Seni Berbicara & Mendengar


“Berbicaralah dengan cara terbaik agar orang lain suka mendengarkan anda.
Mendengarlah dengan cara terbaik agar orang lain suka berbicara kepada anda.”

Dalam sebuah pertemuan diungkapkan tentang pentingnya memberikan pujian dalam keterbukaan sehingga semua orang bisa mendengar, betapa seseorang dianggap dan dihargai sedemikian rupa. Namun, penting juga untuk menegur seseorang secara pribadi, entah itu karena kesalahan, mengkritik atau memperbaiki hal-hal yang dirasa kurang. Ya, demikianlah memang seharusnya. Namun apakah kita sungguh-sunnguh bisa melakukannya dari hati, untuk berbicara tentang pujian, dan mendengarkan kritikan?
Yup, sebuah seni diperlukan untuk memperindah pribadi kita untuk lebih matang dan dewasa.

Paulus mengajar jemaat Tesalonika seperti ini, “Kami minta juga, Saudara-saudara, tegurlah dengan rukun orang yang tidak mau bekerja; tabahkan hati orang yang takut; tolonglah orang yang perlu ditolong dan sabarlah terhadap semua orang.” (I Tesalonika 5:14 BIS). Menegur atau berbicara haruslah dengan rukun, jangan seperti mengajak bertengkar, memberikan kekuatan bukan ketakutan dan tetap bersabar. Ya, susah memang. Namun kebenarannya adalah hasil yang membedakan antara orang yang siap dengan teguran dan tidak. Amsal dengan jelas mengatakan, “Orang yang cinta kepada pengetahuan senang mendapat teguran; tapi orang yang tidak suka ditegur adalah orang dungu.” (Amsal 12:1 BIS). Jelas kita tidak mau di anggap dungu jika kita tidak mau mendengar teguran yang baik.

Sebagai pribadi, kita bisa memaksimalkan cara kita untuk berbicara, menegur juga mendengarkan teguran jika kita memang salah atau kurang dalam berbagai hal. Lagi, amsal berbicara dengan jelas, “Orang yang mengindahkan teguran tergolong orang bijaksana.” (Amsal 15:31 BIS). Dan selanjutnya, “Orang yang tidak mau dinasihati, tidak menghargai diri sendiri; orang yang mau menerima teguran, menjadi berbudi.” (Amsal 15:32 BIS).

Jika kita berbicarapun, kita bisa kok lebih baik dengan cara,
1.Mengendalikan lidah, pilih kata-kata yang baik, bukan yang menjatuhkan.
“Makin banyak bicara, makin banyak kemungkinan berdosa; orang yang dapat mengendalikan lidahnya adalah bijaksana.” (Amsal 10:19 BIS).

2.Kebenaran dan kejujuran yang melandasi setiap pembicaraan akan mempengaruh bagaimana pendengar kita bereaksi.
“Keterangan yang benar menyenangkan penguasa, ia mengasihi orang yang berbicara dengan jujur.” (Amsal 16:13 BIS).
3.Tetap tenang dan menguasai diri, berpikir lebih dahulu sebelum berbicara.
“Perhatikanlah ini baik-baik, Saudara-saudara yang tercinta! Setiap orang harus cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berbicara dan lambat untuk marah.” (Yakobus 1:19).

Saya pikir, demikian jelasnya kebenaran Allah menuntun kita, untuk memiliki seni berbicara dan mendengar bagi orang lain, jika kita dikuasai oleh Roh Allah dan bersedia untuk terus diajar, kita akan tetap berada dijalur yang benar. Seperti tertulis demikian, “Di dalam Alkitab tertulis begini, “Orang yang mau menikmati hidup dan mau mengalami hari-hari yang baik, harus menjaga mulutnya supaya tidak membicarakan hal-hal yang jahat dan tidak mengucapkan hal-hal yang dusta.” (I Petrus 3:10 BIS).

Selamat berbicara, selamat mendengar, Tuhan memberkati!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: