Archive for January, 2013

Membangun Mental Sukses dalam Diri

January 28, 2013

Setiap orang pasti ingin mendapatkan kesuksesan dan menjadi juara dalam tiap hal yang dilakukannya. Hanya saja, kesuksesan memang tidak selalu mudah untuk diraih. Seringkali ketika tidak berhasil mencapai hasil yang diinginkan, beragam alasan dan justifikasi muncul. Parahnya, ada yang mulai menyalahkan orang lain, situasi, dan lingkungan sekitar.

“Padahal diri Anda sendirilah yang bertanggung jawab pada kesuksesan Anda sendiri. Anda yang memilih, berbuat, maka Anda juga yang harus bertanggung jawab,” ungkap motivator Putera Lengkong, MBA, dalam bukunya, 9 Prinsip Kesuksesan Sang Juara.

Putera menambahkan bahwa sebenarnya prinsip kesuksesan dimulai dari diri sendiri. Berikut sembilan prinsip kesuksesan yang bersumber dari diri sendiri:

1. Punya impian spesifik dan menantang
Setiap orang pasti punya impian untuk bisa sukses. Sayangnya, impian ini masih terlalu umum sehingga membuat Anda bingung untuk mulai mewujudkannya. Impian yang jelas akan memotivasi Anda untuk bergerak pasti dan mengambil tindakan nyata. Misalnya, saat ingin punya mobil, jangan hanya bermimpi ingin punya mobil. Perjelas mobil impian yang Anda inginkan mulai merek, warna, dan detail lainnya.

“Untuk sukses, buatlah diri Anda merasa kepepet. Milikilah urgensi sehingga menggerakkan Anda untuk meraih impian tersebut,” ungkapnya.

2. Setiap kesuksesan punya “harga”
Kesuksesan tidak bisa didapatkan dengan cara instan. Anda harus membayar semua “harga”nya untuk mendapatkan kesuksesan. Tentu saja bukan dalam bentuk uang, tapi dengan kerja keras.

“Anda harus bekerja keras dan belajar melakukan sesuatu dengan cara, sistem, metode kerja, atau kebiasaan yang berbeda dari sebelumnya. Namun dengan demikian, Anda belajar untuk mengembangkan diri,” jelasnya. Ketika memilih maju, tentu Anda harus menunda kenikmatan yang ingin dinikmati.

3. Anda adalah pelakunya
Ketika menghadapi kegagalan, seringkali Anda menyalahkan orang lain atau keadaan. Anda harus menyadari bahwa setiap keputusan yang diambil dalam hidup Anda semuanya berasal dari diri sendiri. Anda adalah pelaku kehidupan Anda, dan bukan korban dari kehidupan. Dengan demikian Anda bertanggung jawab atas pilihan yang Anda buat dan bertanggung jawab atas kesuksesan Anda sendiri.

Ketika gagal jangan mencari siapa yang salah. Akan lebih baik jika Anda mencari solusi dan cara untuk menjadi lebih baik lagi.

4. Miliki mental sukses
Syarat terpenting untuk menjadi seorang yang sukses adalah kepercayaan diri dan mental sukses. “Bagi saya mental juara berarti melakukan lebih dibanding orang lain. Entah itu lebih sering, lebih banyak, lebih disiplin, lebih kreatif, atau lebih bermanfaat,” jelasnya. Memiliki mental juara juga berarti Anda harus fokus pada semua hal yang dilakukan dan memberikan yang terbaik.

5. Sinergi dalam tim
Bekerja dalam tim memang tidak mudah. Anda harus menyesuaikan irama, visi dan misi dengan rekan satu tim. Anda harus paham tipe tim seperti apakah kelompok Anda ini. Apakah mereka termasuk tipe tim yang bisa membantu Anda mencapai impian, atau malah menjauh dari impian Anda.

Dalam kerja kelompok butuh adanya sinergi dan saling pengertian satu sama lain. Sinergi dengan tim akan membantu mempermudah Anda untuk mencapai kesuksesan. Bahkan kerja tim akan memungkinkan Anda mencapai tujuan yang awalnya terasa sulit karena harus bekerja sendirian. Dalam tim, Anda bisa mengambil banyak pelajaran dan ilmu untuk mendukung karier Anda. Putera menambahkan, bahwa sebenarnya kerja tim yang saling bersinergi adalah jalan tercepat untuk mencapai kesuksesan.

Sumber: Buku 9 Prinsip Kesuksesan Sang Juara, oleh Putera Lengkong, MBA, Penerbit  PT Gramedia Pustaka Utama, Pencetak PT Gramedia.

3 Cara Mudah Tingkatkan Konsentrasi

January 27, 2013

Jangan pernah meremehkan kekuatan dari konsentrasi yang baik dalam menyelesaikan tugas secara efisien, akurat, dan hasil yang memuaskan. Orang dengan konsentrasi yang baik juga memiliki kemampuan memecahkan permasalahan sulit. Namun kemampuan untuk fokus atau berkonsentrasi bisa menurun seiring kondisi kebugaran Anda. Menurunnya daya konsentrasi bisa mengganggu produktivitas kerja maupun hasil kerja Anda.

Untuk membangun kembali kemampuan Anda untuk berkonsentrasi ternyata tidak membutuhkan proses yang sulit. Ada tiga strategi untuk menjadi pribadi yang sangat efektif, mampu bekerja di bawah tekanan, dan menghasilkan kinerja kerja yang cepat dan memuaskan.

1. Hindari komputer pada satu jam pertama setelah dan sebelum tidur
Komputer, tablet, notebook, dan ponsel adalah hidup kita, dan telah terbukti secara ilmiah bisa menyebabkan adiksi. Nah, inilah pencuri kemampuan kita untuk berkonsentrasi. Sebuah studi 2012 oleh UC Irvine dan Angkatan Darat AS menemukan, menghabiskan waktu lebih banyak tanpa membuka email secara signifikan bisa meningkatkan kemampuan seseorang untuk fokus.

Hal ini bukan berarti Anda harus menghindari email sama sekali. Yang dibutuhkan cukup menghindarinya satu jam pertama saat bangun tidur. Biasakan untuk menjauh dari segala bentuk gadget, dan lakukan aktivitas lain. Aturan ini juga berlaku pada malam hari sebelum tidur. Mungkin Anda bisa mempertimbangkan melakukan perawatan kecantikan sebelum tidur ketimbang menonton televisi, atau mengobrol santai sambil menyesap teh bersama suami. Mmm… bercinta dengannya juga pilihan menyenangkan untuk mengakhiri hari. Intinya, menikmati jam terakhir dengan benar-benar istirahat dan bersantai akan membuat fokus dan konsentrasi Anda meningkat esok harinya.

2. “Work-life balance”
Mengorbankan kehidupan pribadi untuk pekerjaan akan membuat seorang pekerja menjadi kurang efektif. Hal ini akan meningkatkan kesalahan yang dibuat, waktu lebih lama menyelesaikan tugas, terkukungnya ide-ide baru, dan kesulitan dalam pengambilan keputusan.

Di tengah-tengah tuntutan profesional yang mengharuskan Anda selalu siap lembur, tampaknya Anda perlu sedikit mengorbankan waktu pribadi meski sudah melewati jam kerja. Padahal studi dari Boston Consulting Grup yang diterbitkan oleh Harvard Business Review menemukan bahwa waktu senggang diperlukan untuk mendorong kinerja karyawan (belum lagi kepuasan kerjanya).

Jadi, di tengah jadwal padat Anda, luangkan waktu untuk melakukan satu atau dua kegiatan rutin yang menyenangkan, yang sekaligus dapat membantu mendongkrak kemampuan Anda untuk berkonsentrasi. Anda bisa memilih ikut aerobik bersama teman-teman di kantor, atau mengikuti komunitas tertentu. Bahkan bila Anda rutin melakukan kegiatan tersebut satu kali seminggu saja, hasilnya luar biasa bagi peregangan otot, peningkatan energi, pemicu kreativitas, dan peningkatan kesabaran Anda. Semua ini Anda butuhkan untuk bertahan menghadapi tugas serta situasi sulit di kantor.

3. “To do list”
Studi tahun 2008 dari Virginia Tech menemukan bahwa mayoritas orang memisahkan agenda untuk urusan pekerjaan, rumah, atau bisnis. Namun membuat catatan terpisah untuk masing-masing urusan tersebut justru akan mengganggu konsentrasi, menimbulkan kebingungan, dan mengkhawatirkan apa yang mungkin terlewat.

Lebih baik, Anda membuat sebuah sistem perencanaan tunggal dari semua tugas dan pertemuan, baik pribadi maupun profesional, untuk memberikan gambaran yang lengkap dari segala sesuatu yang harus Anda lakukan hari ini. Dengan demikian Anda bisa memprioritaskan seluruh tugas sesuai konteks. Bila Anda yakin sudah tidak ada yang terlupa atau berpotensi terabaikan, pikiran Anda bebas untuk fokus setiap saat.

sumber: http://www.kompaskarier.com

10 Cara Mengembangkan Karier di 2013

January 23, 2013

Pekerjaan yang lebih baik tidak saja akan memberi pendapatan lebih, tapi juga kesehatan. “Jika Anda menyukai pekerjaan Anda, maka Anda seolah punya lima hari tambahan setiap pekan,” kata Devora Zack, penulis “Networking for People Who Hate Networking”. Terapkan langkah berikut, dan Anda akan menikmati waktu Anda di kantor, tidak peduli berapa lama waktu kerja Anda.

1. Jaringan, jaringan, jaringan.
Ini bukan hanya untuk para penganggur. “Jaringan adalah kunci membuka kesempatan,” kata Holly Paul, bos rekrutmen di PricewaterhouseCoopers. Manfaat memiliki jaringan: mengetahui peluang baru yang menarik minat Anda dan menemui orang-orang yang dapat membantu Anda mendapatkan pekerjaan.

Jadi bagaimana Anda melakukannya? Apa saja, tapi Zack merekomendasikan untuk mengundang satu atau dua rekannya yang tidak bekerja satu tim dengan Anda untuk minum kopi atau makan siang dan belajar tentang pekerjaan mereka.

2. Hindari gosip.

Bahkan jika Anda mengetahui kalau kepala departemen iklan mengenakan gaun paling jelek sedunia atau Anda menduga pria di ruang surat itu mengencani wanita di sudut kantor, simpan semuanya untuk diri sendiri. “Mengetahui hal itu bukan berarti Anda harus mengatakannya kepada orang lain,” kata Shawnice Meador, direktur Career Management and Leadership Development di University of North Carolina’s Kenan-Flagler School of Business di Chapel Hill.

“Jika Anda bukan bagian dari solusi, maka Anda adalah bagian dari masalah, dan itu buruk bagi karier dan kesehatan mental Anda,” kata Lynne Sarikas, Direktur Northeastern University’s MBA Career Center di Boston. Itu karena gosip dapat menyebabkan Anda dianggap kurang dapat dipercaya oleh rekan kerja. Sebaliknya, katakan pujian ketika merasa tergoda untuk berbuat negatif atau ingin menyampaikan gosip.

3. Perbaharui resume Anda.
Membuat perubahan pada CV dapat menjadi bagian latihan penilaian diri yang sangat tepat dilakukan pada awal tahun baru. “Mendokumentasikan prestasi membuat Anda merasa lebih baik dengan apa yang telah Anda lakukan,” kata Paul. “Dan tahun-tahun berlalu dengan cepat, sehingga siapkan stok lebih awal daripada nani-nanti.”

Anda dapat secara terpisah membuat daftar hal-hal yang tidak bisa dan ingin dilakukan pada akhir tahun. Dengan meninjau resume Anda setiap bulan, akan membuat Anda dengan cepat mengingat keberhasilan dan mendukung prestasi itu secara spesifik di atas kertas.

4. Pertimbangkan soal perubahan.
Jika Anda tidak bahagia, mungkin sudah saatnya untuk membuat perubahan — internal maupun eksternal. Saran Zack: Buat daftar tentang apa yang ingin Anda mulai, hentikan dan lanjutkan. Kemudian, Anda dapat secara aktif bekerja mengubah tempat kerja atau tanggung jawab.

Namun manfaatkan peluang yang menggabungkan gairah dengan kekuatan Anda, ujar Amanda Agustinus, Job Search Expert for TheLadders. “Mungkin sedikit terlambat untuk menjadi balerina primadona, tapi bukan berarti Anda tidak dapat memanfaatkan keterampilan dan pengalaman yang ada dalam industri tari.”

5. Terus gali wawasan Anda.

Sebagian besar organisasi memiliki panel diskusi online dan kelompok pengembangan keahlian, jadi cobalah ikut ambil bagian dan temukan hal-hal baru, orang-orang baru dan bahkan mungkin peluang baru. Terus belajar akan membantu Anda menjadi seorang ahli di bidangnya.

Bahkan bekerja dengan organisasi nirlaba dan magang yang tidak dibayar memungkinkan Anda mengembangkan dan meningkatkan keterampilan, kata Sarikas. Tidak punya waktu atau uang untuk melakukannya secara rutin? Zack menyarankan agar Anda menghadiri beberapa seminar gratis sepanjang tahun.

6. Katakan, “terima kasih.”
Tahun ini, luangkan waktu untuk mengenali orang-orang yang membuat pekerjaan Anda lebih mudah dan telah membantu Anda menemukan sukses dalam karier. Terkadang kita lupa untuk mengucapkan rasa terima kasih, tapi “orang-orang menghargai jika mereka dihargai,” kata Zack.

Dia mengatakan bahwa dengan membuat ucapan terima kasih tertulis sangat dihargai, sehingga cobalah menyimpan notes di meja Anda dan tulis tangan setiap bulan atau lebih. Entah Anda berterimakasih kepada seseorang atas waktu yang mereka berikan atau berhubungan kembali dengan seseorang yang dulu pernah memberikan dukungannya, terangkan dengan spesifik dan jelas tentang apa yang mereka lakukan dan bagaimana bantuan mereka berguna bagi Anda.

7. Ceritakan tujuan Anda.
Anda tidak bisa berkembang dalam perusahaan jika tidak berbagi aspirasi dengan atasan. Tinjauan tahunan adalah waktu yang tepat agar aspirasi Anda tersampaikan, kata Agustinus. Kembangkan rencana pertumbuhan dengan manajer. “Sepakati harapan kerja terukur dan spesifik serta pastikan untuk melakukan pertemuan secara rutin untuk membahas arah karier yang ingin Anda tempuh,” kata Meador.

8. Menjadi mentor.
Berbagi apa yang Anda pelajari sepanjang karier dapat memberikan manfaat, sehingga tahun ini, temui seseorang yang baru memulai, yang dapat Anda bimbing secara profesional. “Membantu mereka akan membuat Anda merasa lebih baik, dan Anda akan membuat diri sendiri lebih bertanggung jawab untuk menjadi panutan yang positif,” kata Sarikas.

Lakukan setidaknya sekali dalam sebulan dan gunakan pengalaman Anda agar membuat pekerjaan mereka berhasil dan memberikan tantangan.

9. Menjaga (atau menjelajahi) keseimbangan kehidupan dan kerja.
Berniatlah untuk membuat perubahan agar membawa keselarasan yang lebih baik, kata Sarikas. Dia menyarankan kencan malam rutin yang terjadwal dengan pasangan dan menyiapkan malam tertentu dalam sepekan untuk makan malam keluarga atau menonton film sendiri. Anda juga bisa menjelajahi jadwal kerja yang lebih fleksibel (bekerja dari rumah pada satu kesempatan, datang lebih awal untuk pulang lebih awal), kata Agustinus, tetapi pastikan untuk “melakukan penelitian dan mengembangkan sebuah proposal untuk didiskusikan dengan manajer Anda.” Dia mungkin bisa menyetujuinya: Jauhi diri dari meja kerja untuk melakukan hal yang memberikan energi dan akan meningkatkan efisiensi harian Anda.

10. Jatuh cinta lagi dengan apa yang Anda lakukan.

Merupakan hal yang umum saat pekerjaan Anda tidak menarik lagi setelah beberapa saat, tetapi Anda harus “mengenali kapan itu terjadi dan putuskan apa yang harus dilakukan selanjutnya,” kata Agustinus.

Tentukan masalah dan selesaikan dengan manajer Anda atau buatlah perubahan yang serius. Sebelum Anda membuat gerakan tiba-tiba, Agustinus menyarankan agar menjelajahi akar masalah selama beberapa pekan. Sarikas menyarankan agar mengingat alasan Anda mengambil pekerjaan itu. “Nikmati apa yang Anda sukai dalam pekerjaan,” katanya. “Jika Anda jatuh cinta kembali dengan pekerjaan, Anda akan lebih produktif dan sukses.”

sumber: yahoo.com

Merayakan Sukses dalam Menjalani Pekerjaan

January 21, 2013

Seorang teman, yang menduduki posisi cukup tinggi di dalam organisasi, selalu terlihat ceria dan mencintai pekerjaannya. Temannya sampai berkomentar bahwa terkadang ia terlihat lebih happy dari owner perusahaan, yang jelas-jelas lebih berada dan lebih powerful daripada dia.

Cukup surprising, ketika ditanya apa rahasianya, teman ini mengatakan ,”Saya sukses terus”. Padahal, kita tahu bahwa persoalan yang dihadapinya tidak sedikit. Selain beban kerja yang tinggi, atasannya pun kelihatan menuntut banyak. Jadi, kita bisa melihat bahwa kesuksesan itu sangat subyektif dan sangat tergantung bagaimana orang melihatnya.

Sebaliknya, seorang teman lain yang pintar dan berprestasi, begitu jarang merasa sukses, bahkan tidak pernah terlihat merasa puas dengan apa yang ia kerjakan. Selalu saja ia melihat banyak kekurangan yang harus diperbaiki dari dirinya. Komentar dan pujian orang di sekitarnya yang meyakinkan bahwa hasil kerjanya baik, seolah tidak mempan. Apakah begitu sulit mempercayai apresiasi atasan dan rekannya, sehingga ia tetap menganggap bahwa pekerjaannya “belum apa-apa”? Mengapa orang merasa berjarak dengan sukses, bahkan tidak bisa melihat kesuksesannya sendiri?

Rasa sukses yang sering tidak kita pikirkan ini, seakan hal sepele, namun tentu saja besar dampaknya bagi self-esteem kita, juga bagi happiness. Tanpa memelihara rasa sukses dan happiness, bagaimana kita akan mendorong semangat untuk memacu produktivitas dan mencetak sukses-sukses lain?

Dunia kerja memang bukan seperti dunia olah raga di mana “kalah-menang”, sukses tidak selalu sukses sangat nyata. Kesuksesan dalam dunia kerja sangat relatif dan subyektif, mengingat dalam dunia kerja, banyak kegiatan kita yang terkait imajinasi, konsep, ide-ide, kepuasan customer, pengembangan diri, penguatan kecerdasan emosi, pengembangan anak buah, dan bukan semata pekerjaan fisik yang kuantitas dan kualitasnya langsung bisa teraga. Apalagi bagi banyak orang yang berfikir bahwa ia memang “makan gaji”, sukses atau tidak dalam bekerja itu nomor dua, yang penting ini adalah matapencaharian.

Di era kompetitif, di mana beban kerja bisa ditumpuk dalam hitungan detik, kita betul-betul juga harus mempertimbangkan wellness management, bukan secara defensif, tetapi justru secara proaktif. Kita perlu aktif membangun rasa happy di pekerjaan, karena kerja demikian penting bagi hidup kita, mengisi sebagian besar waktu kita, sehingga tidak bisa kita biarkan berlalu dalam keadaan “galau” atau terbebani. Tanda kesuksesan sekarang sudah berubah. Kita tidak selamanya mengukur apa yang kita “punya” dan “dapat” lagi, tetapi lebih ke apa yang kita rasakan di pekerjaan.

Musuh-musuh sukses
Mari kita cermati hal-hal yang bisa membuat kita menumpuk emosi negatif sehingga kita begitu sulit merasa sukses atau merasa happy. Kita kerap mengeluhkan pekerjaan yang berat, atasan yang tidak fair, perusahaan yang kulturnya negatif, sehingga kita seolah merasa selalu berada dalam posisi sulit.

Sebenarnya pertanyaannya, apakah ini hanya sekadar fenomena menjebak diri sendiri dalam situasi mengeluh, menggerutu dan berbicara di “belakang”secara berkelanjutan? Padahal kita semua tahu, bahwa pikiran negatif ini pasti membuat kita tidak produktif dan tidak memungkinkan perasaan sukses. Tanpa kita sadari, kita kerap memelihara perasaan “menjadi korban” dari pihak-pihak yang sebenarnya tidak perlu membuat kita menjadi korbannya.

Hal yang memperburuk keadaan adalah bila kita mencari teman senasib, yaitu teman berbagi rasa tidak happy, pesimis, dan mencerca diri sendiri. Kelompok orang-orang frustrasi ini biasanya juga berbagi cerita-cerita yang dibumbui konspirasi bahwa manusia memang selalu berlatar belakang buruk. Pilihan untuk mencari teman yang lebih optimis sebenarnya selalu ada, tetapi si pesimis umumnya akan segera menemukan pesimis lainnya sehingga mereka justru akan lebih terjebak pada perasaan “tidak berarti” yang lebih dalam. Apalagi kalau kita berkonsentrasi pada hal-hal yang tidak bisa kita kontrol, seperti situasi politik yang seram, serta korupsi yang merajalela.

Namun, bukankah sesungguhnya banyak hal di dunia kerja kita yang memang lebih mudah dikontrol dan lebih mudah diperbaiki daripada situasi-situasi itu? Seorang atasan, yang merasa frustrasi karena punya bawahan yang tidak bisa diandalkan 100 persen, sebetulnya bisa melihat bahwa banyak orang di tempat lain menghadapi situasi yang sama. Bukankah dalam situasi ini kita lebih baik berpikir untuk “work with what we got” daripada berfantasi untuk mendapatkan bawahan yang lebih bermutu?

Manusia memang dilengkapi dengan defense mechanism psikologis yang akan menjaga agar kita tidak terlalu depresif. Terkadang, pilihan mekanisme diri kita adalah kebiasaan mencari kesalahan di luar diri kita. Kita bisa dengan mudah menyalahkan atasan yang serakah, pelanggan yang penuntut, kompetisi yang tidak fair, tanpa ada sebersit perasaan bahwa kita pun berpartisipasi dalam menciptakan situasi tertentu.

Demi menghalau galau dan merasa sukses, hal yang perlu kita kekembangkan sesungguhnya adalah belajar untuk bersikap jantan melihat ke dalam diri dan bertanya, apakah kita sudah berusaha sekuat-kuatnya untuk mencari solusi yang “workable”? Sudahkah kita mengambil pelajaran dari situasi sulit yang dihadapi di pekerjaan, serta sekuat tenaga berfokus untuk produktif dan happy di pekerjaan? Success is not the key to happiness. Happiness is the key to success. If you love what you are doing, you will be successful. – Albert Schweitzer

Temukan cinta
Kita tidak mungkin happy bila kita membenci pekerjaan. Kita perlu ingat bahwa bekerja itu tidak lagi identik dengan membanting tulang dan memeras keringat saja. Kita perlu mengambil manfaat sebanyak-banyaknya dari pekerjaaan kita, dan dari pekerjaan seharusnya membuat seseorang gembira.

Tidak seperti zaman dulu, di mana perusahaan mengambil manfaat sebanyak-banyaknya dari pekerja, sekarang pekerjaan perlu membuat seseorang gembira. Bila rasa simbiosa mutualistis antara perusahaan dan karyawan tidak terjadi, karyawan tidak akan melakukan usaha ekstra untuk bekerja dengan “hati”nya.

Semua pekerjaan bersifat multifaceted dan pasti terdiri dari elemen yang kita sukai maupun tidak kita sukai. Kitalah yang perlu secara kreatif mengembangkan hal-hal yang kita sukai dari pekerjaan kita, dan meningkatkan job content kita. Kita bukan lagi perlu menegosiasikan pengurangan beban kerja atau pengurangan tanggung jawab, tapi yang perlu kita perjuangkan juga adalah bagaimana mendapatkan pekerjaan yang benar-benar kita cintai. Kemudian, kita pun perlu mengupayakan agar kita dalam sehari bisa merasa happy berkali-kali.

Hanya dengan menciptakan “small wins” di dalam pekerjaan kita, kita bisa merasakan sukses itu. Nothing is perfect, and everything can be improved. Agar selalu merasa sukses, perbaikan itu bukan kita lakukan sekali-sekali, tetapi setiap hari, bahkan setiap saat. Excellence akan menjamin kesuksesan, karenanya hal ini harus menjadi mindset. Obsesi untuk selalu “lebih baik lagi” akan mempengaruhi cara kita melihat dunia, bagaimana kita mempertimbangkan isinya, dan bagaimana kita bersikap di dalamnya. Excellence akan menjamin konsumsi kita akan rasa sukses.

(Eileen Rachman/Sylvina Savitri, EXPERD Consultant)

Lima Gaya Kepemimpinan yang Hebat

January 15, 2013

Manajemen Steve Jobs
Dulu orang membicarakan baju turtleneck berwarna hitam yang dibilang konyol, jeans dan sepatu ketsnya. Lalu orang-orang mulai mengejek gaya bicaranya. Kini para eksekutif dan wirausahawan mencoba meniru gagasan manajemen sang legenda Apple tersebut.

Sayangnya, Anda tidak bisa sekedar menyalin dan menggandakan bakat, kebijakan atau kepemimpinannya yang mendobrak. Itu tidak akan berhasil. Sebab Steve Jobs yang orang-orang coba tiru itu, orang yang melejitkan Apple, adalah Steve Jobs yang berbeda dari Steve Jobs sebelumnya — yang dipecat dari perusahaan yang ia dirikan sendiri.

Peristiwa tragis dan menyakitkan tersebut mengubah dirinya. Itu merupakan sebuah proses yang harus ia lalui. Itulah yang menjadikannya orang yang membuat perusahaan teknologi terbesar di dunia tersebut menjadi hebat. Hal itu dinamakan pengalaman. Anda tidak dapat meniru pengalaman.

Keterikatan dengan karyawan
Tentu saja, setiap eksekutif dan pimpinan bisnis ingin agar para pekerjanya menyukai pekerjaan mereka dan merasakan bahwa mereka adalah faktor penting dalam penentu kesuksesan perusahaan. Itu mudah. Itu juga bukan merupakan hal baru.

Cara untuk membuat para pegawai termotivasi adalah dengan membuat sebuah budaya yang membuat mereka merasa diberdayakan, yang membuat mereka merasa melakukan hal yang berbeda, yang membuat mereka merasa tertantang sekaligus mendukung mereka. Itu bukanlah hal yang rumit dan Anda tidak harus menyewa konsultan pegawai untuk melakukannya.

Produktivitas individu serta manajamen waktu

Kapan memberdayakan setiap menit waktu produktif Anda menjadi tujuan utama? Sini saya kasih tahu: Jika Anda sulit hidup teratur, bukan orang yang rajin, memiliki ruang kerja yang berantakan, serta tidak rapih bukan berarti bahwa Anda terpuruk dan mengenaskan. Itu hanya berarti bahwa Anda seperti banyak orang sukses dan inovatif yang saya kenal selama beberapa tahun.

Dan jika Anda masih harus mencari sedikit waktu, cukup lakukan seperti apa yang saya lakukan. Kurangi. Kurangi sama dengan menambah. Prioritaskan hal penting. Anda akan menjadi lebih sukses dan lebih bahagia. Cukup seperti itu.

Kecerdasan emosional
Gaya kepemimpinan dan manajemen secara tradisional telah habis. Kini masanya soft skill, siapa yang tidak ingin menjadi seorang CEO yang memiliki empati dan mawas diri? Masalah kecerdasan emosional adalah hal yang sulit diukur.

Jika kecerdasan emosional bisa menjadi alat untuk memprediksi kesuksesan bisnis, lalu bagaimana Anda bisa menghitung kecerdasan emosional Steve Jobs, Bill Gates, Larry Ellison, Larry Page, Mark Zuckerberg, serta puluhan wirausahawan dan eksekutif sukses lainnya?

Kepemimpinan berdasarkan kelebihan

Ini sangat sederhana. Kita hidup dalam masa yang berubah dengan cepat, dunia bisnis yang terus mengalami perubahan. Jika Anda memiliki kelebihan maka Anda mampu mengadaptasinya menjadi keuntungan yang kompetitif, berkonsentrasilah pada hal itu.

Namun, jika Anda memiliki kelemahan yang besar yang mungkin bisa saja membuat Anda dan rekan kerja terpuruk, maka jangan abaikan kelemahan tersebut.

sumber: she.yahoo.com

Fakta dan Mitos Air Minum

January 14, 2013

Tak ada makhluk hidup yang bisa hidup tanpa air. Meski rasanya sederhana, tapi air minum masih menyimpan beberapa mitos dan salah pengertian. Ketahui mana pernyataan yang merupakan fakta dan yang cuma mitos.

1. Orang butuh untuk meminum 8 gelas air per hari.

Mitos. Meskipun air minum mudah didapat dan relatif ekonomis untuk menjaga cairan tubuh, namun sebuah rekomendasi dari Institute of Medicine menyebutkan kebutuhan air minum wanita per hari sekitar 2 liter atau 8 gelas, dan pria sekitar 3 liter atau 12 gelar setiap hari.

Namun, kebutuhan tersebut tak harus dipenuhi seluruhnya dari air putih. Kita juga bisa mendapatkannya dari jenis minuman lain seperti teh, susu, kopi, dan sebagainya. “Tidak ada yang dapat menentukan dari mana saja “delapan gelas air” itu berasal, namun saya percaya itu berasal dari batas wajar perhari yang direkomendasikan,” jelas Georgia Chavent, direktur Program Nutrisi dan Diet dari University of New Haven.

2. Air minum membantu menghilangkan racun-racun dari dalam tubuh.

Fakta. Meskipun air minum tidak sepenuhnya berfungsi untuk menetralkan racun, ginjal membutuhkan air untuk mengeluarkan racun-racun tertentu dari dalam tubuh. Jika Anda tidak meminum cukup air, maka ginjal Anda pun tidak tercukupi kebutuhan cairannya sehingga tidak dapat melakukan tugasnya dengan baik.

“Jika tubuh tidak memiliki cukup air, maka sisa-sisa metabolism tidak akan terbuang secara efisien seperti yang seharusnya,” jelas Amy Hess-Fischl, dari Kovler Diabetes Center, University of Chicago. “Dampaknya adalah tubuh akan menyimpan racun di dalam tubuh, bukan mengeluarkannya. Padahal racun perlu dikeluarkan demi kesehatan.”

3. Air minum botolan dapat menyebabkan gigi keropos.

Mitos. Air minum botolan tidak menyebabkan gigi keropos, namun biasanya air minum botolan tidak mengandung fluoride, yang ditambahkan untuk membantu mencegah pengeroposan gigi.

“Fluoride adalah elemen penting dalam mineralisasi tulang dan gigi,” kata Constance Brown-Riggs, penulis dari buku The African American Guide To Living Well With Diabetes dan ahli gizi dari New York. “Dengan meningkatkan konsumsi air minum botolan, yang tidak ditambahkan fluoride, maka akan terjadi peningkatan kemungkinan pengeroposan gigi.”

4. Air minum dapat membantu menjaga kelembaban kulit.

Mitos. Meskipun air minum dipercaya dapat membuat orang cukup cairan sehingga dapat membantu tetap awet muda dan kulit kencang, faktanya jumlah air yang diminum hanya memiliki sangat sedikit efek untuk membuat kulit tetap lembab. “Meskipun dapat menjaga kecukupan cairan tubuh, namun meminum banyak air tidak dapat mencegah kulit kering,” kata Hess-Fischl.

Pada dasarnya tingkat kelembaban kulit tidak ditentukan pada faktor internal, melainkan faktor eksternal seperti lingkungan dan jumlah kelenjar minyak. Jumlah kelenjar minyak inilah yang menentukan bagaimana tingkat kelembaban kulit. Konsumsi air bahkan tidak dapat mencapai epidermis kulit, yang merupakan bagian kulit terluar.

5. Air minum dapat membantu menurunkan berat badan.

Fakta. Air minum tidak dapat secara khusus memicu penurunan berat badan, namun dapat membantu prosesnya. Air dapat menggantikan minuman berkalori dalam diet, sehingga dapat mengurangi asupan kalori. Air minum juga dapat membuat rasa kenyang sehingga mengurangi nafsu makan. Air minum, terutama air dingin, dapat berperan dalam meningkatkan metabolism.

“Sebuah studi mengatakan air minum dapat mempercepat pengurangan berat badan,” kata Tanya Zuckerbrot, ahli gizi dari New York. “Para peneliti di Jerman menemukan bahwa peserta percobaan dapat meningkatkan kecepatan metabolismenya sebanyak 30 persen setelah meminum sekitar setengah liter air.”

Sumber : Everyday Health

DOA

January 14, 2013

Ada perbedaan mencolok,

Antara mengucapkan doa dan berdoa.

Doa itu lebih dari meditasi.

Fokus meditasi adalah kekuatan diri sendiri,

Tapi fokus doa adalah kekuatan yang lebih besar dari dirinya.