menunggui si Abby berlatih taekwondo. Hebat banget…bukan karen anak sendiri tapi mengingat sedari kecil papinya sakit-sakitan, jangankan lari keliling lapangan, bertahan dengan latihan fisik dan teknik yang dia lakukan hari ini saja, dulu pasti sudah bunyi-bunyi tih napas bengeknya.

Entah nanti mau jadi atlet beneran, atau hanya karena ini jadi jadwal keharusan ikut ekstrakurikuler, yang penting anaknya senang dan pastinya punya bekal beladiri. Nggak cuma sehat badannya dan kuat tendangannya tapi jelas ada skill tambahan untuk bekal hidup dimasa depannya.

image

Roti Bonus

September 20, 2015

Setelah hampir seratus meteran berjalan, istri saya mengajak berbalik untuk membagikan sebungkus roti yang kami beli disupermarket setelah pulang sehabis menghadiri pesta pernikahan teman kerja. Seorang bapak bersandar didinding tembok pembatas tempat permainan pukul bola dilapangan luas yang dikenal sebagai golf, beralaskan plastik seadanya dan seorang anak laki-laki kecil menyandarkan kepala di pahanya sebagai bantal. Tertidur pulas tanpa kenal batas … dikasur atau dijalan, nikmat tidur itu lelapnya bukan empuk sandaran tubuhnya.

Mungkin karena sudah malam, roti yang kami beli dapat gratisan satu bungkus lagi. Jadi beli satu dapat gratisan satu lagi. Nah, ketik melewati bapak dan anak penjual cobek yang sedang tertidur dipinggir jalan tadi, terketuklah hati si mami untuk berbagi. Toh, cukuplah satu bungkus roti yang kita beli buat si Abby dan Oma besok buat sarapan. Setelah bergegas membagikan roti dan melihat senyum terimakasih si bapak tadi, sepanjang perjalanan pulang si mami bercerita tentang inspirasi yang dia dapatkan saat menonton acara Kick Andy, seorang bule yang mencari dana dengan naik becak dari Aceh sampe Jakarta, anak muda yang berjualan online yang hasilnya disumbangkan untuk mereka yang tidak mampu, seorang chef yang juga berjuang dengan kemampuannya untuk menggalang dana bagi mereka yang membutuhkan. Lepas dari semuanya, bagian terbaik dari memberi adalah perasaan yang tidak bisa terungkapkan dengan kata, bahagia yang tersalurkan dari kedalaman hati.

Seperti yang Yesus katakan, “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” Lukas 6:38 (TB)  Kami berterimakasih dapat menikmati roti bagian kami dan bahkan memberi dari apa yang ada pada kami.

image

SOL

September 19, 2015

Si Mang tukang sol sepatu pagi ini lewat didepan rumah. Dan ternyata si Mami sudah menunggu mau jahit sepatunya. Dipanggilah si Mang dan mulailah dia melaksanakan keahliannya. Saya mulai mengajaknya ngobrol, asli orang Subang dari kampung kecil yang ada sumber airnya nggak habis-habis…obrolan seputar panas karena nggak hujan-hujan.

Setengah jam berlalu dan selesailah si Mang menjahit dua sepatu dan satu sandal milik Abby. Dengan 60 ribu rupiah sepatu dan sandal kembali rekat dengan jahitan yang kuat. Lumayan juga ya kalau laku jadi tukang sol sepatu ini, kalau sehari paling tidak dapat 5 pasang sepatu yang diaol berarti 5×20=100 ribu rupiah x 30hari = 3 juta rupiah. Wah…mantap tuh. Eh, kebiasaan ini apa saja kalau model usaha kecil-kecilan saya suka hitung-hitung. Hahahahaha….

Segelas air dingin berasa jeruk kami sajikan untuknya dan dia kemudian pamit melanjutkan perjalanannya. Sukses Mang…semoga lancar rejekinya.

image

Beras Merah

September 17, 2015

Sore dalam perjalanan pulang Oma telpon kalau beras dirumah habis. Jadi sekalian aja kita mampir ke tukang beras langganan, eh ternyata tutup. Kelupaan kalau menjelang maghrib biasanya si Uda ini pulang dulu untuk mandi, sholat dan makan malam. Akhirnya kita pulang duly saja. Dan menjelang jam 9 malam saya kembali ke tokonya, seperti biasa dia tahu apa yang saya butuhkan. Beras merah 5 kilogram sekali beli dengan harga per-kilonya sekarang 13 ribu rupiah. Ga penting sih ya dijelaskan harganya, hehehehehe…nah yang penting adalah hasil ngobrol-ngobrolnya dengan si Uda.

Begini ceritanya, anak seorang temannya yang masih berumur 27 tahun meninggal karena diabetes. Kebiasaan makan nasi yang banyak dan tidak terkontrol dab juga makan yang tidak sehat menyebabkan kehilangan nyawanya yang masih muda, belum menikah malahan. Hiks…sedih!
Jadi diapun senang dan menyarankan memang lebih bagus makan nasi merah untuk menjaga kesehatan. Harga memang lebih mahal, tapi harga kesehatan jauh lebih mahal.

Saya sudah makan nasi merah sih beberapa bulan ini, tapi tetap saja tidak bisa menghalangi masuk angin datang menyerang, jadi kerokanlah saya malam ini. Hahahahaha….! Intinya jaga kesehatan itu penting, mau makan apa pun harus dengan pengendalian diri.

Yuuuk…

image

Jontor

September 15, 2015

Kemarin siang Abby pulang sekolah jatuh dan terluka di bibirnya. Lumayan berdarah-darah menurut cerita Oma. Sore setelah sampai rumah saya melihatnya dan cukup kasihan karena sampai takut nggak bisa makan. Akhirnya saya coba ajak makan donat yang masih tersisa. Puji Tuhan masih mau makan dengan pelan-pelan. Sampai akhirnya merasa bisa mensiasati caranya makan akhirnya minta disuapi Oma untuk makan malamnya.

Pagi ini dia males-malesan berangkat me sekolah. Alasannya Mali dan takut dikatain sama teman-temannya. Kami meyakinkan kalau nanti akan baik-baik saja. Senang karena dia langsung main dan cerita dengan temannya. Senang juga karena kemarin ada seorang ibu yang menolong dan membersihkan lukanya. Juga temannya si Grace yang langsung lari ke Oma kasih kabar kalau Abby jatuh.

Pengalaman ya nak, kamu harus lebih hati-hati lagi, jangan lari-lari disekitaran sekolah biar aman. Semoga insiden ini jadi pelajaran yang baik, nggak cuma buat Abby tapi juga teman-temannya yang sering dan senang lari-lari bermain “zombie-zombian”.

image

Hilang

September 14, 2015

Setelah pulang mengantar kelinci kemarin saya sampai rumah hendak membersihkan pohon cerry didepan rumah. Si Abby juga mau ikutan repot dan saya suruh pakai sandalnya yang biasa ditaruh diluar. Eh ternyata nggak ada. Masih belum nyadar juga sih. Setelah beberapa waktu si Mamie keluar dan bilang kalau sepatu karet yang biasa saya pakai nggak ada, begitu juga sepatu karet si Mamie. Ooh, ternyata semuanya nggak ada, pasahal dipojokan masih ada sandal Eiger saya yang lama tapi malah nggak diambil. Kurang cerdas ini yang nyolong ya, atau mungkin karena tergesa-gesa ngambilnya jadi nggak kepikir atau nggak terlihat sandalnya.

Ya sudahlah ya, mungkin yang ngambil memang lagi butuh sandal atau butuh tambahan penghasilan. Siapa tahu sepatu karet kami berdua plus sandalnya Abby bisa jadi tambahan penghasilannya. Kalaupun tidak semoga yang nyolong juga sadar kalau nyolong dengan harga yang nggak seberapa itu bisa besar resikonya. Sekarang saatnya lebih berhati-hati saja, nggak naruh-naruh barang sembarangan kalau ditinggal pergi.

Saya bersyukur nggak kecolongan yang lebih besar lagi. Lebih bersyukur lagi karena saya bukan pelaku pencolongan alias pencurinya. Semoga amal dan ibadah pelaku penyolongan itu tetap diterima disisi-Nya ya. Tanpa mengurangi rasa bersalah dan dosanya, semoga dia me nemukan jalan yang baik nanti.

Harganya memang tidak seberapa, kehilangannya pun sudah kami ikhlaskan. Tapi tetap kami akan berhati-hati dan terus mengawasi selagi mampu, supaya rumah dan lingkungan tetap aman. Kalau saja dia menunggu dan meminta dengan baik-baik mungkin saya bisa menambahkan kerelaan dengan beberapa sepatu bekas dan sepatu bekas Abby yang sudah tidak bisa dipakai. Tapi ya dasar maling, kalau mau nyolong masak harus ngomong. Sudahlah, mungkin saja itu cara Tuhan hendak mengganti sepatu karet  saya yang lama dengan sepatu yang baru. Bisa jadi lebih bagus dan mahalan? Ya kan?  Positif thinking aja…

Eh, baidewei belum sempat bilang bye…bye sama sepatu dan sandalnya, hahahahahaha…

image

Bye Dave dan Bule

September 13, 2015

Akhirnya siang ini janjian sama pak Min untuk kerumahnya. Setelah beberapa waktu sebelumnya nggak bisa pas untuk ketemuan. Setelah sms dari pak Min menyatakan dirinya sudah sampai rumah dan juga memberikan alamatnya, segera saya komando team untuk bersiap berangkat.

Panas terik siang ini tampaknya biking para kelinci juga gerah, mereka neduh dibawah kandangnya biar adem. Jadi pun segera menyiapkan kardus dan sedikit sayuran didalamnya. Dan dengan mudah saya tangkap si Dave dan si Bule. Segera saya masukkan mereka kedalam kardus dan saya tali biar aman nggak menerobos keluar. Saya naikkan kardusnya diposisi motor yang biasa buat barang-barang ditaruh. Aman…dan cuuuuzzzz…berangkat kita menuju tempat baru si Dave dan Bule.

Jalanan muaceeet, jadi saya mengambil jalur alternatif yang lain. Biar pelan tapi pasti akhirnya sampe juga. Ternyata pak Min sudah nunggu di pojokan deket warung-warung jualan makanan. Masuk sebentar kedalam halaman yang luas, sampailah di pojokan dekat rumah pak Min ada kandang ayam dan lain-lain dan kita bawa si Dave dan Bule ke kandangnya yang baru. Kandangnya kecil sih, karena belum ada kandang yang besar jadi mereka dimasukkan dalam satu kandang bersama. Ya nggak papa, yang penting mereka aman dan semoga nyaman.

Setelah itu kami masuk kerumahnya pak Min, tidak terlalu besar tapi adem. Angin semilir masuk kedalam rumah dan sesaat kemudian tersaji es sirup rasa jeruk manis yang menggantikan kehausan kami siang ini. Dan juga biskuit dalam kaleng yang disambut malu-malu namun lahap oleh si Abby. Ngobrol-ngobrol nggak terasa sudah jam 3 aja, jadi kami pamit pulang, eh malah dapat sangu dari bu Min. Luar biasa mereka masih bisa berbagi ditengah kesulitan. Sebelum pulang kami menengok sekali lagi si Dave dan Bule. Biar kesedihan kami terpuaskan. Bye kelinci….kita harus pisah demi masa depan baru kalian ya.

image