Archive for September, 2013

10 lessons we learn from journeys

September 30, 2013

Journeys are important — both physical ones as well as figurative ones. They help remind us that we are not done yet, that life itself is a trip that we can make the most of or completely miss the point.

So here are 10 brief lessons I learned from my trip. Maybe they’ll help you on whatever journey you’re taking:

  1. No journey is perfect. Take one, anyway. You will grow regardless.
  2. The destination is never quite what we expect. But without one, we wander aimlessly. So having a final arrival point is important if for no other reason than it gets you started.
  3. Only when we let go of what we think we deserve can we really enjoy what we have.
  4. Inspiration is everywhere. You just need eyes to see it. Yes, even in cornfields.
  5. The hard part isn’t getting from point A to B. It’s paying attention to what’s around you before you miss it.
  6. A journey is less meaningful when traveled alone. We need community to make the most of all experiences, even if that means finding it along the way.
  7. Art helps us process. A good book or great record not only helps pass the time; it gives language to an experience you might otherwise not be able to describe.
  8. Gratitude makes any experience better. It’s easy to want to be home or some place else but we have no control over that. Turns out all we can control is our attitude. So why not be thankful?
  9. The best journeys have a purpose. But expect to be surprised and even see that purpose change.
  10. If you accomplish nothing, see nothing, even feel nothing, take heart. Whether you realize it or not, you’ve changed. And this is reason enough to continue traveling.

What are you learning about life in the midst of whatever journey you’re on? Shoot me a reply. I’d love to hear more about it.

Jeff  Goins

MELAMBAT

September 14, 2013

“enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu,” (Keluaran 20:9).
“tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu.” (Keluaran 20:10).

Saat saya di kelas 3 SMP, kaki kanan saya mengalami patah tulang. Dan kurang lebih 3 bulan kaki harus di gips, kemana-mana jalan harus memakai kruk tongkat penyangga. Biasanya yang jalannya enak, saya harus lebih lama dari teman-teman yang lain. Yang paling tidak mengenakkan adalah, saat itu kita ada karyawisata ke Malang, dengan kondisi yang demikian maka hal-hal yang seharusnya saya bisa nikmati tidak bisa maksimal saya lakukan. Kalau disekolah, saat istirahat justru tongkat saya dipinjam buat mainan teman-teman, sementara saya ditinggal dikelas.

Hidup jelas berbeda dari semuanya, dari yang biasanya cepat kemudian menjadi lebih lambat, segala sesuatu yang bisa dilakukan dengan cepat saat itu harus dilakukan dengan pelan-pelan. Demi kenyamanan dan keselamatan saya tentunya.

Seperti yang dilakukan bangsa Israel, melambat di hari tersebut bukanlah hari untuk bermalas-malasan, melainkan suatu hari bagi umat Allah untuk mengakui kebesaran Allah, beribadah kepada-Nya dan mendapat kelegaan dari-Nya.

Kita juga dipanggil untuk melambatkan langkah, agar kita dapat disegarkan secara fisik, mental, dan emosional, dan untuk melihat kebesaran Allah dalam semua ciptaan-Nya yang indah.

TERONG ya…bukan teror

September 13, 2013

Sebelumnya harga terong sekilo cuma empat ribu rupiah, sekarang bisa sampai delapan ribu rupiah sekilonya, kalau isinya sekilo sepuluh. Trus dijual satuannya seribu, cuma dapat untung dua ribu. Belum masaknya, bumbunya, tenaga … Jadi harus dijual berapa mas? Kalau nggak dinaikkin harganya kita nggak dapat untung, kalau dinaikkin harganya, pelanggan bisa nggak makan lagi, yaaah..serba salah jadinya.

Percakapan saya siang ini, di warteg langganan. Yaaah…andai saya petani, penjual sayur, pemasak dan penikmat terong, mungkin komentar saya akan lebih relevan. Sayangnya, terong adalah salah satu makanan yang tidak saya suka. Doa saya, semoga terong pun bisa diselamatkan seperti tahu dan tempe.

TEMPE

September 9, 2013

Siang ini saat mengantar Abby sekolah, Oma nitip beli tempe sama ibu-ibu yang mengantar anaknya sekolah, ternyata…tidak ada tempe satupun yang dijual dipasar. Diwarung sayur dekat rumah juga beberapa hari sudah tidak ada tempe, bahkan penjual tahu yang biasa tiap hari datang kerumah menawarkan dagangannya pun tidak lagi datang.

Gorengan langganan pun juga tak ada tempe, di warteg langganan makan siang juga sudah tidak lagi saya temukan tahu dan tempe.

Memang benar, banyak twit yang saya baca, entah iseng atau memang demikian kenyataan yang terjadi, Indonesia mengalami darurat tempe. Sungguh keadaan yang aneh, kalau produk makanan dari kedelai ini, ternyata masih di import, masih bergantung dengan produksi dari luar negeri. Sementara petani di negeri sendiri nggak pernah saya lihat diperhatikan, dihargai produksi dan kemampuannya, apalagi didukung untuk berproduksi yang maksimal. Apa saya yang bingung, salah atau memang nggak ngerti? Ya sudahlah….
Intinya sebagai penikmat tempe saya kehilangan salah satu makanan yang nikmat di dunia.

Kasihan si tempe ya, padahal itu makanan mengandung gizi yang baik bukan buat tubuh, variasi hasil makanan dari tempe juga buanyaaak dan jelas dijamin enak. Mungkin penjual sambel tumpang, tempe orek, tempe keripik, oseng tempe dan tempe-tempe yang lain bisa hilang dari muka bumi nusantara.

Sedihnya lagi, ada juga yang merendahkan sesorang dengan mengatakan “mental tempe”. Kasihan kan, segitu enaknya makanan ini di sebut sebagai mental yang tidak kuat, lembek, kurang …. apalah! Yang jelas bentuk mendeskriditkan seseorang dengan kekurangan. Sayang kalo orang yang bermental baja ternyata juga keras nggak enak dan nggak memasyarakat.

Indahnya dunia tempe adalah bagian sejarah hidup yang saya rasakan sejak saya masih kecil, mbah saya Wiryo Sukarno adalah penjual tempe yang luar biasa. Saya mengingat dulu dengan saudara-saudara ikut ‘ngosek’ kedelai, alias nginjak-injak kedelai biar kulitnya terkelupas dan bisa dipisahkan setelah dimasak, sesuatu yang sangat menyenangkan saat itu. Kemudian lanjut membantu menaruh batu diatas tempe yang baru dibungkus dengan daun jati, tempe sepanjang kira-kira lima meter dibentangkan dilantai. Atau kita juga ikut ribut membantu mengikat tempe-tempe kecil yang dibungkus daun pisang. Enaknya setelah itu adalah makan siang bersama dengan tempe goreng hangat, sayur dan sambel yang mantap. Hmmm….jelas itu sebuah memori yang sangat indah buat saya.

Jika tempe tak lagi ada di Indonesia, apakah dia akan jadi produk luar negeri yang dipatenkan, dan kita yang menemukan, mengembangkan dan menikmati tak lagi dapat harga diri? Tempe….oh tempe nikmatmu tiada tara 🙂

MEN(ULIS)ANGIS

September 3, 2013

Terharu…
Itu perasaan yang saya rasakan hari ini, saat mendapatkan laporan dari istri saya yang tadi sempat menelpon Oma dirumah. Mendapatkan cerita kalau si Abby tadi menangis di sekolah karena tidak bisa menulis angka 3.

Langsung maminya berpikir untuk lebih banyak train dia dirumah, lebih banyak latihan menulis dan menulis lagi. Saya sendiri sebenarnya memang tidak begitu sependapat secara pribadi, untuk “memaksa” anak dan “mengharuskan” mereka menguasai segala bentuk dan hal yang berkaitan dengan matematika dan bahasa. Toh, pada waktunya yang pas nanti saya percaya mereka pasti bisa.

Entahlah, memang membingungkan juga sih. Dengan beban materi yang cukup “menantang” membuat anak-anak mau nggak mau memang harus berkompetisi untuk “bisa” dan “mampu” melakukannya. Ya memang tidak bisa disamakan seperti jaman saya dulu, kelas 1 sd saja baru belajar mengeja dan menuliskan hurufnya. Sementara sekarang anak TK besar sudah harus bisa membaca untuk bersiap-siap nanti di sd. Beban yang cukup berat untuk mereka, namun masanya sudah berbeda memang. Banyak hal yang berubah dan semakin menantang, termasuk materi pendidikan salah satunya.

Mau bilang apa, saya hanya bisa berusaha memaksimalkan kemampuan anak saya. Terpaksa “memaksa” dia untuk semakin banyak berlatih. Saya berpikir dengan sederhana saja, kalau dia pasti bisa dan mampu, saya tidak percaya ketertinggalan, bahkan lebih percaya dia bisa mumpuni dibanyak bidang yang lainnya. Saya hanya tinggal melihatnya dengan cermat, memupuknya, mendukungnya, dan memberikan partisipasi yang maksimal sesuai dengan talentanya.

Semoga dia tidak menangis lagi nanti, semoga dia justru tersenyum dan tertawa…bukan karena tidak bisa melakukannya, namun karena melihat dunia yang lebih luas, bukan sekedar menulis dan menghafal angka saja.

keBAHAGIAan

September 3, 2013

Berterima kasih kepada orang lain dan puas pada diri sendiri adalah kebahagiaan terbesar dalam hidup – Master Cheng Yen

hanya ENGKAU

September 1, 2013

Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya TUHAN, aku berkata: “Engkaulah Allahku! (Mazmur 31:14).