Iri


Saat mengantar murid saya keluar untuk pulang, di keramaian para penjemput saya melihat seorang pria dengan tubuh tinggi, nggak besar sih badannya, tapi tinggi…ya benar-benar tinggi menurut saya, ada kali kalau diukur bisa sampai seratus sembilapuluhan centimeter. Kalau orang jawa bilang harus ndangak alias menengadah jika saya harus menatap wajahnya. Secara ukuran saya kan pendek semlohay…hahahahaha. Coba jika ukuran tinggi badan saya bertambah sepuluh centimeter saja mungkin akan berbeda tampilannya. But, waits…ternyata memang kenyataan yang harus dihadapi adalah saya diharuskan menerima kemolekan tubuh saya dalam balutan ukuran yang sekian (seratus limapuluh delapan centimeter saja). Banyak yang iri juga sih sebenarnya walaupun saya pendek toh saya tampan (yes, ini kualitas yang saya bangun lho!). Hahahahaha, sok pede sekali saya. Tapi memang mesti demikian bukan? Dibalik kekurang tinggian saya pasti ada hal lain yang membuat saya tetap charming.

Maaf ya, kalau tulisan diatas terlalu memuji diri sendiri. Tuhan bilang, sebelum mencintai orang lain harus mencintai diri sendiri dulu apa adanya. Nah, disitulah sebenarnya kekuatan pribadi dibangun. Jadi apakah saya iri dengan orang yang lebih tinggi dari saya? Ya, kadang-kadang tidak dipungkiri demikian.

“Hati yang tenang menyehatkan badan; iri hati bagaikan penyakit yang mematikan.” (Amsal 14:30). Nah, ini adalah bukti dari ribuan tahun seorang bijaksana telah menuliskannya, iri itu penyakit yang mematikan! Kalau saya terus-terusan iri, saya bisa saja bunuh diri, nggak terima dengan apa yang sudah Tuhan bentuk maksimal dengan tubuh saya. Itu baru soal tinggi badan, yang lain-lainnya? Ya pasti masih banyak lagi. Misalnya, kegantengan (asal bukan ganteng-ganteng sering gila, eh srigala aja), kekayaan, kepandaian, kesempatan-kesempatan yang dimiliki orang lain, masih banyak hal lagi pastinya.

Bicara penilaian ada kata-kata bijak yang saya kutip pagi ini, “Kita seringkali merasa bahwa kehidupan orang lain adalah lebih baik daripada kehidupan kita,
TAPI ……
Kita seringkali lupa bahwa kita juga merupakan ‘ORANG LAIN’ bagi orang lain tersebut.”
Saya pikir betul sekali ya, hanya sekedar merasa tapi belum tentu mengerti rasa sebenarnya dari apa yang orang lain alami dan hidupi hanyalah menimbulkan rasa iri. Paling tidak hari ini saya belajar bahwa dengan hati yang tenang maka hidup saya akan sehat, sehat pikiran saya, otak saya dan jiwa saya, nggak perlu iri dengan kehidupan ORANG LAIN yang lebih baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: