Meditasi Tempe Mendoan


“Alangkah rugi apabila kamu tidak menggunakan hari demi hari untuk mengasihi Allah.”
—Brother Lawrence

Beberapa hari sebelum lebaran rasanya pengen sekali saya makan tempe mendoan hangat dengan cabe rawitnya. Dalam perjalanan pulang hanya melewati satu penjual yang khusus berjualan tempe mendoan ini. Dan ternyata dua hari menjelang lebaran…dia sudah tutup. Walhasil kepengenan saya tertunda.

Sempat membeli tempe khusus buat mendoan empat buah dan tepung bumbu yang sudah jadi, ternyata sampai kemarin pun tidak bisa memasaknya.

Tapi siang hari ini, akhirnya…saya bisa memasaknya meskipun bukan dengan tempe khusus mendoan tapi tempe biasa. Tidak masalah…yang penting adalah tempe mendoan ala saya sendiri bisa saya nikmati!

Adalah Brother Lawrence, seorang juru masak dari sebuah biara di Perancis pada abad ke-17, dalam bukunya “Practicing the presence of God”, ia membagi pengalamannya bergaul karib dengan Allah. Ia menyebutkan cara-cara praktis untuk “mempersembahkan hati Anda kepada Allah dari waktu ke waktu di sepanjang hari,” bahkan di sela-sela dari tugas-tugas yang Anda lakukan, seperti memasak atau memperbaiki sepatu. Brother Lawrence menegaskan, keintiman rohani seseorang bukan berarti mengubah hal-hal yang Anda lakukan, tetapi melakukan segala sesuatu bagi Allah ketika Anda melakukan tugas-tugas harian Anda.

Sebagai seorang tukang masak di biara, Brother Lawrence menemukan keintimannya dengan Tuhan justru pada saat melakukan pekerjaannya. Tidak mudah bagi saya untuk melakukan pertemuan dengan Tuhan saat sibuk mengiris daun bawang, mengiris tempe, mengaduk adonan tepung, memanaskan minyak diwajan… Dan menunggu sampai matang, dan mengulangi prosesnya kembali.

Penulis dari sebuah buku berjudul A General Theory of Love (Suatu Pandangan Umum tentang Kasih) menyatakan, “Ketika akal budi dan emosi berbenturan, hati sering memberi jawaban yang lebih tepat.”

Ahaaa…ternyata disitu masalahnya, eh maksud saya adalah titik tolak seharusnya yang saya harus lakukan. Ya, memasak dengan hati…menemukan Tuhan dalam setiap irisan, adukan, gorengan…melihat bagaimana begitu luar biasa Allah mengajarkan banyak pelajaran dan penyertaan dalam kehidupan kita.

Dan, untuk makan malam…saya kembali membuat tempe mendoan. Kali ini lebih menikmati dan mendapatkan rasa yang indah dan nikmat dalam setiap prosesnya. Inilah yang saya namakan meditasi tempe mendoan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: