Archive for August, 2013

IA TERTAWA

August 31, 2013

“Pakaiannya adalah kekuatan dan kemuliaan, ia tertawa tentang hari depan.” (Amsal 31:25).

CUKUP

August 31, 2013

Ada 4 hal yang tak pernah berkata: “Cukup! :

1. Dunia orang mati,
2. Rahim yang mandul,
3. Bumi yang tidak pernah puas dengan air,
4. Dan api yang tidak pernah berkata: “Cukup!”

KENYANG

August 29, 2013

Makan siang hari ini hanya 7 ribu rupiah, ah…saya sendiri sampe heran juga. Di warteg ini saya sudah beberapa kali makan, tapi siang ini kok berbeda.

Menu 7 ribu itu adalah : nasi setengah, sayur kikil, 1 perkedel, 1 tempe goreng dan teh tawar.

Cukup menyenangkan dan mengenyangkan.

Saya berdoa semoga yang jualan tetap untung dan juga kenyang seperti saya. Amin.

MENDIDIK

August 29, 2013

“Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu.” (Amsal 29:17).

KAYA

August 27, 2013

Pernahkah anda bertemu orang kaya? Ya, secara materi alias harta tentunya. Pastinya, paling tidak jika tidak mengenal dekat, kita pernah melihat mereka yang kaya. Saya bertemu dengan seorang sopir pribadi seseorang yang menceritakan bahwa majikannya adalah orang yang kaya raya, mobilnya berbagi merk dan berjumlah hampir dua puluh. Mengapa saya percaya ceritanya? Karena dia sudah bekerja selama sebelas tahun menjadi sopir pribadi dan saya mengenal anak orang kaya ini.

Saya juga pernah mengenal seorang kaya raya yang luar biasa, bisnisnya bukan lagi milyar namun trilyunan. Saya mendengar barusan beberapa bulan yang lalu membeli sebuah rumah dikawasan elit jakarta, bukan untuk ditinggali hanya untuk menyimpang barang-barangnya yang sudah tidak muat dirumah lama.

Saya bersyukur lahir dari keluarga yang tidak kaya, hahahaha…iya benar demikian secara harta benda. Kami bukan keluarga yang berada. Bapak saya cuma guru SD dan ibu saya jadi tukang jahit dirumah. Kami tidak memiliki banyak benda-benda mahal dan mewah. Namun kami bahagia. Dari rumah yang ikut numpang ditanah gereja dan beralaskan tanah, sampai Bapak saya berhasil membeli dan membangun rumah sekarang, kami tetap tidak menganggap diri keluarga kaya. Kami cukup.

Berbicara tentang kaya memang selalu mengundang banyak pengertian lalu menuju perbandingan. Dan ya memang saya akan menuliskan bagian yang memang bisa ditebak, kaya bukan masalah harta benda dan materi. Siang ini saat saya makan siang disebuah warung kecil yang menempel ditembok pekarangan orang, berdiri di atas saluran air disebuah kompleks, saya menyaksikan bagaimana seorang kaya itu berada dan menunjukkan kekayaannya. Seorang pembeli yang ternyata telah diminta bantuan oleh sipenjual soto sehari yang lalu, memperbaiki pipa dan keran air bahkan menggantinya, ternyata tidak mau dibayar. Dan seorang penjual soto yang juga merasa berhutang kebaikan juga tidak mau dibayar pesanan sotonya oleh si tukang, memberikan makan siang gratis sebagai balasan kebaikan.

Saya menikmati keindahan akan kekayaan batin orang-orang yang dianggap mungkin kecil dan miskin, namun mereka justru penuh dengan kebaikan, kekayaan hati dan kekayaan kemurahan yang tulus dan murni yang terwujud dalam tindakan sederhana namun nyata. Saya iri, ya jujur saya iri, saya masih belum seperti mereka. Saya kadang masih berhitung dengan kekayaan saya, saya masih merasa miskin dan kurang kadang. Bahkan masih harus dan selalu belajar merendahkan hati untuk berani berbagi dengan kekayaan yang saya punya.

Ya, saya menikmati pembelajaran sederhan namun bermakna siang ini. Dan itu yang selalu menambahkan kekayaan batiniah saya setiap waktu. Melihat bagaimana Tuhan pun berperan mengajar saya lewat hal-hal sederhana namun berguna dan luar biasa. DIA berbicara dengan bahasa yang jellas, “Siapa memberi kepada orang miskin tak akan berkekurangan, …” (Amsal 28:27).

KOPI PAGI SI TUKANG PARKIR

August 27, 2013

Pagi ini sebelum sampai ditempat kerja, saya menyempatkan diri mampir ngopi dulu. Tadi jam empat sudah bangun dan setengah jam kemudian mengantar istri saya keterminal kampung rambutan, menuju ke bandara untuk melakukan perjalanan dinas keluar pulau.

Kembali ke cerita awal, di warung kopi parahiyangan itu, sesaat saya memesan kopi dan mulai menyruputnya…hmm…mantafff anget, cleguk dah pokoknya…! Kemudia datang seorang lelaki yang mengenakan kaos hitam dan celana hitam dan juga memakai topi hitam dengan bordir lambang ormas didepan dan namanya disamping. Bang Iwat namanya, sambil memesan segelas kopi, dia mengeluarkan uang recehan dan mulai dihitung. Selang beberapa saat, dia menyelesaikan hitungannya dan sejumlah limapuluh ribu rupiah dia dapatkan di pagi ini.

Lanjut katanya pada saya saat ngobrol, “saya kalo kuat mah bisa nggak pulang bang, cuma ya…udah kepala enam gini nggak ngoyo.” Diteruskannya cerita setelah meneguk kopi panas didepannya,”saya dari jam 4 udah bangun trus jaga diperempatan sana bang, ntar jam delapan gini gantian sama temen, saya pulang tidur dulu. Jam satu siang ntar saya balik lagi sampe malam, kadang juga bisa nggak pulang emang kalo nggak ada yang gantiin.”

“Namanya rejeki memang sudah ada yang mengatur, kita saja yang berusaha dan harus bekerja keras untuk mendapatkannya. Tidak peduli apapun itu kerjaannya, asal tidak melanggar hukum Tuhan dan manusia.” Dia menutup pembicaraan dengan saya dan beranjak pulang.

Saya belajar dari seorang tukang parkir pagi ini, untuk bersyukur dan menikmati pekerjaan saya. Apapun itu…rejeki sudah ada yang mengatur. Da kopi dalam gelas itu…sudah tandas…

Sejenak Saat Kuberhenti, Malam Itu …

August 25, 2013

Langkahnya tertatih dengan berat yang tak tentu, menggendong bayinya yang masih beberapa bulan ditangan kirinya. Tangan kanannya menggenggam besi gancu memungut bekas botol plastik, sisa kertas, kardus dan sampah lain yang berharga.

Dari pinggir jalan menuju entah tujuan, aku tak mampu mengiringnya dengan tahan. Saat kuberhenti di pengisian bahan bakar, sejenak kulihat kembali dia melintas bebas tanpa bekas.

Setelah selesai kumengisi, kuhampiri istriku yang menungguku di ujung pompa bensin itu. Dan kudengar isak tangis…haru dan tetes air matanya terus dia sapu. “Kukejar dia dan kuselipkan uang padanya, mungkin berguna untuk makan malamnya, jika kubayangkan aku menjadi seperti dia, membawa anakku sambil bekerja, entah..aku mampu atau tidak melakukannya.”

Dan…

Aku mengenangnya dalam kata, ku untai kalimat untuk menunjukkan pada dunia. Dia laki-laki…ya, dia laki-laki, pemulung yang termakan waktu dan senja dengan bayi digendongan tangan kirinya.

Kutatap lekat mata anakku..sesampainya digubugku. Kutumpahkan dihatikun, “Aku mencintaimu nak, dan bapakmu tidak perlu memungut sisa dan sampah untuk membeli susu dan makanmu.”

Kulimpahkan syukurku pada Tuhanku, bahwa DIA yang adil dan peduli…terus memihakku. Aku berdoa…DIA memihak juga laki-laki pemulung yang menggendong anaknya dengan tangan kirinya…tentu dengan caraNya.

MENULiS

August 24, 2013

“Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” ~ Pramoedya Ananta Toer

SAYA TIDAK MENANG TAPI PUAS

August 23, 2013

Ya begitulah, sesuai dengan judul yang saya tulis hari ini. Saya tidak menang tapi puas. Kenapa? Karena saya berhasil menggendong seorang anak dengan berat kira-kira hampir 30kg bolak balik 3 kali sepanjang kurang lebih 10m. Ngapain mesti anak segede itu digendong? Kami sedang merayakan kemerdekaan RI yang ke 68 dan mengikuti lomba memindahkan bendera sebanyak mungkin. Eh, belum dijawab ya pertanyaan kenapa anak itu di gendong? Karena ada yang terjadi dengan anak itu, menurut cerita orang tuanya, dia terkena virus di otaknya, dan sekarang ukuran otak kecilnya jadi berubah mengecil, dan efek yang terjadi adalah kurangnya kesimbangan badannya, kakinya kurang kuat menahan tubuhnya sehingga seringkali terjatuh. Untuk berjalan saja susah apalagi mengikuti lomba dengan berlari.

Jadi hari ini saya bersamanya berjuang, saya mewakili menjadi kakinya dengan cara menggendongnya. Dan dia yang meraih bendera dan menaruhnya ditempat yang disediakan. Kita berdua tidak menang, tapi puas karena menyelesaikan lomba dengan baik, bekerja sama juga dengan baik. Satu hal yang saya rasakan adalah dia bisa menikmari dan merasakan lomba layaknya anak-anak yang lain yang tidak seperti dirinya.

Saya tidak menang, tapi puas!

TONGKAT ANTI BODOH

August 22, 2013

Waktu sekolah dasar dulu, saya mengingat guru saya pernah meminta anak laki-laki dikelas membuat sebuah tongkat yang mirip dengan joran pancing, kira-kira panjangnya seratus dua puluh lima sentimeter. Kita pikir itu adalah tugas prakarya sekolah, ternyata memang dibuat sebagai tongkat untuk menunjuk tulisan di papan tulis, sekaligus juga alat untuk memberikan displin. Kalau sudah dipukulkan ke meja, waaah…berarti kita sudah terlalu ramai dan tidak terkendali. Untungnya tidak ada yang menjadi korban pemukulan karena ulahnya, apalagi kalau di ingat…kita sendiri yang bikin tongkat itu.

Saya pikir, di awalnya kebodohan itu ada di otak. Ditempat yang biasa orang buat mikir. Tapi Amsal mengatakan kalau kebodohan itu dari dalam hati. Dan kebodohan itu selalu menyangkut orang muda, mungkin karena kita sembrono, nggak berpikir panjang, masih egosentris, kurang pengendalian diri dan sok…kali ya. Jadi itu yang Amsal katakan, orang muda itu bodoh dari hatinya. Nah, satu-satunya jalan yang terbaik dikatakan adalah dengan pendidikan, saya yakin, pendidikan yang dimulai dari rumah, yang menanamkan nilai, konsep yang baik dan benar yang di ajarkan dengan terus meneruslah yang akan membuat perbedaan. Barulah lingkungan selanjutnya, semisal sekolah, gereja, pertemanan dan lain-lain.

Nah, kalau soal tongkat…apa ini hanya buat yang bandel saja? Atau sebuah perumpamaan, bahwa tongkat adalah sebuah bentuk kekuatan atau kuasa yang harus ada pengendalinya yang benar menggunakannya untuk “memukulkan” tongkat itu pada saat memang dibutuhkan. Ataukah tongkat ini memang benar tongka adanya, sebagai bagian dalam mengajar, menunjukkan, mengarahkan kemana sang terdidik di ajar sedemikian rupa.

Yang saya bisa rasakan lagi memang pada dasarnya setiap orang harus di didik, entah seperti apa dan bagaimana bentuknya, pendidikan memang akan membawa kebaikan, membawa perubahan, dan menunjukkan pengetahuan. Sejak lahir pun kita di didik sedemikian rupa. Dan pendidikan ala Amsal saya percaya tetap up to date, mau pake cupdate, mugdate, platedate…pokoknya…ini adalah pengajaran yang tak lekang oleh jaman. Mari ambil peran untuk “menggunakan tongkat” dengan bijaksana supaya orang-orang muda tak lagi bodoh hatinya…hidupnya!

“Kebodohan melekat pada hati orang muda, tetapi tongkat didikan akan mengusir itu dari padanya.” (Amsal 22:15).