Archive for February, 2015

Kerupuk buta

February 28, 2015

Dalam perjalanan pulang, teringat pesan istri saya minta dibelikan kerupuk. Makanan favoritnya, saya juga nggak ngerti kenapa sampe begitu menyukai kerupuk ini. Teringat kalau beberapa kali sempat melewati sebuah danau buatan sebelum pusat perbelanjaan itu, ada beberapa penjual kerupuk tunanetra yang mangkal disana.

Setelah memarkir motor, saya bertanya berapa harga untuk sebungkus kerupuknya, mereka menjawab,”enam ribu mas”. Dan saya mengambil dua bungkus, lalu menyerahkan selembar uang sepuluh ribu dan selembar uang duaribuan. Sambil istirahat sejenak, saya ngobrol dengan mereka, betapa mereka tetap bersyukur dan kerja keras tanpa terhalang kekurangan yang menurut saya vital. Ternyata mereka orang jawa, jadi saya memakai bahasa jawa dengan santai mengobrol tentang apa saja dengan mereka, mulai dari harga bbm naik, sampai ada orang bermobil volvo yang galak…karena tiba-tiba marah-marah dan membentak saya, katanya saya parkir sembarangan. Usut punya usut, kata penjual mie ayam disamping pos satpam, memang dia orang yang paling galak dikompleks itu, bapaknya kaya, tapi dia nggak kerja, cuma muter-muter aja sok sibuk katanya.

Kembali ke tukang jualan kerupuk tadi, salah satu daru mereka, karena mereka mangkal bertiga bersama-sama, mengeluarkan telepon genggamnya. Sambil berkelakar salah satunya, dan meraba teleponnya berkata,”wah, bagusan punyamu ya dari yang aku punya! Hahahahaha…” Saya agak kaget juga, kok ya bisa masih guyonan dan ngecengin temannya padahal nggak lihat seperti apa barangnya, hanya meraba-raba saja. Bingung juga saya….hahahahaha, sambil tersenyum dan melihat mereka rasanya kok saya masih lebih “kekurangan” dengan apa yang mereka punya. Sementara mereka tidak bisa melihat dan menggantungkan hidupnya dengan berjualan kerupuk, tapi begitu menikmati hidup. Saya masih terbujuk dan tersilaukan dengan promo handphone terbaru yang lumayan murah dan bagus kemampuannya. Untungnya hari kemarin, setelah dua kali mencoba pre-order lewat internet dengan tujuan kredit cicilan lewat kartu kredit istri saya, hasilnya…gagal. Ya, gagal. Nggak tahu apa karena jaringan internetnya, proses dari link penjualnya yang cukup lama tidak nge-link dengan bank, atau ada masalah yang lain sampai istri saya telpon ke customer service dua kali juga ternyata tidak bisa. Tapi diakhirnya saya mengambil keputusan, nggak jadi saja pre-order, masih banyak cicilan, tagihan dan pembayaran-pembayaran yang lain dibandingkan dengan gadget.

Fhhuuuuhhhh…agak sedih sih, tapi kalau mengingat pertemuan saya dengan tukang kerupuk buta itu justru saya tengah membejarkan diri untuk bersyukur dan menikmati apa yang saya punya sekarang. Toh, tidak akan ketinggalan berita dan gaya juga kalau nggak pake gadget yang bagus dan baru. At least saya masih bisa mengupdate blog saya dengan gadget yang sekarang saya punya. Lebih dari itu, belajar untuk tetap bersyukur dengan apa yang saya punyai sekarang.

Aah, bapak-bapak penjual kerupuk yang buta, anda memang lebih kaya dari saya, buktinya saya masih merasa kurang meskipun saya melihat dengan jelas dengan mata saya. Terimakasih sudah membagikan renyah dan gurihnya kerupuk kehidupan dengan saya.

Advertisements

The Art of (enjoying) Kebetheng

February 28, 2015

Dalam bahasa jawa kebetheng itu kurang lebih berarti tidak bisa kemana-mana karena hujan. Bisa diartikan dengan leluasa dengan bahasa mudahnya itu meneduh, dimanapun tempatnya adalah satu-satunya solusi yang terbaik kalau lagi hujan guede plus petir begini.

Sore ini untuk kesekian kalinya saya harus menikmati kebetheng ini. Dan menikmati hujan tanpa kopi panas memang kurang afdol, soalnya yang jualan kopi biasanya ikut neduh malah pulang. Jadi saya salurkan kedinginan saya dengan menulis saja.

Untunglah, saya bisa berteduh disamping gedung tempat istri saya bekerja, lumayan aman, nyaman dan lega. Sebelum-sebelumnya saya cuma neduh di warung didepan kantornya, dipinggir jalan berdiri diatas trotoar, berjubelan dengan para tukang bangunan dan pemotor lain yang ikutan neduh. Sembari menunggu hujan reda dan menunggu istri saya turun, saya masih bisa menyempatkan merangkai kata baris demi baris dan menaburkan rasa didalamnya…ciyeee…kata-katanya sok puitis dikit.

Tampaknya, sisi lain kebetheng selain capek, dingin dan membosankan bisa saya nikmati dengan cara yang lebih positif, alias berguna. Ya salah satunya nulis ini. Tadi pagi waktu baca renungan teringat dengan konsep mengubah perspektif. Mengubah sudut pandang menjadi sudut pandang yang baik, dan itu pastinya sudut pandang Tuhan sendiri.

Kalau bisa dituliskan yang lain dalam konsep menikmati kebetheng ini, saya bisa menyarankan beberapa hal, misalnya :
1. Ngobrol-ngobrol dengan sesama neduhers (mereka yg kehujanan dan neduh bareng), baiknya sih satu tempat, kalo dengan tempat lain ya bisa telpon-telponan. Siapa tau bisa closing bisnis baru.
2. Ngopi, ini bagian yang enak, selain menghangatkan badan juga membuat kita bisa tetep melek. Kalau terlalu menikmati kehujanan dan ketiduran ya bisa ilang motor kita. Hehehehehe…
3. Nyemil,ini temennya ngopi, jaminan cucok dan endess…
4. Foto-foto, mau fotoin hujan, fotoin orang-orang yang bareng neduh, selfie, wefie, atau fotokopi ya monggo saja.
5.Ngobrol, ngopi, nyemil dan foto-foto sudah…mungkin terlalu indah kalau kita lewatkan begitu saja momen kehujanan ini dengan hal-hal biasa. Yang tidak biasa dilakukan adalah kita bisa sambil berdoa, rohani sekali yaaa….! Ya nggak papa, ini kesempatan yang baik untuk merenung, selain minta hujan cepat reda, minta jalanan lancar nggak macet, bisa jadi kesempatan minta jodoh. Naaah, mungkin jodohnya sepeneduhan kan? Oh, ya…waktunya bersyukur bisa dapat hujan, daripada menggerutu…mecucu (bibirnya monyong tanda sebel) ini pasti tindakan yang sangat indah.

Ide-ide yang lain mungkin masih ada, tapi baiknya anda sendiri bisa menambahkan. Yang penting ada seni tersendiri dalam menikmati kebetheng ini. Buat yang naik mobil dan punya mobil, kalau baca tulisan saya, mungkin bisa ngajak mereka yang kebetheng bareng-bareng pulang. Tentu jangan asal bawa orang, kecuali anda sopir angkot atau metromini yaa…

Selamat meneduh, semoga makin teduh dan teguh. Salam brrrrr….

Tukang Parkir di Warung Bakso

February 28, 2015

Percakapan saya dengan tukang parkir diwarung bakso sore ini, saat mengantar si mami beli bakso buat Abby yang lagi nggak enak badan. Tiga tahun lamanya dia menjadi satpam penjaga gudang, dengan bayaran mingguan hanya 250 ribu seminggu dan 300 ribu seminggu kalau lagi jaga malam.
Dia bertahan tiga tahun demi untuk dapurnya tetap ngebul. Setelah tiga tahun lahir anaknya, kebutuhan mulai bertambah, tapi pendapatan nggak nambah-nambah juga. Akhirnya dia berani bertanya pada si juragan yang punta warung bakso, jawaban sang juragan awalnya tidak memperbolehkan dengan alasan dia nggak bisa kasih gaji si tukang parkir. Namun dengan gigih dia tetap berusaha meyakinkan sang juragan, bahkan mengambil keputusan untuk tidak menerima gaji dari yang punya warung. Dia hanya mengandalkan pemberian dari para penikmat bakso yang datang dengan motor maupun mobil. Bahkan tidak pernah memaksa untuk setiap orang yang dibantunya untuk parkir memberi recehan, atau sisa uang kecil yang ada.

Namun, rasa ingin tahu saya justru semakin besar. Jika hanya mengandalkan dari uang parkiran saja kira-kira berapa ya hasilnya setiap hari. Kalau saya hitung kira-kira dalam sehari warung buka dari jam 10 pagi sampai jam 9malam, ada 50 motor kali 2ribu setiap motor berarti sudah 100ribu sehari. Kalikan 30hari tanpa libur bisa mendapatkan 3 juta. Gilaaa…lumayan juga yaa! Hahaha, itu hitungan perkiraan saya saja, kalau memang benar…bisa jadi lahan bisnis yang baru.

Nah, yang bagus lagi adalah ternyata, meskipun dia hanya seorang tukang parkir. Dia masih berani mengajak temannya untuk bersama diwaktu-waktu tertentu ikut menjadi tukang parkir disitu. Otomatis uang pendapatannya pasti akan berkurang, tapi saya salut dengan apa yang dia katakan, “rejeki kan sudah ada yang mengatur mas, yang penting saya kerjanya bener, rejekinya halal enak dimakan anak isteri mas! Barokah…!”

Yaaah, ternyata si mami sudah selesai dengan pesanan baksonya, kami harus mengakhiri obrolan. Dan selembar dua ribuan saya sisipkan ketangannya. Makasih masbro…sudah banyak berbagi dan belajar sore ini…