Archive for March, 2015

Traktiran Makan Siang

March 30, 2015

“… tetapi orang baik memberi dengan murah hati.” (Mazmur 37:21 BIS).

Siapa menyangka siang itu makan siang kami dibayar oleh orang lain. Ya, setelah ibadah kami bermaksud berbincang-bincang. Saya dan istri bersama adik rohani kami. Memang sebenarnya kita sedang dalam proses “pengetatan ikat pinggang”, dan salah satu kesempatan untuk bisa bertemu dan ngobrol ya paling habis ibadah kebaktian.

Setelah memilih tempat untuk makan dan mengobrol, kurang lebih hampir tiga jam akhirnya kami menyudahi perbincangan. Dan saat meminta bill pembayaran, pelayan yang datang menyerahkan bill hanya memberikan satu bill desert terakhir yang kita pesan. Kami berempat terkaget ria karena hanya harus membayar bagian terakhir itu. Setelah menanyakan kepada pelayannya ternyata ada seseorang yang sejak kami datang masuk ke tempat makan itu manyalami kami dan sempat bergurau dengan mengatakan,”silahkan makan sepuasnya lho..!”. Saya sendiri berpikir, ah ini orang pasti cuma bercanda, ternyata tidak demikian.

Teringat saat di ibadah, Pastor Kenny Goh menyatakan di salah satu poin kotbahnya tentang murah hati, ya murah hati…dan dia menyinggung tentang konsep financial untuk bermurah hati yaitu dengan cara membuat budget traktiran orang lain. Whaaat? Baru saja kami mendengarnya dan belum melakukannya tapi kami malah menikmati buahnya. Ya, ada orang yang tergerak melakukannya. Entah apapun alasannya, saya tetap mengamini bahwa dia melakukan bagiannya untuk bermurah hati mentraktir makan siang kami hari itu. Memang Indra dan Uchan, sahabat semeja makan kami tampaknya mengenal yang mentraktir kami, entah dengan alasan apapun sekali lagi yang jelas saya menikmati siang itu dan melayangkan ucapan syukur untuk kebaikan yang ditaburkan bagi kami.

Pernyataan yang baik dari kotbah siang itu, mengubah persepsi yang bagus juga untuk bisa “memaksa” kita bermurah hati dengan budget dan financial yang kita miliki. Dengan latihan yang baik, saya pikir dan membayangkan jika sebegitu banyak orang berani dan mulai melakukan bagiannya betapa indahnya rasa berbagi dan murah hati di dirasakan.

Pemazmur menuliskan, “Berbahagialah orang yang murah hati dan suka meminjamkan serta jujur dalam segala urusan.” (Mazmur 112:5 BIS). Ya, salah satu bagian sederhana untuk menjadi bahagia adalah bermurah hati. Sekali lagi terimakasih sudah menaburkan kemurahan hati dengan makan siang kami, Tuhan membalas dan memberkati dengan bahagia dan melimpah!

Simbah Tua Di dekat Jendela Gerbong 6/20A

March 9, 2015

Pagi ini kami berangkat menuju Batang, tapi kereta yang kami tumpangi cuma berhenti di Pekalongan. Some good and new experience buat kita bertiga pergi bersama naik kereta, setelah akhir tahun 2014 ke Bandung dengan Oma juga.

Setelah semangat pagi berangkat dari rumah jam 4, akhirnya bisa masuk dan naik ke kereta di Stasiun Senen. Kami mendapatkan posisi berbeda, mami dan Abby duduk berdua. Sejak bisa duduk saya ngobrol dengan seorang petani dari Purwodadi yang beristrikan orang Sukabumi, bercerita panjang lebar tentang bagaimana dia bisa menjadi petani yang berhasil. Berhasil bukan berarti menjadi kaya raya dari hasil pertaniannya, tapi juga berhasil memperbaiki kualitas dan cara-cara bertaninya, seperti sudah memakai kendaraan khusus untuk memanen padi yang bisa menghemat biaya, juga penanganan hama tikus dengan memakai sistem listrik, hebat juga menurut saya. Eh, satu lagi…dia juga bercerita tentang tanaman pohon jati belanda supernya, “10 tahun lagi bisa panen mas, lumayan hasilnya lho…daripada tanah nggak ditanami dan dibiarin saja, mending tanemin jati, hitung-hitung buat investasi nanti.” Wah, bener juga nih, jadi keingetan tanah almarhum Opa yang dibiarin mangkrak…siapa tahu nanti ada modal bisa buat investasi juga.

Disamping kanan saya, dekat jendela, menatap dengan mata sepuhnya ke arah luar jendela. Sampai ada sepasang suami istri yang datang dan mengajaknya ngobrol. Katanya usianya sudah 81 tahun, di Jakarta kerja jadi tukang pijat tradisional. Dalam hati saya berkata,”WOW.” Sudah sedemikian sepuh tapi masih bepergian sendiri, mungkin mau pulang kampung ke daerah Semarang dan sekitarnya. Lanjut kata simbah tua itu, rahasia umur panjangnya adalah terletak di pola makan yang sehat, pilih-pilih makanan yang baik, jangan suka jajan…jangan sembarangan! Rajin puasa dan selalu berusaha sabar dan “nrimo”. Nggak usah ngoyo!

Wah, jadi tertegur saya sebenarnya. Teringat kalo berat badan sudah mulai tidak seimbang, kaki sudah mulai sering pegel-pegel rasa kena asam urat, dan pola makan yang nggak sehat juga. Pengen seperti simbah tua itu, masih sehat dan kuat nanti sampai tua, nggak sakit-sakitan dan bisa jalan-jalan kemana saja.

Makasih mbah, meskipun saya nggak ngobrol langsung tapi dari pembicaraannya saya bisa memetik pelajaran yang berharga buat hidup saya, buat tubuh saya. Kalau Tuhan mengijinkan saya bisa berumur panjang, ya mesti sekarang mulai menjaga kehdupan dan cara hidup saya. Ah, semangat lagi buat mulai olahraga, makan sehat dan menikmati hidup ini. Biar saya bisa menyaksikan anak cucu saya nanti…